Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PBB Desak Penyelidikan Kematian Stafnya di Tahanan Houthi Yaman

3 min read
PBB Desak Penyelidikan Kematian Stafnya di Tahanan Houthi Yaman
bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (Makaristos, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • PBB menuntut penyelidikan independen atas kematian staf HAM Mohammad al-Shami dalam tahanan Houthi, termasuk transparansi kronologi, rekam medis, catatan penahanan, dan pengamanan barang bukti.
  • Houthi masih menahan 71 personel PBB; PBB mendesak pembebasan tanpa syarat, akses keluarga, dan perawatan medis, karena penahanan menghambat bantuan kemanusiaan di Yaman.
  • Al-Shami merupakan staf PBB kedua yang tewas dalam tahanan Houthi sejak 2025, sementara pemerintah Yaman menyalahkan Houthi di tengah eskalasi pertempuran sejak Juli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Referensi:

https://www.straitstimes.com/world/middle-east/un-demands-probe-into-death-of-its-employee-in-houthi-custody

https://www.newarab.com/news/un-demands-probe-death-its-employee-houthi-custody

https://www.arabnews.com/middle-east/un-rights-chief-demands-probe-after-yemeni-staff-member-dies-in-houthi-custody-3009151

https://www.middleeasteye.net/live-blog/live-blog-update/un-demands-probe-death-staff-member-houthi-custody

https://english.aawsat.com/arab-world/5336049-intense-strikes-thwart-houthi-advance-al-maqatirah

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam kematian salah satu stafnya di dalam tahanan kelompok Houthi di Yaman pada Sabtu (31/10/2026). Organisasi internasional tersebut menuntut penyelidikan independen yang menyeluruh untuk mengungkap penyebab kematian pegawainya.

Staf bernama Mohammad al-Shami tersebut bekerja untuk Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) PBB di Yaman. Melansir The Straits Times, kelompok Houthi yang didukung Iran telah menahan al-Shami secara sewenang-wenang sejak 6 Juni 2024. Pihak keluarga menyebut korban sebenarnya telah meninggal dunia lebih dari sebulan lalu, tetapi mereka baru menerima kabar duka tersebut belakangan ini.

  1. 1. PBB menuntut transparansi dan pembebasan puluhan staf lainnya

    ilustrasi penjara
    ilustrasi penjara. (unsplash.com/Ye Jinghan)

    Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, menyatakan pihak keluarga sama sekali belum menerima penjelasan mengenai penyebab maupun kronologi kematian al-Shami. Ia menuntut transparansi penuh dari otoritas Houthi, termasuk penyerahan seluruh rekam medis dan catatan penahanan korban. Turk juga mendesak penjagaan barang bukti serta pemeriksaan independen atas segala klaim penyebab kematian yang diajukan kelompok milisi tersebut.

    Selain mengusut kematian al-Shami, Turk mengkhawatirkan keselamatan puluhan pekerja kemanusiaan dan masyarakat sipil lainnya yang masih ditahan. Juru bicara PBB, Farhan Haq, sebelumnya mengungkapkan bahwa Houthi masih menyandera 71 personel PBB, termasuk tujuh staf dari kantor HAM pimpinan Turk. PBB menuntut pembebasan seluruh staf tersebut tanpa syarat dan mendesak jaminan perawatan medis serta akses kunjungan keluarga selama mereka masih ditahan.

    "Dengan menahan rekan-rekan kami, otoritas de facto tersebut sangat menghambat kemampuan kami untuk membantu rakyat Yaman di tengah krisis kemanusiaan dan hak asasi manusia yang sangat serius. Saya mendesak mereka untuk mengubah tindakan tersebut," ujar Turk, dilansir Arab News.

  2. 2. Staf PBB kedua yang tewas dalam tahanan Houthi

    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman
    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)

    Al-Shami merupakan staf PBB kedua yang tewas saat mendekam di dalam penjara Houthi. Sebelumnya, seorang pekerja Program Pangan Dunia (WFP) asal Yaman juga meninggal dunia di penjara wilayah Yaman utara pada Februari 2025 setelah ditahan sebulan sebelumnya. Kematian pekerja WFP tersebut sempat memaksa PBB membekukan seluruh kegiatan operasionalnya di Saada yang menjadi basis utama Houthi.

    Rentetan penangkapan ini berkaitan dengan tudingan kelompok Houthi bahwa para staf PBB menjadi mata-mata untuk Amerika Serikat (AS) dan Israel. Tuduhan spionase tersebut memiliki ancaman hukuman mati di Yaman, tetapi PBB telah membantah seluruh tudingan itu. Dewan Keamanan PBB pada Juni lalu turut mengecam penahanan puluhan pekerja kemanusiaan ini karena mengancam kelangsungan operasi bantuan di wilayah kekuasaan Houthi.

  3. 3. Kecaman pemerintah Yaman di tengah memanasnya perang

    bendera Yaman
    bendera Yaman (pixabay.com/Chickenonline)

    Pemerintah Yaman yang diakui komunitas internasional dan didukung Arab Saudi turut mengecam kematian al-Shami. Perdana Menteri Yaman, Shaya al-Zindani, menegaskan kelompok Houthi memikul tanggung jawab penuh atas kematian korban di dalam penjara mereka. Ia menilai insiden ini merupakan bagian dari pola pelanggaran Houthi yang lebih luas terhadap warga dan pekerja kemanusiaan.

    "Hal ini terjadi bersamaan dengan pengepungan berkelanjutan di Kota Taiz, penargetan warga dan infrastruktur sipil, eskalasi militer, serta ancaman terhadap keamanan Yaman dan kawasan," kata al-Zindani, dilansir Middle East Eye.

    Menteri Informasi Yaman Muammar al-Eryani dan Menteri HAM Yaman Mashdal Omar juga mendesak PBB mengambil langkah tegas untuk membebaskan sandera yang tersisa. Kasus kematian ini terjadi saat Yaman kembali terjerumus ke dalam perang terbuka sejak Juli lalu setelah empat tahun relatif tenang. Pertempuran antara pasukan pemerintah yang didukung serangan udara Arab Saudi melawan milisi Houthi terus meningkat tajam di berbagai wilayah, termasuk di perbatasan Taiz dan Lahij.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More
PBB Desak Penyelidikan Kematian Stafnya di Tahanan Houthi Yaman