Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kebakaran di Tenda Pengungsian Gaza, Dua Bayi Perempuan Meninggal
ilustrasi api (unsplash.com/Cullan Smith)
  • Dua bayi perempuan, Habiba Mohammed Zanoun dan Aseel Abu Suhayban, meninggal akibat luka bakar setelah tenda pengungsian di al-Mawasi, Gaza selatan, terbakar pada 30 Oktober 2026.
  • Kebakaran diduga dipicu aktivitas memasak dalam tenda; sedikitnya tiga insiden serupa terjadi pada Jumat, saat kelangkaan gas memaksa keluarga menggunakan api terbuka.
  • Lebih dari 800 ribu pengungsi Palestina tinggal di tenda tidak layak huni, sementara bantuan material hunian yang telah disetujui dilaporkan ditolak masuk oleh otoritas Israel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dua bayi perempuan meninggal dunia setelah kebakaran melanda sebuah tenda pengungsian di Gaza selatan. Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Jumat (30/10/2026) sore.

Dilansir Anadolu, kobaran api tiba-tiba muncul di tengah acara kumpul-kumpul keluarga di tenda pengungsian di al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kebakaran dipicu oleh aktivitas memasak di dalam tenda.

Kedua korban, Habiba Mohammed Zanoun, yang berusia 2 bulan, dan Aseel Abu Suhayban, yang berusia berusia 7 bulan, menderita luka bakar parah dan dirawat di unit perawatan intensif di Kompleks Medis Nasser. Namun, mereka akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (31/10/2026) pagi.

1. Salah satu ibu korban juga mengalami luka bakar

ilustrasi kebakaran (unsplash.com/Ricardo Gomez Angel)

Nenek kedua bayi tersebut mengatakan bahwa putrinya datang mengunjungi keluarga di tenda pengungsian bersama Habiba ketika kebakaran terjadi. Bayi malang itu meninggal dunia tepat pada hari ia dijadwalkan menerima vaksinasi. Sementara itu, ibu Aseel mengalami luka bakar saat berupaya menyelamatkan putrinya. Ia juga dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

“Mengapa semua ini terjadi pada kami? Setiap hari ada kecelakaan, pengeboman, dan kebakaran; orang-orang meninggal dengan berbagai cara. Selama 3 tahun, kami hidup seperti ini—di tengah pengungsian, penderitaan, dan rasa sakit," kata sang nenek.

2. Tiga kebakaran terjadi di tenda pengungsian pada Jumat

ilustrasi anak-anak di Gaza, Palestina (pixabay.com/badwanart0)

Laporan menyebutkan bahwa sedikitnya tiga kebakaran terjadi di tenda-tenda pengungsian di wilayah tengah dan selatan Gaza pada Jumat. Kelangkaan gas dan kebutuhan pokok akibat blokade Israel telah memaksa banyak keluarga memasak menggunakan api terbuka.

Pada Juni 2026, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa aktivitas memasak di dalam tenda berisiko tinggi memicu kebakaran. Badan tersebut menjelaskan bahwa selimut, kain bekas, kardus dan lembaran plastik yang digunakan untuk memperkuat tenda pengungsian dapat membuat api menyebar dengan cepat dan lebih sulit dikendalikan.

3. Lebih dari 800 ribu warga Palestina tinggal di tenda-tenda yang tidak layak

pemandangan Gaza yang luluh lantak akibat serangan Israel (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Kebakaran hanyalah satu dari sekian banyak bahaya yang dihadapi para pengungsi di Gaza. OCHA juga melaporkan bahwa otoritas Israel menolak masuknya bantuan yang sebelumnya telah disetujui melalui jalur Mesir pada 26 Agustus dan 2 September 2026. Bantuan tersebut mencakup 36.960 potong kayu dan 660 paket perlengkapan hunian darurat.

Sebelumnya, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa lebih dari 800 ribu pengungsi Palestina tinggal di tenda-tenda yang tidak lagi layak huni. Lembaga tersebut memperkirakan bahwa 162 ribu dari total 270 ribu tenda di Gaza perlu segera diganti.

"Perubahan fungsi tenda, dari sekadar solusi sementara menjadi tempat tinggal selama bertahun-tahun, mencerminkan tidak adanya prospek nyata untuk rekonstruksi. Hal ini juga membuat para penghuninya harus menghadapi bentuk tekanan hidup sehari-hari yang kian menguras daya tahan mereka," kata analis politik, Akram Atallah, kepada The New Arab.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article