Pasukan AS Resmi Tinggalkan Irak, Akhiri Misi 2 Dekade

- Seluruh personel militer AS dijadwalkan mengosongkan pangkalan terakhir di Irak paling lambat 30 September 2026, menutup operasi yang berlangsung sejak invasi 2003.
- Penarikan berdasarkan kesepakatan 2024 memicu kekhawatiran warga tentang kekosongan kekuasaan, sementara milisi sekutu Iran diperkirakan memperluas pengaruh politik dan keamanan Irak.
- Pejabat Irak dan Kurdi memperingatkan penghentian logistik, drone, serta intelijen AS dapat membuka ruang kebangkitan sel tidur ISIS, termasuk rencana bom bunuh diri.
Jakarta, IDN Times - Seluruh personel militer Amerika Serikat (AS) bersiap menyelesaikan misi pertahanan mereka di Irak. Pasukan asing tersebut diberi tenggat waktu hingga Rabu (30/9/2026) untuk mengosongkan pangkalan terakhir di negara tersebut.
Pemulangan ini secara resmi menandai berakhirnya operasi militer AS yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Keputusan strategis tersebut diyakini akan membuka babak baru dalam peta politik dan sistem keamanan di kawasan Timur Tengah.
1. Akhir operasi militer AS picu kekhawatiran warga lokal

personel militer AS menurunkan bantuan di Pangkalan Udara El Libertador, Venezuela (U.S. Marines 24MEU by Lance Cpl. Allison White, Public domain, via Wikimedia Commons) Penarikan penuh pasukan AS merupakan bagian dari kesepakatan tahun 2024 pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Kebijakan ini berlanjut pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump, di tengah ketegangan bersenjata yang masih berlangsung antara AS dan Iran.
Langkah ini mengakhiri operasi militer yang dimulai sejak invasi tahun 2003 dan telah menewaskan lebih dari 4.500 prajurit AS. Sejumlah tokoh masyarakat khawatir pemerintah lokal belum siap menjaga stabilitas tanpa bantuan asing.
"Semua warga Irak mendambakan kedaulatan, tetapi mereka takut kepergian pasukan asing akan menciptakan kekosongan kekuasaan," ujar tokoh masyarakat Fallujah, Abdulrahman al-Zobaie, dilansir India Today.
2. Pengaruh strategis Iran menguat seiring kepergian pasukan AS

lokasi jalur pipa minyak Irak-Turki (commons.wikimedia.org/Amirki) Kelompok bersenjata di Irak menyambut pengosongan pangkalan militer asing tersebut sebagai kemenangan bersejarah. Tanpa kehadiran AS, kekuatan penyeimbang yang selama ini menahan dominasi Iran di Irak dipastikan hilang.
Pakar keamanan memperkirakan milisi sekutu Iran akan memanfaatkan kondisi ini untuk memperluas pengaruh dalam kebijakan politik dan keamanan nasional Irak. Pemerintah Iran pun menyambut positif penghentian misi pasukan asing tersebut.
"Keamanan abadi akan tercipta di Irak dan seluruh kawasan begitu pasukan Amerika pergi," kata Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Amir Hayat Moqaddam.
3. Ancaman kebangkitan sel tidur ISIS membayangi stabilitas keamanan

ilustrasi anggota ISIS (pexels.com/Specna Arms) Perwira militer Irak dan pejabat wilayah Kurdi mengkhawatirkan potensi ancaman dari jaringan sel tidur ISIS. Dihentikannya bantuan logistik, pengawasan drone, dan data intelijen dari AS memberi celah bagi kelompok radikal untuk bangkit kembali.
Aktivitas mencurigakan jaringan teroris ini mulai terpantau sejak jadwal penarikan pasukan diumumkan. Kepastian mundurnya tentara asing dinilai memicu kembali pergerakan kelompok tersebut di lapangan. Dinas intelijen Irak bahkan telah mendeteksi rencana aksi bom bunuh diri yang dirancang bertepatan dengan momen penarikan pasukan AS.
"ISIS berupaya mengirim pesan bahwa mereka masih sangat kuat dan mampu melancarkan serangan berdarah," ungkap pejabat keamanan Kirkuk, Kolonel Khalid al-Bayati.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















