Menhan Sudan Sambangi Kemhan, Tertarik Senjata Ringan Buatan Pindad

- Menhan Sudan Hassan Daoud Kabroun Kayan bertemu Menhan Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta untuk membahas peluang kerja sama pertahanan, termasuk pendidikan personel Sudan di Universitas Pertahanan.
- Sudan menawarkan kerja sama ketahanan pangan melalui potensi lahan pertanian dan peternakan, sementara Kayan menunjukkan ketertarikan pada senjata ringan produksi PT Pindad.
- Kerja sama pertahanan bilateral masih disusun dan ketentuan teknis akan dibahas dalam working group; Indonesia juga telah mengirim bantuan kemanusiaan bagi warga Sudan terdampak perang saudara.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada Rabu (9/9/2026) menerima kunjungan dari Menhan Sudan Letnan Jenderal Hassan Daoud Kabroun Kayan di kantor Kemhan, Jakarta Pusat. Kedatangan Kayan disambut dengan lantunan lagu kebangsaan Sudan yaitu Nahnu Jund Allah Jund Al Watan. Ini merupakan kali pertama Menhan Kayan melakukan kunjungan resmi ke Jakarta.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait kedua Menhan berbicara mengenai peluang kerjasama yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara, khususnya di bidang pertahanan. Sudan, kata Rico, menyampaikan keinginan untuk membuka kembali kesempatan bagi personel militernya agar bisa mengikuti pendidikan di Indonesia.
"Salah satu kampus yang bisa menerima personel Sudan yakni Universitas Pertahanan," ungkap Rico pada siang ini.
Jenderal bintang satu itu menyebut Sudan juga menawarkan peluang kerjasama di bidang ketahanan pangan. Sudan, kata Rico, menyampaikan sejumlah potensi yang mereka miliki.
"Sudan mengatakan mereka memiliki lahan pertanian yang luas dan subur serta sektor peternakan yang jauh lebih besar. Potensi tersebut ditawarkan untuk dapat dijajaki bersama. Apalagi Indonesia sedang mengerjakan program ketahanan pangan," tutur dia.
1. Menhan Sudan berminat terhadap senjata ringan buatan Pindad

Menhan Sudan Letjen Hassan Daoud Kabroun Kayan (kiri) dan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin ketika berbicara kepada media. (IDN Times/Santi Dewi) Lebih lanjut, Rico mengatakan Menhan Kayan terlihat berminat saat ditunjukan senjata ringan buatan PT Pindad. Meskipun belum ada pernyataan ingin memesan langsung.
"Tadi sewaktu hadir, Menhan Sudan juga melihat secara langsung beberapa senjata ringan yang disampaikan oleh PT Pindad. PT Pindad menyampaikan beberapa karakteristik senjata yang diproduksi langsung oleh Indonesia," kata Rico.
"Mereka terlihat cukup tertarik (memesan)," imbuhnya.
Meski begitu, Indonesia dan Sudan perlu menandatangani terlebih dahulu kerjasama pertahanan (Defence Cooperation Arrangement). Dokumen formal kerjasama pertahanan bilateral, kata Rico, masih disusun.
"Aspek kelembagaan dan kerangka kerjasamanya akan dibicarakan lebih lanjut," tutur dia.
2. Indonesia ikut terlibat pengiriman bantuan kemanusiaan bagi Sudan

Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait ketika berada di Sulawesi Utara. (Dokumentasi Kementerian Pertahanan) Rico juga menyebut Indonesia ikut menunjukkan kepedulian terhadap Sudan yang masih didera perang saudara sejak 2023. Indonesia telah mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi warga Sudan dimulai dari obat-obatan, peralatan kesehatan, tenda darurat dan hingga bahan pangan.
"Kami berharap perdamaian, keamanan dan stabilitas juga segera terwujud di Sudan. Keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Sudan akan senantiasa menjadi perhatian utama," kata Rico.
Perang saudara di Sudan dipicu perebutan kekuasaan politik dan kendali sumber daya antara dua faksi militer utama yakni Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Akibat perang saudara yang berlangsung sejak April 2023, sekitar 14 juta warga Sudan terpaksa mengungsi.
3. Ketentuan kerjasama pertahanan dengan Sudan akan dibahas di working group

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) ketika menerima kunjungan Menteri Pertahanan Sudan, Letnan Jenderal Hassan Daoud Kabroun Kayan di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat. (IDN Times/Santi Dewi) Ketika ditanyakan apakah Indonesia akan meminta Sudan agar senjata buatan Indonesia tidak digunakan dalam konflik perang saudara, Rico menyebut hal teknis tersebut akan dibahas di proses working group dengan lembaga lain khususnya terkait industri pertahanan.
"Sekarang, Sudan sudah menjadi negara yang berdaulat dan diakui oleh negara-negara lainnya. Tentu, ada batasan-batasan atau lingkup kerjasama yang diberikan, khususnya terkait dengan senjata yang diproduksi dari Indonesia," ungkap Rico.
Ia pun menyebut Indonesia menjunjung tinggi prinsip politik luar negeri bebas aktif. Di bidang pertahanan pun, kata Rico, Indonesia menganut prinsip defensif aktif.
"Indonesia tidak akan terlibat di dalam konflik-konflik internal suatu negara atau blok-blok tertentu sehingga terkait diplomasi pertahanan, pemerintah sangat menjaga semua keputusan kebijakan pertahanan dalam melihat konteks secara regional maupun lingkungan global," tutur dia.





















