Jakarta, IDN Times – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menghantam infrastruktur energi penting di Timur Tengah. Aksi saling serang itu terjadi setelah nota kesepahaman gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada Juni runtuh, sementara dampaknya langsung dirasakan Kuwait yang menjadi lokasi sejumlah aset militer AS.
Dilansir Anadolu Agency, Kuwait Petroleum Corporation (KPC) melaporkan salah satu fasilitas minyak penting mereka menjadi saran rentetan serangan Iran pada Sabtu (18/7/2026) pagi. Serangan itu menyebabkan kerusakan material yang signifikan dan menimbulkan korban luka. Pernyataan resmi KPC yang disiarkan kantor berita Kuwait News Agency (KUNA) menyebut korban luka telah memperoleh penanganan medis, lokasi dievakuasi, dan penanganan serangan dilakukan bersama otoritas terkait.
Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait juga mengonfirmasi kebakaran di fasilitas pembangkit listrik serta desalinasi air akibat serangan tersebut. Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Brigadir Jenderal Saud Al-Otaibi, menyatakan hantaman rudal dan drone memicu kerusakan yang sangat parah.
