Warga Honduras Lanjutkan Karavan Migran di Tengah Pemilu Sela AS

- Puluhan warga Honduras berangkat dari San Pedro Sula menuju AS pada 4 November 2026, didorong krisis ekonomi, kemiskinan, dan kekerasan di negara asal.
- Karavan ini menjadi yang ketiga sejak September 2026; rombongan diperkirakan bertambah setelah migran dari El Salvador, Guatemala, Ekuador, dan Haiti bergabung di Meksiko.
- AS membatasi dan dapat membatalkan visa bagi pengorganisir serta peserta karavan, menyusul investigasi atas dugaan perekrutan dan koordinasi migran menuju wilayah AS.
- Puluhan warga Honduras memulai karavan dari San Pedro Sula menuju AS pada 4 November 2026, dipicu minimnya peluang, krisis ekonomi, kemiskinan, dan kekerasan di negara asal.
- Karavan ini merupakan yang ketiga sejak September 2026; rombongan Honduras diperkirakan bertambah setelah memasuki Meksiko selatan dengan migran dari beberapa negara Amerika Latin.
- Pemerintah AS membatasi dan dapat membatalkan visa bagi pengorganisir serta peserta karavan, setelah investigasi dugaan perekrutan, koordinasi, dan pengarahan migran menuju teritori AS.
Jakarta, IDN Times - Puluhan warga Honduras, pada Rabu (4/11/2026), memulai perjalanan dari San Pedro Sula untuk menuju ke Amerika Serikat (AS). Karavan migran itu pergi dari Honduras ini di tengah penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) sela di AS.
Karavan migran dari negara-negara Amerika Tengah ke AS mulai menurun di bawah kepemimpinan Presiden AS, Donald Trump. Penurunan imigran ilegal didorong oleh kebijakan pengetatan perbatasan.
1. Warga Honduras merasa tidak memiliki kesempatan di negaranya

ilustrasi bendera Honduras (unsplash.com/hectoremilio) Salah seorang peserta karavan migran, Jimena Morazan asal Honduras mengaku bahwa ini adalah kesempatannya untuk pergi ke AS. Ia menyebut, Trump tidak akan sekuat dulu setelah pemilu sela dan mengambil risiko besar ini karena tidak memiliki apa-apa Honduras.
Sedangkan migran lain, Margarita mengaku pergi ke AS karena tidak punya kesempatan di Honduras. Dikutip CNN, krisis ekonomi dan keamanan di Honduras memaksanya untuk pergi bersama tiga anak perempuannya. Ia mengaku bahwa ini menjadi percobaan keduanya untuk sampai ke AS.
Dilansir dari The Tico Times, Honduras menjadi salah satu negara termiskin di Benua Amerika di mana 61 persen dari 11,2 juta penduduknya berada di bawah garis kemiskinan. Selain itu, Honduras terdampak maraknya kekerasan dengan kasus pembunuhan sebanyak 24 per 100 ribu penduduk.
Di sisi lain, karavan migran ini terbentuk melalui grup WhatsApp dan video TikTok. Alhasil, penyelenggara karavan migran ini dapat mengumumkan lokasi keberangkatan dan memperbarui rute, serta memberitahu soal keberadaan polisi, militer atau pintu pengecekan.
2. Karavan migran ketiga sejak September 2026

ilustrasi kamp migran (unsplash.com/jricard) Keberangkatan warga Honduras dalam karavan migran ini menjadi yang ketiga sejak September 2026. Pada kelompok pertama, sebanyak 200 hingga 400 orang sudah berjalan dari San Pedro Sula.
Dilansir The Latin Times, setelah tiba di bagian selatan Meksiko, jumlah rombongan migran tersebut akan bertambah menjadi lebih dari 600 orang. Sebab, sejumlah migran dari El Salvador, Guatemala, Ekuador, dan Haiti bergabung dalam rombongan asal Honduras menuju ke AS.
Sementara, karavan migran kedua sudah berjalan pekan selanjutnya yang diikuti oleh warga Honduras dan beberapa negara tetangga. Karavan migran terpusat di San Pedro Sula untuk menyatukan orang yang ingin pindah ke AS.
3. AS akan batalkan visa individu yang terlibat karavan migran

ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/cscreates) Pekan lalu, Trump menginstruksikan penetapan pembatasan visa kepada lebih dari 15 orang yang mengorganisir, memfasilitasi, dan mempromosikan karavan migran dari Amerika Tengah ke AS. Kebijakan ini termasuk membatalkan pengajuan visa yang baru saja diterbitkan.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS, dilansir dari Democrata, menjelaskan bahwa keputusan ini didasarkan dari investigasi sejumlah individu. Mereka diduga merekrut, mengoordinasikan, dan mengarahkan sekelompok migran untuk masuk ke teritori AS.
“Semua orang yang berpartisipasi dalam karavan migran dan mendaftar visa AS untuk berlibur akan menjalani pengecekan tambahan. Kebijakan ini termasuk membatalkan visa yang sudah diterbitkan,” tegasnya.






















