Houthi Makin Dekat ke Aden, Jarak Terdekat sejak Perang Yaman 2015

- Houthi maju hingga 80 kilometer dari Aden setelah merebut sejumlah distrik strategis, memicu pertempuran di jalur utama dan memperketat pengepungan terhadap wilayah pemerintah.
- Serangan rudal dan drone Houthi menghantam pelabuhan, kamp militer, istana presiden, serta Bandara Aden, mengacaukan penerbangan dan mendorong warga menimbun kebutuhan atau mengungsi.
- Operasi Houthi meluas ke perbatasan Arab Saudi melalui penyusupan darat serta serangan terhadap infrastruktur dan energi, sementara koalisi Saudi meningkatkan serangan udara di Yaman.
Jakarta, IDN Times - Kelompok bersenjata Houthi yang didukung Iran bergerak maju hingga berjarak 80 kilometer dari Kota Aden, Yaman pada Senin (2/11/2026). Empat sumber militer mengonfirmasi pergerakan pasukan ini menuju kota yang menjadi benteng utama sekaligus ibu kota sementara pemerintah Yaman yang diakui internasional. Posisi ini menjadikan Houthi berada pada jarak terdekat dengan Aden sejak awal perang saudara pada 2015, saat mereka sempat memasuki kota itu sebelum dipukul mundur.
Pergerakan ini merupakan bagian dari operasi besar Houthi yang dimulai sejak awal September untuk merebut wilayah barat Yaman dari Pasukan Perlawanan Nasional (NRF) dukungan Arab Saudi. Dalam sepekan sejak operasi dimulai, kelompok bernama resmi Ansar Allah tersebut berhasil menguasai sejumlah distrik di Provinsi Hodeidah dan Taiz, termasuk kota pelabuhan Mocha serta jalur pelayaran strategis Selat Bab al-Mandeb. Eskalasi ini menghancurkan gencatan senjata mediasi PBB tahun 2022 dan membuka front baru di tengah perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
1. Pertempuran sengit pecah di jalur utama menuju Aden

bendera Yaman (pixabay.com/Chickenonline) Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah berlangsung di sebuah kamp militer di pintu masuk Distrik Tur al-Bahah pada Senin. Kamp di salah satu jalur akses utama menuju ibu kota sementara tersebut berjarak 50 kilometer dari ibu kota Provinsi Lahj dan 80 kilometer dari Aden. Serangan ini dimulai tiga hari sebelumnya saat Houthi menggempur posisi pemerintah di Distrik Al-Maqatirah.
Kelompok tersebut kini telah menguasai seluruh distrik pegunungan yang menghadap ke jalan penghubung Kota Taiz dan Aden, serta memaksa pasukan pemerintah mundur ke arah Tur al-Bahah. Pejabat Houthi, Hamid Rizq, turut mengunggah video yang memperlihatkan pasukannya memasuki kawasan Souq al-Rabouh di Distrik Al-Maqatirah. Jalur yang direbut itu merupakan akses penghubung terakhir yang tersisa antara wilayah kendali pemerintah dengan Taiz selama perang berlangsung.
Penguasaan titik strategis ini memberikan peluang bagi Houthi untuk mengepung pasukan pemerintah dari sisi samping di sepanjang barisan pegunungan yang menghadap Selat Bab al-Mandeb, jalur utama ekspor minyak Arab Saudi ke Asia. Padahal, pasukan pemerintah baru saja mengusir pasukan Houthi dari kawasan tersebut beberapa pekan lalu melalui serangan balik pada awal Oktober. Sementara itu, pengepungan Houthi terhadap Taiz sejak awal Oktober telah memutus jalur suplai utama ke selatan, menyebabkan lebih dari 100 ribu warga mengungsi, memicu kelangkaan pangan, bahan bakar, serta obat-obatan, hingga membuat harga kebutuhan pokok naik dua kali lipat.
2. Rentetan serangan rudal picu kepanikan warga Aden

Pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman untuk bertempur melawan kelompok Houthi. (brookings.edu) Selain pergerakan darat, Houthi mengintensifkan serangan rudal dan drone ke berbagai titik vital di Aden dalam beberapa pekan terakhir, termasuk pelabuhan, kamp militer, hingga istana kepresidenan yang terkena hantaman pada Oktober. Kelompok itu juga menyerang Bandara Internasional Aden pada Rabu (28/10/2026) setelah mengeluarkan peringatan evakuasi. Rentetan serangan terhadap bandara tersibuk di Yaman tersebut berulang kali mengacaukan jadwal penerbangan dan memaksa maskapai membatalkan atau mengalihkan rute ke bandara lain.
Situasi keamanan yang memburuk membuat warga Aden mulai menimbun bahan pokok, membatasi aktivitas malam, serta menyiapkan rencana evakuasi beserta cadangan bahan bakar menuju Provinsi Shabwa atau Hadramout. Sebagian keluarga yang tinggal di dekat bandara memilih mengungsi ke distrik lain atau mengirim anak-anak dan lansia ke Provinsi Lahj serta Abyan. Warga yang bertahan menjauhkan anak-anak dari jendela saat serangan berlangsung dan membentuk grup WhatsApp bersama tetangga untuk saling memeriksa keselamatan.
"Ledakan membangunkan anak-anak dalam kondisi ketakutan dan membuat mereka tidak bisa tidur sepanjang sisa malam. Suara pesawat biasa saja kini membuat keluarga saya ketakutan," ujar Ahmed Awadh, seorang warga Distrik Khor Maksar di dekat bandara, dilansir Al Jazeera.
Di sisi lain, Profesor Jurnalistik Universitas Aden dan Hadramout, Adeeb al-Shatri, mengkritik pemerintah Yaman karena membiarkan Aden rentan terhadap gempuran udara tanpa sistem pertahanan yang memadai. Sementara itu, militer Yaman mengklaim telah mencegat sejumlah drone sebelum mencapai area permukiman. Al-Shatri menambahkan bahwa mayoritas warga Aden kesulitan memberi makan keluarga dan membutuhkan tiga kali lipat gaji mereka saat ini untuk hidup layak, sehingga warga tetap beraktivitas normal satu jam setelah ledakan demi mencari nafkah.
3. Houthi perluas operasi lewat serangan lintas batas ke Arab Saudi

Kelompok Houthi memprotes serangan udara oleh koalisi pimpinan Saudi di Sana'a pada bulan September 2015. (commons.wikimedia.org/Henry Ridgwell) Agresi militer Houthi turut meluas hingga ke luar wilayah Yaman melalui sejumlah serangan darat lintas batas berskala kecil ke pos-pos perbatasan di wilayah barat daya Arab Saudi. Pejabat Barat dan Arab menyebutkan bahwa salah satu penyusupan terbaru terekam kamera pengawas pada akhir Oktober, yang menjadi serangan darat lintas batas pertama Houthi sejak runtuhnya gencatan senjata. Dalam operasi tersebut, pasukan Houthi dilaporkan berhasil merampas senjata ringan khusus milik pasukan keamanan perbatasan Arab Saudi.
"Fase awal melibatkan drone jarak jauh dan rudal balistik jarak pendek. Fase kedua memperkenalkan quadcopter jarak pendek yang menjatuhkan amunisi mortir, serta operasi penembak jitu," kata Mohammed al-Basha, pakar Yaman sekaligus pendiri Basha Report Risk Advisory, dilansir Middle East Eye.
Selain penyusupan darat, Houthi telah meluncurkan ratusan serangan ke infrastruktur sipil, bandara, dan fasilitas energi Arab Saudi yang menewaskan sedikitnya 24 orang serta memaksa Riyadh membatalkan forum investasi penting. Rentetan serangan ini memicu kekhawatiran terkait ambisi teritorial Houthi atas tiga provinsi selatan Arab Saudi, yakni Asir, Jazan, dan Najran, yang diserahkan Yaman melalui Perjanjian Taif 1934. Koalisi pimpinan Arab Saudi pun merespons situasi ini dengan meningkatkan serangan udara ke posisi-posisi Houthi di Yaman.


















