Spanyol Tolak Diskusikan Wilayah Ceuta dan Melilla dengan Maroko

- Spanyol menolak membahas status Ceuta dan Melilla dengan Maroko, menegaskan integritas teritorial tidak dapat dinegosiasikan meski Rabat terus mengklaim kedua wilayah tersebut.
- Ketegangan di Ceuta meningkat setelah 78 ribu imigran Maroko masuk; warga berdemo menuntut penanganan krisis, sementara lembaga HAM Maroko menuduh adanya kekerasan terhadap imigran.
- Maroko akan mencegah upaya masuk ilegal ke Ceuta pada 15 Agustus 2026, menyusul ajakan pengumpulan massa di media sosial yang dinilai berisiko dan mengeksploitasi isu migrasi.
Jakarta, IDN Times - Spanyol pada Rabu (12/8/2026), menolak diskusi terkait masalah wilayah Ceuta dan Melilla dengan Maroko. Sebab, Maroko selama ini mengklaim kedua wilayah terluar Spanyol itu sebagai bagian dari negaranya.
“Masalah integritas teritorial tidak pernah dan tidak akan didiskusikan dengan siapapun,” ungkapnya, dikutip dari The New Arab.
Situasi di Ceuta dan Melilla masih tegang imbas masuknya 78 ribu imigran Maroko di Ceuta. Pada akhir pekan lalu, ribuan warga Ceuta mengadakan demonstrasi menuntut pemerintah Spanyol serius dalam mengatasi krisis migrasi di wilayahnya.
1. Menteri Hukum Maroko singgung soal status Ceuta dan Melilla

ilustrasi bendera Maroko (unsplash.com/alschim) Menteri Hukum Maroko Abdellatif Ouahbi menyinggung soal status Ceuta dan Melilla yang berada di teritori Maroko. Ia mengharapkan Spanyol bersedia bernegosiasi soal resolusi jangka panjang mengenai wilayah tersebut.
Sejak merdeka pada 1956, Maroko sudah mengklaim Ceuta dan Melilla sebagai wilayah yang diduduki Spanyol. Rabat terus mendesak Madrid untuk menyerahkan kedua wilayah tersebut.
Di sisi lain, Spanyol menganggap Ceuta dan Melilla sebagai bagian dari negaranya sejak abad ke-17 dan ke-15. Artinya, Spanyol tidak bersedia menyerahkan kedaulatan kedua wilayah tersebut kepada Maroko.
2. Maroko tuduh Spanyol lakukan tindakan buruk kepada imigran di Ceuta

ilustrasi bendera Maroko (unsplash.com/moiz31) Pada saat yang sama, Dewan Nasional Perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) Maroko (CNDH) menuding Spanyol telah bertindak buruk kepada imigran di Ceuta. Menurutnya, otoritas Spanyol sudah melakukan kekerasan ke sejumlah imigran Maroko yang tidak terekam kamera.
Dilansir Euronews, CNDH mengaku sudah mendapatkan testimoni dari imigran yang dipulangkan ke Maroko. Mayoritas dari mereka menerima perlakuan buruk dan sejumlah imigran anak-anak disebut menerima penghinaan dan pukulan oleh kelompok ekstremis di Ceuta.
3. Maroko mencegah masuknya imigran ilegal ke Ceuta

Gedung Pemerintahan Ceuta, Spanyol. (Diego Delso, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Maroko mengatakan akan mencegah masuknya ribuan imigran ilegal ke Ceuta pada 15 Agustus 2026. Langkah ini menyusul beredarnya informasi di media sosial soal pengumpulan massa di perbatasan Ceuta pada Sabtu nanti.
Dilansir Democrata, otoritas Maroko akan memantau panggilan ini di media sosial dan menekankan segala upaya untuk mencegah masuknya imigran ilegal. Menurutnya, ajakan ini berisiko tinggi dan bertujuan mengeksploitasi masalah migrasi di Maroko dan Spanyol.




















