Ribuan Korban Banjir Nepal Hilang, Bantuan Asing Terus Berdatangan

- Banjir Bhotekoshi di Nepal menewaskan 903 orang hingga 1 September 2026, dengan sekitar 4.200 warga dan 590 warga asing masih hilang; lebih dari 10 ribu orang telah diselamatkan.
- Nepal meminta bantuan teknis dan logistik internasional, termasuk tim penyelamat terowongan, ahli forensik DNA, kantong jenazah, LiDAR, drone, jembatan Bailey, serta pasokan darurat.
- Nepal memperkuat koordinasi lintas batas dengan China untuk pemulangan warga dan pemantauan risiko bencana susulan, sementara berbagai negara serta lembaga internasional mendukung pemulihan dan rekonstruksi.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nepal secara proaktif meminta bantuan teknis dan logistik dari negara-negara sahabat untuk mempercepat penanganan pascabencana banjir Bhotekoshi yang menerjang sejak Rabu (26/8/2026). Langkah ini diambil setelah skala kerusakan infrastruktur serta medan ekstrem menghambat operasi pencarian korban.
Hingga Selasa (1/9/2026) tim penyelamat telah menemukan 903 jenazah dari lokasi bencana, sementara sekitar 4.200 warga masih belum ditemukan. Menurut Lembaga Pariwisata Nepal, sekitar 590 warga negara asing dari 32 negara juga masih dinyatakan hilang. Lebih dari 10 ribu orang berhasil diselamatkan, termasuk lebih dari 323 warga negara asing. Namun, pemerintah Nepal membutuhkan keahlian forensik dan teknologi canggih asing untuk mengidentifikasi korban serta menjangkau area terisolasi.
1. Tim evakuasi terowongan dan ahli forensik diterjunkan ke Nepal

ilustrasi tim penyelamat (unsplash.com/Harish Bharti) Negara tetangga seperti India dan China telah menerjunkan tim penyelamat khusus terowongan untuk menyisir kawasan proyek pembangkit listrik tenaga air di lokasi terdampak. Tim yang terdiri dari 11 personel asal India dikerahkan di Mailung pada area Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Chilime, sedangkan sembilan personel asal China bertugas di proyek Upper Trishuli 3A di Syabrubesi.
Bantuan India juga mencakup pengerahan 18 personel ahli forensik spesialis analisis DNA untuk percepatan identifikasi korban. "Tim telah tiba di Kathmandu dan bekerja sama dengan Laboratorium Sains Forensik Pusat Kepolisian Nepal serta Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan untuk menganalisis sampel DNA," kata Duta Besar India Naveen Srivastava melalui akun X miliknya, dilansir The Kathmandu Post.
Selain India, Kepolisian Singapura juga tengah bersiap menerjunkan personel yang terlatih dalam pengidentifikasian korban bencana. Singapura juga akan menyalurkan bantuan kemanusiaan dari sumber sipil serta Angkatan Bersenjata Singapura (Singapore Armed Forces). Untuk menjaga jenazah yang belum teridentifikasi, Nepal telah menerima kantong jenazah kedap udara dari India dan China, serta mengajukan permohonan bantuan pendingin jenazah tambahan.
Seorang pejabat di sebuah misi diplomatik asing di Nepal mengonfirmasi perubahan pendekatan pemerintah lokal yang kini lebih terbuka terhadap dukungan luar negeri. "Pemerintah Nepal menjadi lebih proaktif sejak Minggu dalam mencari bantuan logistik dan teknis dari pemerintah asing," ujar pejabat tersebut kepada The Kathmandu Post.
2. Peralatan canggih dan pemetaan udara disiagakan di lokasi bencana

ilustrasi drone (unsplash.com/Jonas) Pemerintah Nepal juga mulai mempertimbangkan penggunaan teknologi canggih untuk memetakan wilayah yang sulit dijangkau. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Poudel Chhetri, menyampaikan bahwa Nepal telah meminta bantuan peralatan Light Detection and Ranging (LiDAR) dari Amerika Serikat, serta kit uji DNA dan barang bantuan nonpangan lainnya.
Teknologi LiDAR tersebut memanfaatkan pulsa laser untuk menghasilkan pemetaan tiga dimensi secara detail, sehingga membantu petugas menilai medan ekstrem dan menyisir area yang terdampak bencana.
Selain itu, Nepal mengajukan permohonan bantuan jembatan Bailey yang sebagian di antaranya telah diterima dan drone berkapasitas tinggi. China dan Singapura dijadwalkan mengirimkan drone berkapasitas tinggi tersebut untuk mendukung penyisiran dari udara. Jepang dan Korea Selatan juga diharapkan segera memberikan bantuan peralatan khusus, di mana Korea Selatan sendiri telah menerjunkan tim penyelamat yang dilengkapi drone dan peralatan khusus ke lokasi bencana.
Australia juga mengirimkan 12 personel tanggap darurat yang terdiri atas petugas respons krisis, pejabat konsuler, dan anggota Kepolisian Federal Australia ke Kathmandu untuk mendukung operasi bersama pejabat Australia yang sudah berada di Nepal. Pemerintah Australia meningkatkan dana bantuan kemanusiaan mereka menjadi 8 juta dolar Australia (setara Rp101,5 miliar) untuk mendukung operasi pemulihan, mengingat 42 warga negara Australia masih belum ditemukan.
Bantuan logistik darurat dari berbagai negara seperti India, China, dan Uni Emirat Arab sudah mulai didistribusikan. Bantuan tersebut mencakup unit jembatan, generator listrik, lampu tenaga surya, tenda, selimut, kantong tidur, bahan makanan, hingga obat-obatan.
3. Kerja sama lintas batas negara diperkuat demi pemulihan wilayah

Jembatan Larcha, Sungai Bhotekoshi, Nepal (Saddam19, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Pemerintah Nepal terus berkoordinasi erat dengan pihak otoritas China mengenai warga Nepal yang terdampak atau terjebak di area perbatasan. "Pihak China telah memfasilitasi pemulangan warga negara Nepal dari Tibet melalui Hilsa dan titik perbatasan lainnya," ujar Chhetri, dilansir The Kathmandu Post.
Kedua negara juga saling bertukar informasi secara real-time mengenai kondisi hidrologi dan meteorologi untuk memantau risiko banjir susulan, longsoran salju, danau glasiar, serta bencana terkait air lainnya.
Dukungan tambahan diperkirakan terus mengalir dari berbagai negara seperti UEA, Myanmar, AS, Qatar, Inggris, Australia, Korea Selatan, Jepang, Selandia Baru, Malaysia, Singapura, Bangladesh, dan Pakistan, serta lembaga internasional seperti PBB, WHO, WFP, dan UNICEF. Badan Perencanaan Nasional Nepal akan memimpin penyusunan Penilaian Kebutuhan Pascabencana guna menentukan skala rekonstruksi dan rehabilitasi wilayah.


















