Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ilham Habibie Ungkap Abu Vulkanik Bisa Ganggu Instrumen Pesawat

Ilham Habibie Ungkap Abu Vulkanik Bisa Ganggu Instrumen Pesawat
Ilham Habibie saat wawancara khusus dengan IDN Times. (IDN Times/Krisna)
  • PII mengapresiasi penghentian, pengalihan, dan pembatalan penerbangan saat abu Anak Krakatau menyebar 4–6 September 2026; operasional penerbangan dilaporkan kembali normal pada 9 September.
  • Ilham Habibie menjelaskan abu vulkanik dapat merusak mesin, menyumbat pitot tube, mengganggu instrumen dan jarak pandang, serta mengurangi efektivitas pengereman di landasan.
  • Status Anak Krakatau masih Level III Siaga. PVMBG terus memantau erupsi, lontaran pijar hingga tiga kilometer, abu, dan potensi longsoran; masyarakat diminta mengikuti informasi serta zona resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengapresiasi keputusan sejumlah otoritas bandara yang menghentikan sementara hingga membatalkan penerbangan ketika Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. Aktivitas erupsi susulan masih berlangsung hingga Rabu (9/9/2026).

PII juga menyampaikan keprihatinan kepada masyarakat yang merasakan dampak dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Langkah mitigasi dinilai penting untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat maupun penerbangan di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik. Kini, aktivitas penerbangan di Indonesia sudah normal pada Rabu (9/9/2026).

Ketua Umum PII, Ilham Akbar Habibie, mengatakan, tindakan otoritas bandara di sejumlah daerah sudah sesuai dengan kebutuhan keselamatan penerbangan. Beberapa bandara sempat menghentikan operasional setelah abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menyebar pada 4-6 September 2026.

“Penghentian penerbangan saat terjadi erupsi sudah tepat, untuk menghindari bahaya penerbangan ketika terjadi persebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski demikian saya menyampaikan simpati dan keprihatinan kepada masyarakat yang terdampak akibat erupsi ini,” ujar Ilham dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

  1. 1. Abu vulkanik bisa ancam keselamatan penerbangan

    Ilham Habibie saat wawancara khusus dengan IDN Times.
    Ilham Habibie saat wawancara khusus dengan IDN Times. (IDN Times/Krisna)

    Sebagai ahli teknologi penerbangan, Ilham mengatakan, abu vulkanik memiliki karakteristik yang dapat mengancam keselamatan pesawat. Partikel silika dalam abu bersifat keras dan tahan terhadap suhu tinggi sehingga berisiko masuk ke dalam mesin jet.

    Material tersebut dapat menyebabkan sejumlah gangguan pada mesin, mulai dari pengikisan komponen hingga terganggunya aliran udara. Dalam kondisi tertentu, paparan abu vulkanik juga dapat memicu compressor stall, penurunan tenaga mesin, bahkan menyebabkan mesin berhenti bekerja.

    “Abu dari erupsi gunung itu juga dapat menyumbat pitot tube dan mengganggu instrumen penerbangan, mengikis permukaan pesawat, serta menurunkan kinerja aerodinamis,” kata Ilham Habibie.

    Risiko abu vulkanik tidak hanya berkaitan dengan mesin pesawat. Partikel tersebut juga dapat mengurangi jarak pandang sehingga menyulitkan pilot selama berada di kokpit.

    Abu yang jatuh dan menumpuk di landasan pacu juga bisa menimbulkan persoalan lain. Endapan tersebut dapat menurunkan efektivitas pengereman pesawat dan kembali beterbangan ketika landasan digunakan.

    “Oleh karena itu, potensi penyebaran abu vulkanik di sekitar jalur penerbangan meningkatkan risiko keselamatan, dan harus dihindari. Saya sebagai pribadi dan atas nama PII mengapresiasi para otoritas bandara yang melakukan perubahan rute, penundaan, pengalihan, bahkan pembatalan penerbangan sesuai kondisi, demi keselamatan penerbangan,” ucap dia.

  2. 2. Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipantau

    Helikopter Dauphin Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda
    Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung).

    Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian Badan Keahlian Kebumian PII. Guru Besar Ilmu Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harjoko, mengatakan, pemantauan aktivitas gunung api terus dilakukan PVMBG melalui pos pengamatan di Kalianda, Lampung, serta Pasauran, Serang.

    Status Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Menurut Agung, aktivitas erupsi hingga 5 September 2026 memperlihatkan karakter strombolian dengan gejala berupa semburan maupun lontaran batu pijar dan serpihan magma.

    “Pemantauan PVMBG terhadap kubah lava menunjukkan ukuran kubah magma masih kecil dan tidak terdapat indikasi potensi keruntuhan. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai dan dipantau secara berkelanjutan,” ujar Agung.

    Agung menilai aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih memiliki karakter yang relatif sebanding dengan erupsi yang terjadi dalam tiga dekade terakhir. Aktivitas tersebut berada pada kisaran indeks eksplosivitas gunung api atau VEI 1–3.

    Dengan karakter erupsi seperti itu, dampak yang muncul umumnya berada di sekitar kawasan gunung api. Meski demikian, potensi bahaya tetap perlu diperhatikan seiring perkembangan aktivitas vulkanik.

  3. 3. Waspada lontaran material dan abu vulkanik

    Penampakan Gunung Anak Krakatau erupsi (Dok. esdm.go.id)
    Penampakan Gunung Anak Krakatau erupsi (Dok. esdm.go.id)

    Lontaran material pijar menjadi salah satu bahaya utama yang perlu diantisipasi di sekitar Gunung Anak Krakatau. Radius lontaran material tersebut diperkirakan dapat mencapai sekitar tiga kilometer dari pusat aktivitas.

    Selain ancaman material pijar, abu vulkanik juga memiliki dampak terhadap penerbangan dan kesehatan masyarakat. Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu memperhatikan informasi serta rekomendasi dari otoritas terkait.

    Ancaman lain yang turut diperhitungkan ialah kemungkinan runtuhan atau longsoran tubuh gunung api. Peristiwa serupa pernah terjadi pada 2018 dan menjadi salah satu risiko yang perlu terus dipantau meski kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini belum memperlihatkan indikasi longsoran.

    “Gunung api yang berada di tengah laut dapat menimbulkan bahaya yang lebih luas apabila terjadi longsoran tubuh gunung api seperti pada 2018 atau erupsi eksplosif seperti yang terjadi pada 1883. Jika terjadi tsunami vulkanik, wilayah yang berpotensi terdampak terutama pesisir Jawa Barat serta Lampung bagian barat dan selatan,” kata Agung.

    Pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan, termasuk mengamati perubahan bentuk tubuh gunung api. Langkah tersebut penting untuk mendeteksi lebih dini potensi perubahan yang dapat memicu bahaya ikutan.

    Agung juga mengingatkan masyarakat untuk memeriksa kembali informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui sumber resmi. Informasi dari Badan Geologi melalui PVMBG menjadi salah satu rujukan utama yang perlu diperhatikan masyarakat.

    Masyarakat juga diminta mematuhi zona bahaya yang telah ditetapkan serta mengikuti perkembangan laporan pemantauan harian PVMBG. Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi terbaru gunung api.

    “Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Karena itu, jangan mendekati zona bahaya, jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan selalu ikuti arahan resmi pemerintah serta PVMBG,” ucap Agung.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More