Irak Rayakan Penarikan Tentara AS dari Negaranya Setelah 23 Tahun

- PM Irak Ali al-Zaidi merayakan penarikan tentara AS setelah 23 tahun sebagai awal fase kedaulatan penuh, penguatan institusi, dan kesiapan militer nasional.
- Pemerintah Irak menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kedaulatan, sambil mempertahankan hubungan baik serta meningkatkan kerja sama ekonomi dengan AS, termasuk pemulihan pipa Irak-Suriah.
- Ulama Syiah Muqtada al-Sadr menuntut kompensasi AS atas kerusakan okupasi, sementara IRGC Iran menyebut penarikan itu kemenangan bersejarah dan mendesak AS meninggalkan Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Irak, Ali al-Zaidi merayakan penarikan tentara Amerika Serikat (AS) dari negaranya. Menurutnya, penarikan tentara ini menunjukkan awal baru bagi negaranya untuk lebih berdaulat.
“Sebuah fase baru sudah dimulai yang ditandai dengan kedaulatan Irak sepenuhnya, memperkuat institusi dan kesiapan tentara, persatuan keputusan, dan keseimbangan kerja sama dengan rekan-rekan,” tuturnya, dikutip dari Middle East Eye, Jumat (2/10/2026).
Irak pertama kali diduduki oleh AS pada 2003 usai penggulingan eks Presiden Irak, Saddam Hussein. Sebenarnya, militer AS sudah ditarik pada 2011, tapi kembali lagi atas permintaan pemerintah Irak pada 2014 imbas ancaman ISIS.
1. Tetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kedaulatan
Zaidi mengatakan bahwa 1 Oktober akan dijadikan sebagai Hari Kedaulatan di Irak. Sebab, tanggal ini tepat sebagai sejarah baru ke arah kedaulatan Irak sepenuhnya usai kepergian tentara asing di negaranya.
“Ini adalah tanggal bersejarah yang memastikan kedaulatan Irak dan konsolidasi keberadaan negara dan institusinya secara mandiri,” ungkapnya.
Namun, Zaidi mengatakan hubungan negaranya dengan AS akan tetap baik. Irak akan meningkatkan hubungan ekonomi dengan AS dengan pemulihan pipa dari Irak ke Suriah.
2. Ulama Syiah Irak desak AS membayar kompensasi
Pada saat yang sama, Ulama Syiah Irak, Muqtada al-Sadr mengungkapkan bahwa AS harus membayar kompensasi kepada warga Irak atas kerusakan yang ditimbulkannya. Ia pun mengapresiasi atas kepergian tentara AS dan memulai kemerdekaan Irak sepenuhnya.
“Kami menginginkan kompensasi dari tentara Amerika atas segala kerusakan yang disebabkannya sebagai bagian dari okupansi di tanah Irak. Semua harus mengajukan gugatan atas kasus ini,” tuturnya.
3. IRGC rayakan penarikan tentara AS
Tentara Garda Revolusioner Iran (IRGC) merayakan penarikan tentara AS dari Irak. Mereka menganggap penarikan ini sebagai kemenangan bersejarah dan mendorong agar Washington menarik seluruh tentaranya dari Timur Tengah.
Dilansir Daily Sabah, IRCG menyebut bahwa AS seharusnya membiarkan masing-masing negara mengatur keamanannya sendiri. Menurutnya, kehadiran tentara AS di Timur Tengah terbukti tidak memberikan keamanan, tapi justru menjadi sumber terorisme dan instabilitas.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















