Bendera Israel (pexels.com/David Rado)
Sorotan internasional kini tertuju pada proyek pemukiman E1 di dekat Yerusalem yang berpotensi membelah wilayah masa depan Palestina. Di saat bersamaan, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich justru mengumumkan kelanjutan rencana pembangunan 1.000 rumah baru di Tepi Barat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mayoritas negara menganggap pemukiman itu ilegal, meski Israel terus membantahnya.
Keputusan tiga negara tersebut memicu reaksi keras dari jajaran pejabat tinggi Israel. Smotrich mendesak pengusiran Duta Besar Inggris di Tel Aviv, sementara Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menutup konsulat Inggris di Yerusalem Timur. Selain itu, Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar mengancam bakal ada konsekuensi balasan, sedangkan Presiden Isaac Herzog menuduh Inggris ikut campur dalam pemilu Israel pada akhir Oktober mendatang.
Kantor Perdana Menteri maupun Kementerian Luar Negeri Israel sejauh ini belum merilis pernyataan resmi terkait pembatasan perdagangan tersebut. Namun, nada protes dilayangkan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel, Mike Huckabee, dalam wawancaranya dengan BBC.
Huckabee menyebut sanksi tersebut sebagai bentuk diskriminasi terhadap bangsa Yahudi. Dilansir dari NPR, ia mempertanyakan mengapa sanksi senada tidak dijatuhkan kepada Korea Utara, China, atau Rusia, sembari memperingatkan potensi hambatan bisnis bagi perusahaan Inggris di sejumlah negara bagian AS.
Merespons dinamika ini, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham telah berdiskusi langsung dengan Presiden AS Donald Trump mengenai komitmen Inggris terhadap keamanan kawasan dan solusi dua negara.