Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menlu Filipina: Kemauan Politik ASEAN-China soal CoC Menguat!
Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro di ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Menlu Filipina Maria Theresa Lazaro menilai kemauan politik ASEAN dan China menguat untuk menyelesaikan Code of Conduct Laut China Selatan, terlihat dalam forum-forum ASEAN pekan lalu.
  • Ketegangan di Selat Hormuz mendorong perhatian bersama agar Laut China Selatan tetap terbuka dan aman bagi pelayaran internasional, tanpa menjadi titik krisis atau gangguan perdagangan global.
  • Negosiasi CoC kini digelar bulanan; Filipina menuntut kesepakatan berbasis UNCLOS 1982, tidak mengurangi hak negara ketiga, dan mengatur perilaku para pihak di laut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Manila, IDN Times - Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro menilai negosiasi Code of Conduct (CoC) Laut China Selatan memasuki fase yang lebih menjanjikan. Menurutnya, ASEAN dan China kini menunjukkan kemauan politik yang semakin kuat untuk menyelesaikan perundingan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Optimisme tersebut, kata Lazaro, terlihat dari pembahasan yang berlangsung dalam berbagai forum ASEAN pekan lalu, mulai dari East Asia Summit (EAS), ASEAN Regional Forum (ARF), hingga berbagai pertemuan ASEAN dengan mitra dialog.

Ia menilai perkembangan situasi geopolitik global, khususnya ketegangan di Selat Hormuz, turut mendorong kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga Laut China Selatan tetap terbuka bagi pelayaran internasional dan tidak menjadi sumber krisis baru.

“Saya merasakan dalam berbagai pembahasan, baik di EAS, ARF, maupun pertemuan ASEAN dengan para mitra, sudah ada kemauan politik dari ASEAN dan China untuk menghasilkan Code of Conduct,” ujar Lazaro dalam ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila, Filipina, Rabu (29/7/2026).

1. Laut China Selatan jangan menjadi titik krisis baru

Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro di ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Lazaro mengatakan situasi di Selat Hormuz menjadi pengingat bagi semua pihak mengenai pentingnya menjaga jalur pelayaran internasional tetap aman dan terbuka.

Menurutnya, ASEAN dan China memiliki kepentingan yang sama agar Laut China Selatan tidak berkembang menjadi choke point atau titik penyumbatan yang dapat mengganggu arus perdagangan global.

“Saya kira kemauan itu juga muncul karena apa yang sedang terjadi di Selat Hormuz. Kita tidak boleh memiliki titik penyumbatan lain,” katanya kepada awak media seluruh ASEAN.

Ia menambahkan, kebebasan navigasi dan prinsip-prinsip lain yang berkaitan dengan pelayaran internasional harus tetap dijaga sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan.

“Sangat penting menjaga jalur pelayaran ini. Kebebasan navigasi dan berbagai prinsip lainnya harus tetap dipertahankan. Kami tidak ingin hal itu terjadi di Laut China Selatan,” ujarnya.

2. Negosiasi kini digelar setiap bulan

Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro di ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Lazaro mengungkapkan proses perundingan CoC kini berjalan lebih intensif dibandingkan sebelumnya. Jika sebelumnya para negosiator hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, kini pertemuan dilakukan setiap bulan.

Menurut dia, Filipina akan kembali menjadi tuan rumah sekaligus memimpin pertemuan para negosiator CoC pada Agustus mendatang.

Peningkatan frekuensi perundingan tersebut dinilai menjadi salah satu indikator adanya keseriusan ASEAN dan China untuk mempercepat penyelesaian CoC.

Meski demikian, Lazaro menegaskan bahwa percepatan proses tidak boleh mengorbankan kualitas substansi dari kesepakatan yang dihasilkan.

3. Filipina tekankan tiga prinsip utama CoC

Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro di ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Lazaro mengatakan Filipina tidak menginginkan CoC yang hanya mengejar penyelesaian cepat tanpa memberikan kepastian hukum maupun manfaat bagi kawasan. “Sering ada komentar bahwa lebih baik tidak memiliki CoC daripada memiliki CoC yang buruk. Saya tidak berpikir ASEAN maupun China menginginkan CoC yang buruk,” ujarnya.

Ia menjelaskan terdapat tiga prinsip utama yang terus diperjuangkan Filipina dalam perundingan tersebut. Pertama, CoC harus berada dalam kerangka Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982.

Kedua, kesepakatan tersebut tidak boleh mengurangi hak-hak negara ketiga. Ketiga, CoC harus mengatur perilaku para pihak di laut.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn juga menyampaikan optimisme bahwa negosiasi CoC dapat diselesaikan pada tahun ini. Ia mengatakan ASEAN dan China kini mempercepat perundingan melalui pertemuan bulanan dan terus berupaya mempersempit berbagai perbedaan agar dapat menghasilkan CoC yang substantif dan efektif.

Curated For You

Editorial Team

Related Article