Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Iran Serang Pangkalan AS di Yordania dan UEA usai Bom di Pulau Larak
ilustrasi rudal balistik (pexels.com/Moslem Daneshzadeh)
  • Iran mengklaim menyerang pangkalan AS di Yordania dan Pangkalan Udara Al Minhad, UEA, dengan puluhan drone sebagai balasan atas pengeboman AS di Pulau Larak.
  • Pengeboman AS terhadap dua peluncur roket Iran di Pulau Larak dilaporkan menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya, memperburuk konflik yang berlangsung lebih dari enam bulan.
  • UEA membantah serangan terhadap Al Minhad, namun mengonfirmasi pencegatan satu drone Iran; di Selat Hormuz, supertanker terbakar, sementara EASA memperpanjang peringatan penerbangan hingga 30 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Iran mengklaim telah meluncurkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Yordania dan instalasi militer AS di Pangkalan Udara Al Minhad, Uni Emirat Arab (UEA), pada Senin (31/8/2026). Langkah tersebut dilakukan militer Iran sebagai bentuk balasan atas aksi militer AS yang membom dua peluncur roket milik Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, pada Minggu (30/8/2026) malam.

Serangan AS di Pulau Larak tersebut mengakibatkan dua orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka di pihak Iran. Peristiwa saling serang ini semakin memperburuk ketegangan konflik yang telah berlangsung selama lebih dari enam bulan. Dilansir Saudi Gazette, militer Iran mengarahkan puluhan pesawat nirawak (drone) ke sasaran militer AS untuk membalas jatuhnya korban jiwa di pulau tersebut.

1. Iran klaim balaskan serangan AS di Pulau Larak

ilustrasi konflik AS-Israel dengan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Pasukan AS dilaporkan menyerang dua peluncur roket milik Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026) malam. Pejabat AS mengonfirmasi bahwa lokasi pengeboman tersebut terletak sekitar 660 kilometer di sebelah timur Pulau Kharg.

Pemerintah Iran merespons tindakan tersebut dengan menggempur markas militer AS di Yordania dan UEA pada Senin (31/8/2026) dini hari. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan pangkalan AS di Yordania yang diserang merupakan fasilitas pendukung aksi pengeboman di Pulau Larak.

Tentara Iran menyatakan bahwa serangan drone ke Pangkalan Udara Al Minhad di UEA difokuskan pada area penempatan pasukan dan helikopter militer AS. Langkah ini diambil setelah dua orang dilaporkan tewas dan beberapa lainnya cedera akibat gempuran AS di Pulau Larak.

Eskalasi pertempuran pada Minggu ini terjadi setelah pemerintahan Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dan mitra bisnisnya melalui sanksi-sanksi baru, di tengah intensifikasi upaya para mediator untuk melanjutkan negosiasi damai.

2. Bantahan UEA dan eskalasi konflik di kawasan Teluk

bendera Uni Emirat Arab (unsplash.com/Alicja Ziajowska)

Kementerian Pertahanan UEA memberikan tanggapan atas klaim serangan yang disampaikan media Iran melalui akun resmi media sosial X. Pihak kementerian dengan tegas membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai kabar tidak benar.

Kementerian Pertahanan UEA mengimbau agar "masyarakat mengandalkan sumber resmi untuk mendapatkan informasi dan menahan diri dari menyebarkan rumor atau informasi yang tidak akurat". Namun, kementerian kemudian mengonfirmasi angkatan udara UEA berhasil mencegat satu drone dari arah Iran di atas wilayah perairan mereka.

Penasihat Presiden UEA, Anwar Mohammed Gargash, mengecam keras peningkatan eskalasi militer yang kembali terjadi di kawasan tersebut. Dia menegaskan, "Kebijakan menargetkan negara-negara Teluk Arab dan Yordania telah terbukti gagal".

Gargash menambahkan bahwa penyelesaian ketegangan harus ditempuh melalui jalur perundingan dan penghentian bentrokan. Menurutnya, "Solusi politik harus dimulai dengan de-eskalasi dan memulihkan pelayaran normal melalui Selat Hormuz".

3. Kapal tanker terbakar di Selat Hormuz dan peringatan EASA

Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Di tengah ketegangan yang memuncak, sebuah kapal supertanker terbakar hingga berhenti total di sebelah selatan Selat Hormuz pada Senin (31/8/2026). Stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan kapal tersebut dihantam dua ranjau laut karena mencoba melintas secara ilegal.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tidak mengungkapkan identitas kapal maupun rincian kondisi awak kapal yang terkena ranjau tersebut. IRGC hanya memberi peringatan bahwa kapal lain yang melanggar aturan keamanan akan menghadapi nasib serupa.

Menanggapi situasi keamanan di kawasan, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (European Union Aviation Safety Agency/EASA) memperpanjang peringatan penerbangan hingga 30 September 2026. Peringatan ini memperbarui imbauan sebelumnya yang merekomendasikan penerbangan menghindari seluruh wilayah udara negara-negara tersebut menjadi hanya wilayah udara di atas perairan Teluk Arab di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA. EASA juga meminta maskapai untuk tidak beroperasi di atas perairan Teluk Oman dalam wilayah informasi penerbangan Muscat (Oman).

Meski mencabut rekomendasi larangan terbang penuh di wilayah udara Yordania, EASA meminta maskapai tetap berhati-hati saat melintasi kawasan tersebut hingga 30 September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article