Adik Kim Jong Un Kecam Tuduhan FBI soal Pencurian Kripto Binance

- Korea Utara membantah tuduhan FBI bahwa kelompok TraderTraitor mencuri lebih dari 6 miliar dolar AS dari Binance pada 29 Oktober 2026.
- Kim Yo Jong menyebut tuduhan AS tanpa bukti sebagai provokasi politik yang merusak citra dan kedaulatan digital Korea Utara.
- FBI menyatakan dana curian dikonversi ke Ether dan berpotensi dicuci; lembaga AS membagikan alamat dompet untuk memblokir transaksi terkait.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Utara membantah tuduhan Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) terkait pencurian aset kripto di bursa Binance senilai lebih dari 6 miliar dolar AS (Rp108,98 triliun) pada 29 Oktober 2026. Pyongyang menegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam peretasan platform perdagangan aset kripto terbesar di dunia tersebut.
Melalui kantor berita KCNA pada Selasa (3/11/2026), Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengecam keras tuduhan Washington. Ketegangan antara kedua negara pun kembali meningkat di tengah langkah aparat penegak hukum AS memperketat pengawasan terhadap dugaan kejahatan siber yang melibatkan Korea Utara.
1. Kim Yo Jong menolak tuduhan peretasan bursa kripto

potret Kim Yo Jong (주식회사문화방송, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons) Kim Yo Jong menepis laporan hasil penyelidikan FBI. Ia menyebut tuduhan tersebut sebagai isu lama yang tidak disertai bukti dan hanya bertujuan merusak citra Korea Utara di mata internasional.
"Tuduhan AS adalah provokasi politik yang serius, seolah-olah seluruh kejahatan siber internasional merupakan perbuatan kami," ujar Kim, dilansir Channel News Asia.
Ia menegaskan bahwa tuduhan itu sengaja dilontarkan untuk merusak kehormatan negaranya sekaligus melanggar kedaulatan digital Korea Utara. Menurut Kim, pemerintahnya secara konsisten menentang segala bentuk kejahatan siber.
2. FBI menduga peretas memindahkan dana curian ke jaringan Ethereum

ilustrasi Ethereum, kripto, crypto (commons.wikimedia.org/Edwin.images) FBI sebelumnya menyebut kelompok peretas TraderTraitor, yang dikaitkan dengan Korea Utara, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembobolan bursa Binance. Kasus ini menjadi salah satu pencurian aset kripto terbesar yang pernah tercatat dalam industri tersebut.
"Petugas mendapati pelaku mengonversi hasil curian menjadi mata uang kripto Ether (ETH) dan bersiap mencucinya melalui layanan keuangan tanpa perantara serta layanan penukaran instan," demikian pernyataan resmi divisi siber FBI.
Bersama Dinas Rahasia AS (USSS) dan Unit Investigasi Kriminal Internal Revenue Service (IRS-CI), FBI menyebarkan alamat dompet digital yang digunakan pelaku. Langkah ini bertujuan membantu penyedia layanan dan analis jaringan mengidentifikasi serta memblokir transaksi terkait.
Sementara itu, Binance sempat menghentikan sementara layanan penarikan dana sebelum kembali beroperasi normal. Perusahaan tersebut menggunakan dana internal untuk menutup kerugian akibat insiden tersebut.
3. Tuduhan peretasan kripto memengaruhi hubungan kedua negara

ilustrasi pasar kripto, crypto, Ethereum, Bitcoin (pexels.com/Jakub Zerdzicki) Tuduhan Washington juga dikaitkan dengan kasus pembobolan bursa kripto Bybit senilai 1,5 miliar dolar AS (Rp27,25 triliun) pada Februari 2025. Dalam kasus tersebut, kelompok TraderTraitor yang dikaitkan dengan Lazarus Group juga diduga terlibat.
"Kami perlu mempertimbangkan kembali banyak hal untuk menanggapi sikap permusuhan AS yang sangat mengganggu ini," kata Kim Yo Jong.
Kim juga menyoroti rencana AS untuk menjadikan aset kripto hasil penyitaan sebagai cadangan strategis negara. Menurutnya, rencana tersebut menunjukkan adanya motif ekonomi di balik tuduhan Washington.
Perselisihan ini berpotensi semakin mempersempit peluang perundingan dan memperpanjang kebuntuan diplomatik antara kedua negara.






















