Sejumlah media menyebut pengakuan Kolombia terhadap Dataran Tinggi Golan akan menimbulkan “Krisis diplomatik” dengan negara-negara Arab. Apalagi, Kolombia yang saat ini dipimpin oleh Presiden Abelardo de la Espriella sudah menormalisasi hubungan dengan Israel. Hal ini juga menuai kecaman dari negara-negara tersebut.
Akui Kedaulatan Israel di Golan, Kolombia Banjir Kecaman

- Kolombia mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan pada 10 Agustus 2026, dengan alasan wilayah itu penting bagi pertahanan nasional Israel dari ancaman eksternal.
- Pengakuan tersebut memicu kecaman dari Suriah, Arab Saudi, UEA, Mesir, Qatar, Irak, dan Kuwait, serta berpotensi menimbulkan krisis diplomatik dengan negara-negara Arab.
- Dataran Tinggi Golan secara hukum dan sejarah merupakan wilayah Suriah yang dianeksasi Israel pada 1967; Suriah berjanji menempuh cara diplomatik dan hukum untuk mempertahankannya.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Kolombia dihujani kecaman usai mengakui kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan. Kecaman itu datang dari tujuh negara Arab yang terdiri dari Suriah, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Qatar, Irak, dan Kuwait. Ketujuh negara tersebut ramai-ramai memberikan kecaman ke Kolombia selama beberapa hari terakhir.
1. Kolombia menganggap Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah teritorial Israel
potret Dataran Tinggi Golan (commons.wikimedia.org/שועל) Kolombia sendiri resmi mengumumkan pengakuan kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan pada Senin (10/8/2026). Pengakuan ini diberikan karena Kolombia menganggap Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah teritorial Israel. Oleh karena itu, Bogota mendukung Tel Aviv untuk mempertahankan wilayah tersebut.
“Pemerintah Kolombia mengakui kedaulatan Israel atas wilayah ini (Dataran Tinggi Golan) serta hak negara tersebut untuk melindungi diri dari ancaman eksternal. Kolombia mengakui bahwa mempertahankan kendali dan kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan merupakan komponen penting dari pertahanan nasionalnya,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Kolombia di X dikutip Al Jazeera.
2. Dataran Tinggi Golan sebetulnya merupakan wilayah teritorial Suriah
potret Dataran Tinggi Golan (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en) Namun, Dataran Tinggi Golan sebetulnya bukan wilayah teritorial Israel. Secara hukum dan sejarah, Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah teritorial Suriah. Kendati demikian, sama seperti wilayah Palestina, Dataran Tinggi Golan sudah dianeksasi oleh Israel saat mereka memenangi perang enam hari dengan Suriah pada 1967.
Sebagian besar negara di dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak mengakui kedaulatan dan pendudukan Israel di Dataran Tinggi Golan. Sebab, secara hukum, Suriahlah yang menjadi pemilik sah dari wilayah tersebut. Inilah yang lantas membuat pengakuan Kolombia terhadap kekuasaan Israel di Dataran Tinggi Golan banjir kecaman. Selain Kolombia, Amerika Serikat (AS) yang sudah menjadi sekutu Israel sejak lama juga mengakui kedaulatan Tel Aviv di wilayah tersebut.
3. Suriah berjanji akan mempertahankan Dataran Tinggi Golan

potret bendera Suriah (pexels.com/Ahmed akacha) Menanggapi hal ini, Suriah menegaskan tidak akan tinggal diam. Dalam sebuah pernyataan pada Selasa (11/8/2026), Damaskus berjanji akan mempertahankan Dataran Tinggi Golan dari ancaman aneksasi Israel. Sebab, Israel tidak berhak menganeksasi Golan sama seperti mereka menganeksasi wilayah Palestina.
“Dataran Tinggi Golan adalah bagian integral dari wilayah kami. Mereka (Israel) akan terus menggunakan semua cara diplomatik dan hukum yang sah untuk mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, dan hak-haknya yang telah ditetapkan, serta berupaya untuk memulihkan wilayah-wilayah yang diduduki,” bunyi pernyataan resmi Pemerintah Suriah dilansir Times of Israel.





















