Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menlu Bangladesh Terpilih Jadi Ketua Majelis Umum PBB
Menteri Luar Negeri Bangladesh, Khalilur Rahman, sedang berpidato dalam acara Hari Internasional untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 24 Maret 2026. (commons.wikimedia.org/Press Information Department of Bangladesh)
  • Khalilur Rahman, Menlu Bangladesh, terpilih sebagai Ketua Majelis Umum PBB ke-81 setelah unggul tipis atas Andreas Kakouris dari Siprus dalam pemungutan suara di Markas Besar PBB, New York.
  • Rahman mengakui tantangan besar yang akan dihadapi, termasuk ketegangan geopolitik akibat perang di Timur Tengah dan Eropa yang menguji kredibilitas serta peran PBB dalam menjaga perdamaian global.
  • Ia berkomitmen memperkuat diplomasi untuk mengakhiri konflik dunia serta mendorong kesetaraan gender dengan meningkatkan partisipasi perempuan dalam operasi perdamaian dan pengambilan keputusan internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Bangladesh, Khalilur Rahman, resmi terpilih menjadi Ketua Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ke-81. Ia akan mulai bertugas pada September mendatang.

Rahman resmi terpilih dalam proses pemungutan suara yang digelar di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat (AS), Selasa (2/6/2026). Dalam pemilihan itu, ada 190 suara yang masuk. Dari jumlah tersebut, Rahman mendapatkan 99 suara, sedangkan rivalnya, Andreas Kakouris, yang berasal dari Siprus, mendapatkan 91 suara. Pencapaian tersebut membuat Rahman praktis memenangi voting dan terpilih menjadi Ketua Majelis Umum PBB yang baru. 

1. Ketua Majelis Umum PBB sebelumnya memberi selamat

potret Ketua Majelis Umum PBB, Annalena Baerbock (flickr.com/gruenenrw via commons.wikimedia.org/Bündnis 90/Die Grünen Nordrhein-Westfalen)

Eks Menlu Jerman yang menjabat sebagai Ketua Majelis Umum PBB sebelumnya, Annalena Baerbock, mengucapkan selamat kepada Rahman usai dirinya terpilih menjadi Ketua Majelis Umum PBB. Ia yakin, Rahman bisa menjalankan tugas sebaik mungkin bahkan lebih baik daripada saat ia memimpin. Apalagi, tugas Ketua Majelis Umum PBB kini tidak sederhana dan penuh tantangan. 

"Peran Presiden Majelis Umum bukan lagi sekadar prosedural, membacakan notulen, karena bahkan dalam aturan prosedural itu sendiri, aturan tersebut sedang dipertanyakan, seperti yang telah kita alami berkali-kali sebelumnya," ujar Baerbock, seperti dilansir Anadolu Agency.

2. Rahman mengakui tantangan menjadi Ketua Majelis Umum PBB

potret sidang Majelis Umum PBB (flickr.com/U.S. Department of the Interior via commons.wikimedia.org/U.S. Department of the Interior)

Rahman sendiri mengakui tantangan yang akan ia hadapi saat menjabat sebagai Ketua Majelis Umum PBB. Sebab, situasi geopolitik kini sedang tidak stabil karena perang di Timur Tengah yang terjadi antara Iran melawan AS dan Israel. Belum lagi perang di Eropa antara Rusia dan Ukraina. Meski begitu, Rahman optimistis bisa melewati semua tantangan itu dengan mulus.  

“PBB sedang diuji di berbagai bidang. Salah satu contohnya momok konflik dan perang yang darinya organisasi kita bertujuan untuk menyelamatkan generasi penerus kita, terus menimbulkan penderitaan yang tak terhitung. Secara keseluruhan, tantangan-tantangan ini cenderung merusak kepercayaan publik terhadap kemampuan organisasi kita untuk menepati janjinya dan ini adalah tantangan yang akan saya hadapi bersama Anda semua,” kata Rahman. 

3. Rahman berjanji akan menjaga perdamaian dunia

ilustrasi perdamaian (unsplash.com/Road Ahead)

Oleh karena itu, sebagai Ketua Majelis Umum PBB yang baru, Rahman berjanji akan melakukan upaya diplomasi untuk mengakhiri perang yang kini sedang terjadi Timur Tengah dan Eropa. Langkah ini bertujuan untuk menjaga perdamaian dunia. Sebab, menurutnya, mandat PBB sudah jelas, yakni memastikan kehidupan dunia aman dan sentosa tanpa ada konflik. 

Selain itu, Rahman juga berjanji akan mendorong kesetaraan gender, terutama dalam menjaga perdamaian dunia. Sebab, menurutnya, partisipasi perempuan dalam operasi perdamaian masih sedikit dibandingkan dengan laki-laki.

"Saya akan mendukung dialog untuk membuat operasi perdamaian lebih sesuai dengan tujuannya dan mengadvokasi representasi perempuan yang lebih besar dalam operasi perdamaian. Saya akan memperhatikan pencapaian kesetaraan gender dan partisipasi penuh dan bermakna perempuan dan anak perempuan dalam semua aspek kehidupan," tutup Rahman. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article