Executive Director Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad, menyampaikan El Nino memang dapat menjadi pemantik yang memperparah kebakaran. Namun, besarnya dampak karhutla berkaitan dengan perubahan ekosistem dan tata kelola lahan yang membuat kawasan lebih rentan terbakar.
Karhutla Meluas, Madani Duga Ada Kegagalan Tata Kelola Lahan

- Yayasan Madani Berkelanjutan menilai El Nino hanya pemantik karhutla, sementara kebijakan, tata kelola, perizinan, dan perubahan ekosistem membuat lahan makin rentan terbakar.
- Analisis Madani menunjukkan lebih dari 50 persen area terbakar berada di wilayah perizinan dan konsesi, termasuk hutan terkonversi, gambut yang dikeringkan, serta ekosistem monokultur.
- Karhutla disebut mencerminkan kegagalan mitigasi yang seharusnya dilakukan sejak El Nino diprediksi; asap dan hilangnya penghidupan paling dirasakan kelompok rentan, masyarakat adat, serta komunitas lokal.
Jakarta, IDN Times – Yayasan Madani Berkelanjutan menyelenggarakan diskusi umum terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, dengan mengusung tema “Sudah Jatuh, Tertimpa Asap”, yang diselenggarakan via daring, Kamis (10/9/2026).
“Emang El Nino itu adalah pemantik. Tapi bahan bakarnya ini diciptakan oleh kebijakan, tata kelola, perizinan, dan lain-lain, yang tidak siap sedia untuk bisa siaga,” ujar Nadia.
Berdasarkan analisis yang dipaparkan, Nadia juga menyebutkan, lebih dari 50 persen lahan yang terbakar berada di wilayah perizinan dan konsesi.
1. Lebih dari 50 persen area terbakar berada di wilayah konsesi

Petugas karhutla temukan alat berat pembukaan hutan ilegal. (IDN Times/istimewa). Data yang dipaparkan dalam Madani Berkelanjutan menunjukkan lebih dari 50 persen lahan terbakar berada di wilayah perizinan dan konsesi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran tidak hanya terjadi secara acak di kawasan hutan. Sebagian area yang terbakar justru berada di wilayah yang sebelumnya mengalami perubahan tata guna lahan.
“Dan ini jelas dianalisanya. Jadi di hutan-hutan yang sudah dikonversi, di gambut, di gambut yang dikeringkan. Ekosistem ini yang sudah berubah jadi monokultur seperti sawit dan lain-lain” kata dia.
Menurut Nadia, fakta ini menunjukkan pentingnya melihat bagaimana lahan dikelola, termasuk kebijakan dan sistem perizinan yang berlaku.
2. Karhutla dinilai menunjukkan kegagalan sistem

Suasana karhutla di Kalbar. (IDN Times/adpim). Nadia juga menilai karhutla bukan sekadar bencana alam yang tidak dapat dicegah, dan menyebut kebakaran sebagai persoalan yang berkaitan juga dengan kegagalan sistem.
Menurut Nadia, kondisi El Nino seharusnya dapat diprediksi. Dengan adanya prediksi tersebut, pemerintah dan pihak terkait semestinya dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan mitigasi sebelum kebakaran meluas.
"Harusnya bisa diprediksi untuk bisa mengatasi, memitigasi supaya tidak terjadi kebakaran," katanya.
Dengan demikian, kata Nadia, kemunculan El Nino seharusnya menjadi peringatan untuk memperkuat pencegahan, bukan menjadi alasan setelah kebakaran terjadi.
Kemarau panjang dan El Nino memang memperburuk situasi kebakaran. Namun, kata Nadia, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya penyebab karhutla yang terjadi.
3. Masyarakat lokal justru ikut menanggung dampaknya

Kondisi Kota Palembang yang diselimuti kabut asap akibat Karhutla. (IDN Times Rangga Efrizal) Meluasnya kebakaran tidak hanya berdampak pada lingkungan. Akan tetapi, kata Nadia, juga pada masyarakat yang tinggal di kawasan hutan harus menghadapi asap dan kehilangan sumber penghidupan.
Nadia menyebut kelompok yang rentan seperti anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat adat dan komunitas lokal, disebut menjadi kelompok yang ikut menanggung dampak besar.
Padahal, menurut Nadia, masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini mengelola kawasan dengan kearifan lokal, disebut bukan sebagai akar masalah kebakaran.
“Mereka yang hidup di hutan selama berabad-abad, mereka bukan sebagai penyebab kebakaran ini. Karena emang praktik pengolahan lahan mereka kan sudah berdasarkan kearifan lokal justru menjaga ekosistem. Padahal mereka hampir sama sekali tidak berkontribusi terhadap penyebab kebakaran,” tegas Nadia.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya ketidakadilan, karena kelompok yang bahkan tidak berkontribusi terhadap penyebab kebakaran justru ikut menerima dampak yang besar.




















