Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi bendera Yaman (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Otoritas Taiz mencatat 5.025 kasus penyakit pada Oktober, termasuk penyakit menular, gangguan pernapasan, dan demam, yang dikaitkan dengan penumpukan sampah di berbagai area kota.
  • Akses ke lokasi pembuangan sampah utama tertutup lebih dari 11 tahun. Truk sampah dilaporkan dihalangi menuju lokasi sementara, sementara total pengungsi mencapai 39.400 keluarga.
  • Konflik berlanjut memicu korban sipil dan pengungsian; lebih dari 50 warga sipil tewas dalam empat pekan terakhir, sementara eskalasi sejak Juli menelantarkan lebih dari seperempat juta orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Otoritas di Provinsi Taiz, barat daya Yaman, mencatat sebanyak 5.025 kasus penyakit sepanjang Oktober yang mereka kaitkan dengan penumpukan sampah di Kota Taiz. Pada periode yang sama, pertempuran selama berminggu-minggu telah mendorong 6.400 keluarga mengungsi ke kota tersebut.

Dilansir Anadolu Agency, Kantor Urusan Pengepungan Provinsi Taiz menyatakan penyakit menular, gangguan pernapasan, dan demam termasuk dalam kasus-kasus yang tercatat seiring menumpuknya sampah di jalanan, area permukiman, serta saluran drainase.

1. Penumpukan sampah dan penutupan akses lokasi pembuangan

Taiz, Yaman (Rod Waddington, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Wakil Gubernur Taiz Bidang Urusan Kesehatan, Ailan Abdel Haq, menuduh kelompok Houthi pada Selasa (3/11/2026) telah memutar balik truk-truk sampah sebelum armada itu membongkar muatan di tempat pembuangan akhir sementara di sebelah barat kota. Kota Taiz sendiri tidak dapat mengakses tempat pembuangan sampah utamanya selama lebih dari 11 tahun. Abdel Haq mendesak badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk turun tangan agar armada truk dapat melintas dan lokasi utama kembali dibuka.

Gubernur Taiz, Nabil Shamsan, mengatakan kedatangan para pengungsi terbaru telah membuat jumlah keluarga yang mengungsi di kota itu mencapai 39.400 keluarga. Pertambahan ini meningkatkan beban pada penyediaan layanan publik di kota tersebut yang sebelumnya sudah berada di bawah tekanan berat.

2. Korban warga sipil akibat penembakan dan ranjau

ilustrasi penembak runduk (unsplash.com/Maxim Potkin)

Di wilayah lain di provinsi tersebut, Kantor Urusan Pengepungan melaporkan satu proyektil yang ditembakkan pasukan Houthi menghantam sebuah rumah di Desa Al-Athawir, Distrik Hayfan. Serangan tersebut menewaskan tiga anak perempuan berusia 3, 7, dan 12 tahun, serta seorang perempuan berusia 35 tahun. Empat warga sipil lainnya terluka dalam peristiwa itu, sementara pihak Houthi belum memberikan komentar langsung mengenai insiden penembakan tersebut.

Direktur Pusat Hak Asasi Manusia Taiz yang independen, Ayman al-Kamali, mengatakan kepada Anadolu bahwa lebih dari 50 warga sipil tewas dan puluhan lainnya menderita luka-luka akibat tembakan artileri, tembakan penembak runduk, serta ledakan ranjau di seantero provinsi selama empat pekan terakhir.

3. Situasi wilayah dan eskalasi konflik bersenjata

ilustrasi konflik militer (pexels.com/Pixabay)

Saat ini, kendali wilayah terbagi dengan pasukan pemerintah menguasai Kota Taiz, sedangkan kelompok Houthi menguasai bagian-bagian lain di provinsi sekitarnya. Kelompok hak asasi manusia dan lembaga bantuan Yaman menuduh kelompok Houthi mengepung kota serta menghalangi konvoi bantuan, kendati kelompok Houthi membantah tuduhan tersebut.

Eskalasi militer antara pasukan pemerintah dan Houthi berlanjut kembali sejak Juli, yang menewaskan dan melukai ribuan orang serta menelantarkan lebih dari seperempat juta orang menurut laporan PBB. Eskalasi ini mengakhiri masa ketenangan relatif yang sempat berlangsung di Yaman sejak April 2022, di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk akibat pertempuran dan pengungsian.

Yaman berada dalam situasi perang sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan beberapa provinsi pada September 2014. Aksi tersebut kemudian mendorong koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article