Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Maroko Usir Awak Media Spanyol di Perbatasan Ceuta
ilustrasi bendera Maroko (unsplash.com/alschim)
  • Otoritas Maroko mengusir awak EFE dan TVE dari perbatasan Fnideq-Ceuta pada 15 Agustus 2026, meski mereka sedang meliput situasi terkini.
  • Maroko mengancam mencabut akreditasi dan menyita peralatan jika jurnalis menolak pergi; EFE meminta penjelasan serta menegaskan kebebasan pers.
  • Maroko menahan 61 orang atas dugaan menghasut warga dan migran ilegal memasuki Ceuta, sementara aparat Spanyol-Maroko memperketat penjagaan perbatasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Otoritas Maroko mengusir awak media Spanyol, EFE dan TVE, dari pintu perbatasan Fnideq pada Sabtu (15/8/2026). Padahal, awal media tersebut sedang menayangkan dan meliput situasi terkini di perbatasan Ceuta.  

Otoritas Maroko diketahui sudah memerintahkan hotel tempat awak media tersebut menginap untuk mengusirnya. Namun, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Maroko sudah menyuruh jurnalis Spanyol tersebut untuk pergi tanpa alasan yang jelas. 

1. Maroko mengancam akan mencabut izin liputan

suasana demonstrasi di Spanyol (unsplash.com/b1b1)

Tak hanya mengusir awal media Spanyol, Maroko juga mengancam akan mencabut akreditasi profesionalitas dan menyita peralatan jurnalis. Langkah ini akan dilakukan jika mereka menolak pergi dari Fnideq. 

Dilansir Democrata, jurnalis tersebut sudah melaporkan intervensi pasukan Maroko terhadap imigran yang terkonsentasi di perbatasan Ceuta. Saat itu, Maroko mengklaim sudah menangkap 148 migran, yang mana 128 dari Sub-Sahara Afrika dan 20 lainnya merupakan warga negara Maroko. 

2. EFE dukung kebebasan jurnalisnya untuk meliput di Maroko

ilustrasi bendera Spanyol (unsplash.com/thurpont)

Sehari setelahnya, Presiden EFE, Miguel Angel Oliver mengungkapkan bahwa kebebasan untuk menyebarkan informasi harus dipertahankan. Menurutnya, otoritas Maroko harus menghormati kebebasan peliputan jurnalisme terkait insiden di Ceuta. 

“Peliputan jurnalisme adalah kebenaran kami dan kami akan mendukung itu baik di Spanyol dan di seluruh dunia. Sayangnya, Maroko terjadi penolakan, padahal delegasi kami sudah menyediakan layanan di sana selama 60 tahun,” terangnya, dikutip dari EFE

EFE sudah menghubungi Kemendagri Maroko untuk memberikan penjelasan. Namun, belum ada penjelasan mengenai ancaman pencabutan akreditasi profesionalisme jurnalis Spanyol di Maroko.

3. Sebanyak 61 orang ditahan usai menghasut warga masuk ke Ceuta

Gedung Pemerintahan Ceuta, Spanyol. (Diego Delso, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Direktorat Keamanan Nasional Maroko mengatakan bahwa tekanan ini terjadi sejak akhir pekan. Sebanyak 61 orang sudah ditahan karena menghasut warga dan migran ilegal untuk masuk ke Ceuta. 

Percobaan masuknya migran sudah terjadi sejak pagi hari. Berkat penjagaan ketat dari aparat keamanan dari Spanyol dan Maroko di perbatasan Ceuta, ratusan migran masih berada di luar Castillejos. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article