Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Iran Siaga Perang Kiamat, Araghchi Sebut Diplomasi Belum Tertutup
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Ini adalah file dari situs web Ali Khamenei, yang menyatakan di footernya, "Semua Konten oleh Khamenei.ir dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4.0." Via Wikimedia Commons)
  • Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran siap menghadapi perang besar dengan AS, termasuk konflik ekstrem, namun tetap membuka diplomasi demi peluang perdamaian.
  • Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz dan pembicaraan nuklir dalam tujuh hari jika AS menghentikan agresi, blokade laut, perang ekonomi, serta membebaskan aset Iran.
  • Militer Iran menegaskan perang belum berakhir dan tetap siaga, sementara Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran bersedia mencapai kesepakatan sebelum pemilihan sela AS November.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu (27/9/2026) menyatakan negaranya siap menghadapi perang besar melawan Amerika Serikat (AS), tetapi tetap membuka jalan diplomasi untuk mencapai perdamaian. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurut Araghchi, Iran tak melihat alasan untuk kembali ke jalur diplomasi, tetapi ia tetap berusaha menempuhnya karena setiap kesempatan menuju perdamaian dinilai tak boleh dilewatkan.

“Kami siap bernegosiasi sama seperti kami siap menghadapi setiap tantangan … Kami berdiri teguh dalam menghadapi setiap agresi terhadap kami, bahkan jika itu sampai pada perang doomsday [perang kiamat],” kata Araghchi, dikutip CNBC.

Ia juga menyatakan Iran telah menyiapkan diri sepenuhnya jika konflik kembali pecah setelah pemilihan sela AS pada November atas perintah Presiden AS Donald Trump. Ia menyampaikan kesiapan tersebut sebagai bagian dari sikap Iran menghadapi kemungkinan berlanjutnya konflik.

1. Iran mengajukan syarat pembukaan Selat Hormuz

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Perang antara AS dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 melalui serangan udara AS dan Israel terhadap Iran, dalam konteks pemberitaan ini, dan mengganggu Selat Hormuz yang menjadi jalur penting ekspor minyak serta gas dari Teluk Persia. Gangguan tersebut memicu kenaikan harga energi dan kekhawatiran terhadap inflasi global, sementara Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menjadi pintu keluar utama pengiriman energi dari kawasan Teluk menuju pasar dunia.

Araghchi menyebut Iran sempat mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz sekaligus melanjutkan pembicaraan nuklir dalam waktu tujuh hari apabila syarat Teheran dipenuhi. Trump menolak usulan tersebut, sementara ia disebut memperkirakan akan kembali mengebom Teheran setelah pemilihan sela November.

Melalui kanal Telegram miliknya, Araghchi menyatakan pembukaan selat hanya akan dilakukan jika persyaratan Iran dipenuhi dan Teheran tak akan mundur. Ia menyebut para perantara telah menyampaikan syarat tersebut kepada AS dalam pertemuan di New York, tetapi Trump belum memberikan tanggapan resmi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menjelaskan persyaratan itu mencakup penghentian agresi AS, pengakhiran blokade laut dan perang ekonomi, serta pembebasan aset Iran. Duta Besar AS untuk PBB Michael Waltz menyebut tawaran Iran sebagai langkah sinis yang sejak awal diketahui tak dapat diterima.

“Presiden akan membiarkan semua opsi tetap terbuka untuk memastikan dunia aman dari Iran yang menyandera dunia dengan senjata nuklir,” kata Waltz.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan terhadap tawaran Iran terkait pembukaan Selat Hormuz dan pembicaraan nuklir.

2. Militer Iran menyatakan perang belum berakhir

ilustrasi rudal (unsplash.com/Moslem Daneshzadeh)

Panglima tertinggi angkatan darat Iran Amir Hatami menyatakan perang belum berakhir dan Iran telah meraih kemenangan, tetapi masih harus mengonsolidasikannya. Ia juga menyebut musuh harus siap menerima pukulan berat dari tentara Iran, yang menunjukkan sikap militer Iran tetap siaga di tengah upaya diplomasi.

Angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim telah menangkap wahana nirawak bawah air AS jenis Remus 600 di Selat Hormuz dan menyerahkannya kepada spesialis untuk pemulihan data. Korps tersebut juga menyatakan selat ditutup bagi lalu lintas yang tak berwenang, sementara pasukan ini merupakan militer khusus Iran yang memiliki angkatan darat, laut, dan udara sendiri di luar militer reguler.

Dalam isu nuklir, Araghchi menyatakan pengayaan uranium Iran sah untuk kebutuhan damai, termasuk keperluan medis. Ia menolak anggapan bahwa Iran harus menyerahkan uraniumnya, mempertanyakan alasan pengeboman, dan menyebut sengketa tersebut semestinya diselesaikan melalui perundingan.

3. Iran membuka peluang kesepakatan sebelum November

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Dilansir The Hill, terkait Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei yang dilaporkan terluka dalam serangan 28 Februari 2026 yang menewaskan pendahulunya, Ayatollah Ali Khamenei, Araghchi menyebut ketidakmunculannya berkaitan dengan alasan keamanan karena adanya indikasi ancaman AS. Ia menegaskan keputusan pemerintahan tetap berjalan melalui kesepakatan nasional, sedangkan Pemimpin Tertinggi merupakan pemegang kekuasaan tertinggi Iran yang membawahi keputusan politik, militer, dan keagamaan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut dirinya terakhir bertemu Khamenei sekitar satu setengah bulan lalu dan memastikan Khamenei sepenuhnya mampu memerintah. Pezeshkian juga menyatakan Teheran bersedia mencapai kesepakatan sebelum pemilihan sela November.

Harga minyak turun pada pekan lalu seiring pembicaraan yang berlangsung di sela sidang PBB, dengan minyak acuan AS turun 2,3 persen menjadi 92,41 dolar AS (sekitar Rp1,65 juta) per barel dan minyak acuan internasional merosot 2,1 persen menjadi 104,32 dolar AS (setara sekitar Rp1,86 juta) per barel. Dalam sepekan, acuan AS turun 7,9 persen sedangkan acuan internasional mendatar, sementara sejak awal tahun masing-masing naik hampir 61 persen dan lebih dari 71 persen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article