Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Inggris, Prancis, Kanada Kompak Larang Produk Pemukiman Israel
ilustrasi pemanenan lahan pertanian (pexels.com/Wolfgang Weiser)
  • Inggris, Prancis, dan Kanada melarang perdagangan produk dari pemukiman Israel di Tepi Barat untuk menekan ekspansi pemukiman yang dinilai mengancam solusi dua negara.
  • Larangan Inggris hanya menyasar produk pemukiman, terutama hasil pertanian dan anggur, bukan seluruh barang Israel; mekanisme pemisahan asal produk belum dijelaskan rinci.
  • Israel menolak kebijakan tersebut di tengah rencana pembangunan 1.000 rumah baru di Tepi Barat, sementara pejabatnya mengancam langkah balasan terhadap Inggris.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN TimesInggris, Prancis, dan Kanada resmi melarang perdagangan barang buatan pemukiman Israel di Tepi Barat pada Selasa (8/9/2026). Langkah bersama ini diambil untuk menekan ekspansi pemukiman yang dinilai mengancam prospek perdamaian kawasan.

Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menyampaikan keputusan tersebut saat berbicara di Majelis Rendah (House of Commons). Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Inggris harus mengambil tindakan nyata dan tidak bisa lagi sekadar menyuarakan keprihatinan.

“Hari ini kami menolak menjadi penonton terhadap penderitaan lebih lanjut dan penghancuran solusi dua negara,” kata Miliband, dikutip SCMP.

1. Inggris membatasi produk pemukiman Israel

ilustrasi bendera Inggris (pexels.com/James Frid)

Miliband, yang menjabat sejak Juli, menilai pendudukan di Tepi Barat melanggar hukum internasional dan menyebut aksi para pemukim sebagai bentuk pembersihan etnis. Langkah tegas ini diambil di tengah maraknya penggusuran rumah, perusakan fasilitas umum, serta pengusiran warga Palestina dari tanah mereka.

Kebijakan larangan ini sejatinya berfokus pada produk dari area pemukiman saja, bukan seluruh komoditas buatan Israel. Barang-barang yang terdampak umumnya merupakan hasil pertanian, seperti produk segar dan minuman anggur.

Nilai komoditas tersebut relatif kecil dibanding total perdagangan bilateral kedua negara yang mencapai 6 miliar pound sterling (sekitar Rp143,1 triliun). Kendati demikian, mekanisme teknis untuk memisahkan barang asal pemukiman dengan produk Israel lainnya masih belum dijelaskan secara terperinci.

2. Inggris memperbarui hubungan dengan Israel

ilustrasi peta Eropa (pexels.com/Lara Jameson)

Pemerintah Inggris menyebut kebijakan baru ini sebagai bentuk penataan ulang (reset) hubungan diplomasinya dengan Israel. Langkah serupa sebelumnya telah diambil oleh Irlandia, Spanyol, Norwegia, Belgia, dan Belanda.

Kebijakan ini menjadi kelanjutan dari serangkaian keputusan diplomasi Inggris terkait isu Palestina. Sebelumnya, Inggris telah resmi mengakui negara Palestina pada 2025 dan menjatuhkan sanksi bagi jaringan pelaku kekerasan di Tepi Barat.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengonfirmasi bahwa negaranya bersama 11 negara lain ikut menghentikan perdagangan produk pemukiman tersebut. Ia pun mendorong agar Uni Eropa menerapkan kebijakan serupa di tingkat kawasan.

Barrot menyoroti maraknya perluasan pemukiman ilegal serta aksi kekerasan kelompok ekstremis terhadap warga Palestina.

“Mengapa kami melakukan ini? Karena Tepi Barat mendekati titik ledak,” kata Barrot.

3. Israel menolak larangan perdagangan produk pemukiman

Bendera Israel (pexels.com/David Rado)

Sorotan internasional kini tertuju pada proyek pemukiman E1 di dekat Yerusalem yang berpotensi membelah wilayah masa depan Palestina. Di saat bersamaan, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich justru mengumumkan kelanjutan rencana pembangunan 1.000 rumah baru di Tepi Barat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mayoritas negara menganggap pemukiman itu ilegal, meski Israel terus membantahnya.

Keputusan tiga negara tersebut memicu reaksi keras dari jajaran pejabat tinggi Israel. Smotrich mendesak pengusiran Duta Besar Inggris di Tel Aviv, sementara Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menutup konsulat Inggris di Yerusalem Timur. Selain itu, Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar mengancam bakal ada konsekuensi balasan, sedangkan Presiden Isaac Herzog menuduh Inggris ikut campur dalam pemilu Israel pada akhir Oktober mendatang.

Kantor Perdana Menteri maupun Kementerian Luar Negeri Israel sejauh ini belum merilis pernyataan resmi terkait pembatasan perdagangan tersebut. Namun, nada protes dilayangkan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel, Mike Huckabee, dalam wawancaranya dengan BBC.

Huckabee menyebut sanksi tersebut sebagai bentuk diskriminasi terhadap bangsa Yahudi. Dilansir dari NPR, ia mempertanyakan mengapa sanksi senada tidak dijatuhkan kepada Korea Utara, China, atau Rusia, sembari memperingatkan potensi hambatan bisnis bagi perusahaan Inggris di sejumlah negara bagian AS.

Merespons dinamika ini, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham telah berdiskusi langsung dengan Presiden AS Donald Trump mengenai komitmen Inggris terhadap keamanan kawasan dan solusi dua negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article