Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Militer Israel Paksa Ribuan Warga Palestina Mengungsi dari Hebron
Israel Defense Forces (Israel Defense Forces, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Militer Israel memaksa sekitar 1.500 warga Palestina dari 250 keluarga mengungsi di Hebron setelah serangan terhadap pos pemeriksaan menewaskan dua tentara Israel.
  • Pasukan Israel menutup akses Hebron, memeriksa puluhan orang, dan menangkap 13 warga Palestina dalam operasi yang diklaim untuk mencari infrastruktur teroris.
  • Otoritas Palestina memperingatkan ancaman pemindahan paksa dan pembersihan etnis, sementara Netanyahu mengonfirmasi persiapan serangan besar-besaran serta penggerebekan rumah di Tepi Barat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Militer Israel memaksa sekitar 1.500 warga Palestina dari 250 keluarga mengungsi dari kediaman mereka di Hebron, Tepi Barat bagian selatan, sejak Jumat (23/10/2026). Pihak Kotamadya Hebron pada Sabtu (24/10/2026) menyatakan militer berencana mengusir sebanyak 2.500 warga lainnya dalam beberapa jam ke depan.

Operasi militer dan penutupan kota diberlakukan setelah dua warga Palestina melepaskan tembakan ke pos pemeriksaan Israel. Peristiwa tersebut menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga tentara lainnya, serta menewaskan kedua penyerang, menurut data pihak Israel.

1. Perintah evakuasi paksa menyasar ratusan keluarga

ilustrasi pengungsi (pexels.com/Sanjeev Kumar)

Berdasarkan keterangan Kotamadya Hebron yang dilaporkan Anadolu, keluarga yang terdampak pengusiran bermukim di lingkungan Deir Bahha dan al-Jalda yang secara keseluruhan dihuni 500 keluarga. Sementara itu, laporan Xinhua mencatat keterangan Wali Kota Hebron Tayseer Abu Sneineh bahwa sekitar 500 keluarga telah mengungsi dari lingkungan al-Jalda saja. Pasukan Israel menandai rumah-rumah yang telah dikosongkan dan membagikan pemberitahuan yang memerintahkan keluarga tersisa untuk segera pergi tanpa membawa kendaraan mereka.

Warga al-Jalda, Ibrahim al-Natsha (47 tahun), menceritakan dia harus membangunkan ketiga anaknya pada Jumat larut malam setelah mendengar perintah evakuasi melalui pengeras suara. "Hal yang paling menyakitkan bagi saya adalah melihat anak-anak saya pergi tanpa memahami mengapa mereka harus pergi atau kapan mereka bisa kembali. Sebagai seorang ayah, tentu saja saya ingin melindungi anak-anak saya dan membuat mereka merasa aman, tetapi saya tidak bisa memberi tahu mereka apa yang akan terjadi selanjutnya," kata al-Natsha kepada Xinhua.

Warga lainnya, Suhaila al-Hashlamoun (30 tahun), menceritakan bahwa warga yang melarikan diri, termasuk dirinya, harus menjalani pemeriksaan keamanan serta interogasi sebelum diizinkan pergi. Dia merasa cemas terhadap kondisi rumah dan barang-barang yang terpaksa ditinggalkan. "Kamu meninggalkan kenanganmu dan tempat di mana anak-anakmu merasa betah. Kamu terus bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi pada rumahmu selama kamu pergi. Yang paling kami inginkan hanyalah kembali dan hidup tanpa rasa takut," tutur dia.

2. Pengepungan kota dan penangkapan belasan warga

Tepi Barat (pexels.com/abu adel)

Pihak militer Israel mengumumkan operasi di Hebron bertujuan menggagalkan terorisme setelah mengklaim para pelaku penyerangan pos pemeriksaan berasal dari area sasaran. Pasukan militer menyatakan mereka mencari "infrastruktur teroris" serta peralatan tempur, sekaligus memeriksa puluhan orang yang dicurigai dalam operasi yang diperkirakan berlangsung beberapa hari.

Sumber keamanan dan saksi mata melaporkan bahwa pasukan Israel telah menangkap 13 warga Palestina selama operasi tersebut berjalan. Pasukan militer juga menutup akses pintu masuk Kota Hebron beserta jalan-jalan penghubung ke desa-desa, kota-kota di sekitarnya, dan kamp-kamp pengungsi.

Wali Kota Hebron, Tayseer Abu Sneineh, memaparkan kawasan al-Jalda mencakup area sekitar 35 hektare dan masuk klasifikasi Area A di bawah Kesepakatan Oslo yang berada di bawah kendali sipil serta keamanan Otoritas Palestina. Abu Sneineh secara tegas menilai tindakan pengungsian paksa terhadap warganya sebagai bentuk hukuman kolektif.

3. Peringatan ancaman pembersihan etnis di Tepi Barat

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (UK Government, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Kementerian Luar Negeri Palestina memperingatkan bahaya dari pernyataan otoritas Israel yang mengancam akan memperluas pemindahan paksa, evakuasi, dan perusakan lingkungan warga di Hebron. Pihak kementerian menilai ancaman tersebut sebagai upaya mengulang kembali tragedi "Nakba" dan melaksanakan pembersihan etnis. Mereka menginstruksikan seluruh kedutaan dan misi diplomatik Palestina untuk mendesak tindakan internasional yang tegas terhadap langkah Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (23/10/2026), di tengah serbuan militer pasukannya ke Hebron, mengonfirmasi bahwa militernya sedang menyiapkan serangan besar-besaran di Tepi Barat. Netanyahu menyatakan operasi itu mencakup penggerebekan rumah dan pemindahan warga Palestina dari permukiman mereka. "Kami akan melakukan di sini apa yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Kami akan menerapkan model serangan sukses yang kami terapkan di kamp-kamp pengungsi," kata Netanyahu, merujuk pada operasi militer Israel di wilayah utara Tepi Barat.

Direktur Mediterranean Center for Regional Studies, Ahmed Rafiq Awad, menilai operasi militer ini mencerminkan langkah pemerintah sayap kanan Israel untuk mengubah kenyataan di lapangan dan memperketat kendali atas Tepi Barat. Awad menegaskan bahwa pengusiran penduduk dan penghancuran tempat tinggal pascainsiden tewasnya tentara harus dilihat dalam konteks kebijakan Israel yang lebih luas, bukan sekadar respons atas serangan tunggal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article