3 Fakta Iran Siap Menjalani Perang Panjang di Selat Hormuz Lawan AS

- Iran merombak struktur komando dengan melantik enam pejabat senior dan mengintegrasikan staf umum serta markas operasi, seiring pergeseran doktrin militer menjadi lebih ofensif.
- Teheran menyiapkan perang berkepanjangan melawan AS di Selat Hormuz setelah negosiasi buntu, dengan strategi menguras daya tahan politik dan militer lawan.
- Eskalasi konflik menurunkan aktivitas pelayaran komersial, mengganggu logistik energi, serta memicu pencemaran minyak yang merusak mangrove Pulau Qeshm dan pesisir Oman.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran merombak struktur komando militer dan bersiap mengoperasikan strategi pertempuran jangka panjang dengan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz pada Rabu (12/8/2026). Langkah strategis tersebut diambil setelah proses negosiasi perdamaian antara Tehran dan Washington mengalami jalan buntu, sementara kedua pihak saling mengklaim kendali atas jalur pelayaran energi vital tersebut.
Kebijakan teranyar yang digulirkan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei ini mengubah doktrin militer Iran menjadi lebih ofensif guna memberikan efek jera kepada pihak lawan. Komando militer Iran menegaskan kesiapan armada tempurnya untuk melancarkan operasi di wilayah musuh demi mengamankan kedaulatan negara dari ancaman luar.
1. Iran merombak struktur militer dan menerapkan doktrin ofensif

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei (Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei resmi melantik enam pejabat militer senior untuk mengisi posisi kunci di angkatan bersenjata. Langkah penataan ulang ini bertujuan menyatukan struktur komando pertahanan setelah serangkaian konflik bersenjata yang memanas. Angkatan Bersenjata Iran kini mengintegrasikan staf umum dengan markas komando operasi untuk mempercepat pengambilan keputusan di medan perang.
Dilansir Times of India, pengangkatan jajaran komandan baru ini menandai pergeseran nyata menuju doktrin militer ofensif. Komandan baru Garda Revolusi Iran (IRGC), Ahmad Vahidi, diperintahkan untuk menyiapkan operasi tempur yang kuat terhadap musuh. Kebijakan ini diambil untuk memperkuat posisi tawar Iran di tengah tekanan militer dan ekonomi dari negara-negara barat.
2. Teheran siapkan strategi perang panjang hingga masa jabatan Trump usai

ilustrasi tentara (pexels.com/AHMED ABUBAKAR BATURE) Pejabat militer Iran mengondisikan pasukannya untuk menghadapi skenario pertempuran menguras tenaga secara berkepanjangan. Strategi ini dirancang untuk menahan gempuran sekaligus melemahkan daya tahan politik serta militer lawan. Pihak Iran menilai ketegangan di kawasan Selat Hormuz tidak akan selesai dalam waktu dekat selama tuntutan utama mereka belum dipenuhi.
Dilansir Iran International, penasihat senior komandan Garda Revolusi Iran, Mohammad Reza Naqdi, mengonfirmasi peluang perpanjangan konflik tersebut pada Selasa (11/8/2026).
"Salah satu caranya adalah memperpanjang perang ini hingga masa jabatan presiden berikutnya dan menyebabkan perang urat saraf, sehingga jika ada orang lain yang ingin menyerang Iran, mereka tahu ada harga yang harus dibayar," kata Naqdi. Keterangan tersebut menegaskan niat Iran membangun daya tangkal maksimal agar militer Amerika Serikat tidak kembali melancarkan serangan di masa depan.
3. Konflik di Selat Hormuz memicu gangguan pelayaran dan krisis lingkungan

Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons) Aktivitas perkapalan komersial di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis akibat eskalasi militer yang terus berlangsung. Pengetatan jalur pelayaran dan pengawasan ketat terhadap kapal-kapal non-militer memicu penumpukan logistik, sehingga memaksa produsen energi global mencari rute alternatif.
Eskalasi konflik dan krisis di perairan strategis ini juga berdampak buruk bagi ekosistem laut Teluk Persia. Dilansir Iran International, kawasan hutan mangrove di Pulau Qeshm milik Iran mulai tercemar tumpahan minyak yang diduga berasal dari serangan terhadap kapal Minoan Pioneer.
Secara terpisah, ancaman krisis lingkungan juga meluas ke pesisir Oman akibat tumpahan minyak skala besar dari kapal tanker Caroline Bezengi yang kandas di perairan tersebut sejak akhir Juni 2026. Kedua insiden tumpahan minyak ini makin memperparah kerusakan lingkungan di sekitar perairan Jalur Hormuz.





















