Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lawan Doomscrolling, Singapura Bayar Warganya yang Mau Baca Buku

4 min read
Lawan Doomscrolling, Singapura Bayar Warganya yang Mau Baca Buku
ilustrasi transportasi umum di Singapura (unsplash.com/Kit Suman)
  • Singapura meluncurkan program gamifikasi yang memberi 20 koin virtual untuk satu sesi membaca minimal 15 menit per hari; 1.000 koin dapat ditukar S$1.
  • Program ini ditujukan untuk mengurangi doomscrolling di tengah banjir konten digital, dengan mengajak warga mengambil jeda membaca secara rutin dalam durasi singkat.
  • Selain insentif membaca, pemerintah mempertimbangkan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak muda; program hadir meski pelajar Singapura memimpin kemampuan membaca PISA 2025.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Doomscrolling sudah menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Kamu mungkin awalnya hanya ingin membuka media sosial sebentar, tapi tanpa sadar sudah menghabiskan puluhan menit untuk melihat berita, video, atau unggahan secara terus-menerus.

Singapura bahkan mencoba cara yang cukup unik untuk mengatasinya, yaitu memberikan insentif uang kepada warga yang mau meluangkan waktu untuk membaca. Program tersebut dirancang agar masyarakat kembali membangun kebiasaan membaca melalui langkah kecil dan konsisten. Lantas, seperti apa cara kerjanya?

  1. 1. Warga dibayar untuk membaca 15 menit sehari

    ilustrasi baca buku, rak buku, tanaman hias
    ilustrasi baca buku, rak buku, tanaman hias (pexels.com/George Milton)

    Pemerintah Singapura meluncurkan program yang memberikan penghargaan kepada warga ketika mereka meluangkan waktu setidaknya 15 menit setiap hari untuk membaca. Program tersebut menggunakan sistem gamifikasi, sehingga aktivitas membaca dibuat seperti sebuah tantangan dengan poin dan hadiah. Setiap sesi membaca selama minimal 15 menit akan memberikan 20 koin virtual kepada peserta. Dalam satu hari, peserta hanya diperbolehkan mencatat satu sesi membaca.

    Koin tersebut nantinya bisa ditukarkan dengan uang tunai dalam jumlah kecil. Peserta perlu mengumpulkan 1.000 koin untuk mendapatkan S$1 atau sekitar Rp13 ribu. Artinya, seseorang harus mencatat 50 sesi membaca harian untuk mendapatkan S$1. Meski nominalnya kecil, sistem tersebut lebih diarahkan untuk mendorong terbentuknya rutinitas membaca daripada memberikan penghasilan tambahan.

  2. 2. Program ini dirancang untuk melawan kebiasaan doomscrolling

    ilustrasi kumpul bareng teman, anak muda, Gen Z, hangout, sibuk main hp, lihat ponsel, scrolling medsos
    ilustrasi kumpul bareng teman, anak muda, Gen Z, hangout, sibuk main hp, lihat ponsel, scrolling medsos (magnific.com/lookstudio)

    Doomscrolling merujuk pada kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berbagai informasi melalui layar, terutama konten media sosial dan berita, meskipun aktivitas tersebut sudah gak lagi terasa menyenangkan atau bermanfaat. Dalam situasi seperti ini, kamu bisa berpindah dari satu konten ke konten lain tanpa memiliki tujuan yang jelas. Pemerintah Singapura melihat kebiasaan tersebut sebagai salah satu tantangan di tengah semakin banyaknya informasi yang tersedia dalam kehidupan sehari-hari.

    Chief executive National Library Board Singapura, Melissa Tam, menjelaskan bahwa masyarakat sekarang hidup dalam kondisi dengan kelimpahan konten, informasi, dan stimulasi. Menurutnya, seseorang bisa dengan mudah menggulir ratusan judul berita, menonton video, atau memperoleh rangkuman mengenai hampir semua hal dalam waktu singkat. Karena itu, program tersebut mencoba mengajak masyarakat mengambil jeda melalui aktivitas membaca selama 15 menit. Kebiasaan tersebut dapat dilakukan dalam berbagai situasi, misalnya ketika berada di bus, saat makan siang, atau sebelum tidur.

  3. 3. Kebiasaan membaca dibangun lewat langkah kecil

    ilustrasi baca buku
    ilustrasi baca buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Program Singapura tersebut gak meminta masyarakat langsung membaca berjam-jam setiap hari. Targetnya dibuat sederhana, yakni membaca selama 15 menit dan dilakukan secara konsisten. Pendekatan ini didasarkan pada gagasan bahwa kebiasaan baru lebih gampang dibangun ketika langkah awalnya terasa ringan dan bisa dilakukan secara rutin.

    Bagi kamu yang sering kesulitan mengurangi waktu bermain media sosial, konsep ini sebenarnya cukup mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kamu bisa menentukan satu waktu khusus untuk membaca, misalnya 15 menit sebelum tidur atau ketika sedang menggunakan transportasi umum. Setelah terbiasa, durasi membaca dapat ditambah secara perlahan tanpa harus merasa sedang menjalani rutinitas yang berat.

  4. 4. Singapura juga mempertimbangkan aturan untuk media sosial

    ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)
    ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

    Upaya melawan doomscrolling di Singapura gak berhenti pada program membaca. Pemerintah negara tersebut juga sedang mempertimbangkan berbagai cara untuk mengurangi dampak negatif media sosial terhadap anak muda, termasuk kemungkinan penerapan batas waktu penggunaan media sosial harian. Perhatian tersebut muncul karena penggunaan media sosial berlebihan dan berbagai bentuk kecanduan digital dinilai dapat memberikan dampak negatif bagi kelompok usia muda.

    Di sisi lain, Singapura memang sudah beberapa kali menggunakan insentif untuk mendorong perubahan kebiasaan masyarakat. Program kesehatan sebelumnya pernah memberikan voucher supermarket sebagai penghargaan bagi warga yang mengikuti aktivitas berjalan kaki. Ada pula program pemberian hadiah bagi masyarakat yang berhasil mencapai target jumlah langkah harian. Polanya mirip dengan program membaca, yaitu mengubah aktivitas sehat atau produktif menjadi sebuah tantangan dengan penghargaan.

  5. 5. Pelajar Singapura ternyata punya kemampuan membaca tinggi

    ilustrasi perpustakaan (pexels.com/Element5 Digital)
    ilustrasi perpustakaan (pexels.com/Element5 Digital)

    Menariknya, program untuk mendorong kebiasaan membaca tersebut muncul ketika pelajar Singapura sudah menunjukkan hasil yang sangat baik dalam kemampuan membaca. Dalam PISA 2025, pelajar berusia 15 tahun di Singapura berada di peringkat teratas dunia untuk kemampuan membaca. Mereka mengungguli sejumlah sistem pendidikan lain, termasuk China dan Taiwan.

    Fakta tersebut menunjukkan bahwa program membaca 15 menit sehari bukan semata-mata ditujukan untuk memperbaiki kemampuan membaca dasar. Fokusnya lebih luas, yaitu menjaga kebiasaan membaca tetap relevan ketika masyarakat menghadapi arus informasi digital yang semakin padat. Pendekatan ini bisa menjadi pengingat bahwa membaca gak harus selalu dilakukan dalam waktu lama. Meluangkan 15 menit secara rutin untuk buku bisa menjadi alternatif sederhana ketika kebiasaan menggulir media sosial mulai mengambil terlalu banyak waktu.

    Pada akhirnya, cara Singapura melawan doomscrolling cukup menarik karena menggunakan pendekatan yang sederhana dan terukur. Warga diajak membaca setidaknya 15 menit sehari, kemudian mendapatkan poin sebagai bentuk penghargaan atas konsistensi tersebut. Konsep ini menarik untuk diadaptasi, yakni cukup mulai dengan menyisihkan waktu singkat setiap hari untuk membaca buku dan memberi jarak dari layar agar pikiran gak terus-menerus dibanjiri informasi. Gimana, tertarik mencobanya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More