Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Media ASEAN Harus Adaptif Hadapi AI Tanpa Korbankan Kredibilitas
Panel diskusi “The Role of Media in Shaping ASEAN’s Future” pada ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila, Filipina. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Media ASEAN didorong memanfaatkan AI untuk efisiensi dan inovasi cerita, tetapi jurnalis serta proses editorial wajib menjadi penentu akhir guna menjaga akurasi dan verifikasi.
  • Pembicara menilai tantangan utama adalah defisit kepercayaan publik; ASEAN menyiapkan rencana 2026–2035 untuk akses, integritas informasi, transformasi digital, literasi media, dan penggunaan AI bertanggung jawab.
  • Perubahan perilaku audiens ke media sosial, video, dan chatbot menuntut media beradaptasi, sambil mempertahankan peran televisi-radio saat krisis serta memperkuat kolaborasi lintas negara ASEAN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Manila, IDN Times - Transformasi digital dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara media bekerja sekaligus cara masyarakat mengonsumsi informasi. Di tengah perubahan tersebut, media di kawasan ASEAN didorong untuk beradaptasi tanpa mengorbankan prinsip dasar jurnalisme, yakni akurasi, verifikasi, dan kepercayaan publik.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam panel diskusi “The Role of Media in Shaping ASEAN’s Future” pada ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila, Filipina, Kamis (30/7/2026). Para pembicara menilai AI menghadirkan peluang besar bagi ruang redaksi, tetapi juga memunculkan tantangan baru berupa meningkatnya disinformasi dan menurunnya kepercayaan publik.

Pendiri Good News from Indonesia (GNFI), Akhyari Hananto, mengatakan AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas kerja media, bukan sebagai pengganti jurnalis.

Sementara itu, Pejabat Senior Divisi Budaya dan Informasi Sekretariat ASEAN, Noel Hidalgo Tan, mengingatkan, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap informasi maupun institusi.

1. AI bantu ruang redaksi meski jurnalis tetap penentunya

ilustrasi AI (vecteezy.com/Muchlis Nugroho)

Mantan Kepala Media Digital GMA News Filipina, Jaemark Tordecilla, mengatakan ruang redaksi kini berada pada titik ketika mereka harus mengikuti perkembangan teknologi agar tetap relevan.

“Banyak pekerjaan yang dilakukan saat ini berfokus pada efisiensi, memperbaiki alur kerja, dan mampu menghasilkan lebih banyak berita,” katanya.

Namun, menurut Jaemark, pemanfaatan AI tidak seharusnya berhenti pada peningkatan produktivitas semata.

“Penggunaan AI yang paling menarik justru adalah menemukan cara baru untuk menceritakan kisah-kisah yang sebelumnya tidak mungkin diceritakan, serta menjangkau audiens yang sebelumnya sulit dijangkau,” ujarnya.

Senada dengan itu, Akhyari mengatakan Good News from Indonesia telah memanfaatkan AI dalam berbagai tahapan produksi konten. Namun, seluruh hasil tetap harus melewati proses editorial yang ketat.

“Kami adalah media yang dibantu AI, bukan media yang dihasilkan AI. Manusia harus menjadi pintu terakhir sebelum sebuah konten dipublikasikan. Dua hal inilah yang paling penting,” kata Akhyari.

Ia juga mengingatkan, AI masih berpotensi menghasilkan informasi yang keliru atau AI hallucination, termasuk mencantumkan tautan maupun referensi yang sebenarnya tidak ada. Karena itu, setiap hasil AI selalu diperiksa ulang menggunakan berbagai model AI lain dan diverifikasi kembali oleh tim editorial.

2. Krisis utama bukan AI, tapi kepercayaan publik

Pendiri Good News from Indonesia (GNFI), Akhyari Hananto dalam panel diskusi “The Role of Media in Shaping ASEAN’s Future” pada ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila, Filipina. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Noel Hidalgo Tan menilai AI bukan penyebab munculnya disinformasi. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada krisis kepercayaan publik yang telah terjadi jauh sebelum teknologi AI berkembang.

“AI generatif akan tetap ada. AI tidak menciptakan disinformasi. Yang berubah adalah aspek ekonominya. Kini jauh lebih mudah memproduksi informasi palsu dalam skala besar. Yang kita lihat di atas segalanya adalah adanya defisit kepercayaan, bukan hanya terhadap institusi, tetapi juga terhadap media,” katanya.

Menurut Noel, kondisi tersebut menjadi perhatian ASEAN dalam penyusunan ASEAN Work Plan for Information and Media 2026–2035.

Rencana kerja itu memuat lima pilar utama, yaitu memperluas akses informasi, menjaga integritas informasi, meningkatkan produksi konten, mempercepat transformasi digital, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Selain itu, ASEAN juga mendorong peningkatan literasi media, penggunaan AI secara bertanggung jawab, serta penguatan kapasitas media agar mampu menghadapi tantangan era digital.

3. Media harus bisa ikuti perubahan perilaku audiens

Ilustrasi jurnalis (IDN Times/Lia Hutasoit)

Para pembicara juga menyoroti perubahan cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengakses informasi. Media sosial dan platform digital kini menjadi pintu utama masyarakat memperoleh berita, menggantikan media konvensional.

Jaemark mengatakan generasi muda kini tidak hanya mencari informasi melalui media massa, tetapi juga mulai mengandalkan chatbot berbasis AI. Karena itu, media perlu menyesuaikan strategi agar tetap relevan.

Akhyari menambahkan, banyak anak muda kini lebih memilih platform visual seperti TikTok dibandingkan mesin pencari konvensional. Untuk menjangkau kelompok tersebut, medianya mengembangkan konten interaktif dan berbasis video hingga mampu meraih hampir lima miliar tayangan dalam setahun.

Meski demikian, ia mengingatkan algoritma media sosial lebih mengutamakan keterlibatan pengguna dibandingkan akurasi informasi.

“Media sosial tidak peduli apakah sebuah konten palsu, akurat, atau dibuat-buat. Yang penting bagi mereka adalah seberapa lama konten itu membuat orang tetap berada di platform. Kita tidak bisa berbuat banyak terhadap itu. Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi dengan algoritma baru tersebut,” ujarnya.

Mereka juga menekankan, transformasi digital tidak boleh menggeser peran media tradisional. Televisi dan radio tetap menjadi saluran penting untuk menyampaikan informasi resmi, terutama saat terjadi bencana maupun bagi masyarakat di daerah terpencil yang memiliki akses informasi terbatas.

Selain itu, mereka mendorong kerja sama media lintas negara ASEAN agar pemberitaan mengenai isu-isu kawasan semakin kuat dan masyarakat ASEAN lebih memahami perkembangan di negara-negara tetangga. Dengan memadukan inovasi teknologi, standar jurnalistik, dan kolaborasi regional, media dinilai akan tetap menjadi jembatan penting antara masyarakat dan kebijakan ASEAN.

Editorial Team

Related Article