Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa, menilai Indonesia perlu lebih proaktif dalam mendorong penyelesaian persoalan kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bersama negara-negara tetangga. Menurut dia, pemerintah tidak seharusnya menunggu negara lain melayangkan protes sebelum mengambil inisiatif diplomatik.
Marty membandingkan situasi saat ini dengan penanganan krisis asap pada 2013. Ketika itu, Indonesia justru mengambil langkah lebih dahulu dengan mengajak Singapura dan Malaysia membahas solusi bersama sebelum persoalan dibawa ke forum ASEAN.
Ia menilai, kondisi pada 2026 sebenarnya lebih kondusif untuk membangun kerja sama regional. Sebab, masyarakat Indonesia, Singapura, dan Malaysia sama-sama menginginkan persoalan asap segera ditangani.
Namun, Marty melihat masih ada jarak antara keinginan masyarakat tersebut dengan kebijakan konkret pemerintah. Ia mengingatkan, hubungan baik dan niat untuk bekerja sama tidak akan cukup jika tidak diterjemahkan menjadi langkah nyata.