Menurut Iran International, penggunaan senjata nuklir ini diusulkan oleh Ketua Komite Urusan Internasional parlemen Iran, Mohammad Saleh Jokar. Jokar disebut telah meminta angkatan bersenjata Iran untuk menggunakan serangkaian senjata baru, termasuk bom nuklir, untuk membalas serangan AS dan Israel jika memang suatu saat nanti kedua negara tersebut kembali meluncurkan serangan ke Iran.
Iran Disebut Bakal Pakai Senjata Nuklir Jika Diserang AS-Israel

- Laporan WSJ menyebut Iran menyebarkan pesan bahwa senjata nuklir dapat digunakan bila AS dan Israel kembali menyerang, berdasarkan usulan Ketua Komite Urusan Internasional parlemen Iran Mohammad Saleh Jokar.
- Jokar mengusulkan serangan terhadap pangkalan dan kapal perang AS serta fasilitas di negara Teluk Persia, termasuk situs energi, pipa minyak, bandara, dan rumah warga.
- Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan dampak perang bagi warga sipil dan ekonomi global, sementara pengamat menyebut Iran membangun kembali produksi rudal, drone, dan senjata lain.
Jakarta, IDN Times - Iran disebut akan menggunakan senjata nuklir jika Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali memulai perang. Wall Street Journal (WSJ) dalam laporannya menyebut kabar ini tersebar ke publik dan ke saluran komunikasi diplomatik di Timur Tengah pada Sabtu (24/10/2026) kemarin.
1. Senjata nuklir akan digunakan untuk menyerang fasilitas AS dan negara Teluk Persia

ilustrasi pangkalan militer (pexels.com/Soly Moses) Jokar menambahkan, senjata nuklir ini nantinya akan digunakan oleh Iran untuk menyerang pangkalan militer dan kapal perang AS serta sejumlah fasilitas publik yang ada di negara-negara di Kawasan Teluk Persia. Beberapa di antaranya, situs energi, pipa minyak, bandara, hingga rumah warga. Serangan tersebut akan dilakukan jika AS dan Israel kembali menyerang.
"Ia telah meminta Otoritas Republik Islam (Iran) untuk membela negara dan untuk tujuan pencegahan, mengizinkan penggunaan senjata pencegah, termasuk senjata nuklir, jika terjadi serangan AS terhadap Iran," bunyi laporan Iran International yang menjelaskan saran Jokar kepada angkatan bersenjata Iran dikutip Jerusalem Post.
2. Menteri Luar Negeri Iran sudah mewanti-wanti AS dan Israel jangan menyerang

potret Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi (commons.wikimedia.org/محمد برنو) Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebetulnya sudah mewanti-wanti AS dan Israel untuk jangan melanjutkan perang. Sebab, menurutnya, perang hanya akan berdampak buruk bagi perekonomian global dan seluruh warga sipil di Kawasan Timur Tengah. Peringatan ini ia sampaikan usai mendengar kabar yang menyebut Presiden AS, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu berencana menyerang Iran usai pemilihan umum (pemilu) di kedua negara selesai digelar.
AS sendiri akan menggelar pemilu sela pada 3 November 2026. Dalam pemilu tersebut, warga AS akan memilih anggota parlemen dan senat. Trump berambisi memenangkan Partai Republik dalam pemilu ini agar partainya bisa menguasai parlemen dan senat AS. Sementara itu, pemilu Israel akan dihelat pada 27 Oktober mendatang. Dalam pemilu tersebut, warga Israel akan memilih perdana menteri baru.
“Serangan baru akan membahayakan nyawa warga sipil dan kesejahteraan semua negara di kawasan serta perekonomian global," kata Araghchi dalam tulisan opininya yang dimuat di majalah Financial Times beberapa waktu lalu.
3. Iran punya banyak persediaan senjata untuk memulai perang dengan AS-Israel

potret rudal Iran (unsplash.com/Moslem Daneshzadeh) Menurut sejumlah pengamat, Iran saat ini punya banyak persediaan senjata, termasuk senjata nuklir, untuk kembali memulai perang dengan AS dan Israel. Sebab, Teheran terus meningkatkan produksi rudal balistik, drone, dan sejumlah senjata lainnya untuk berjaga-jaga jika Washington dan Tel Aviv kembali menyerang. Produksi tersebut dilakukan secara rahasia di fasilitas bawah tanah.
Sebetulnya, semua situs produksi senjata milik Iran sempat hancur lebur akibat serangan AS dan Israel dalam operasi militer Epic Furry pada 28 Februari lalu. Washington dan Tel Aviv sengaja menyerang fasilitas vital tersebut untuk menghancurkan kekuatan militer Teheran. Namun, sejumlah sumber intelijen melaporkan bahwa Iran belakangan ini sudah berhasil membangun dan memperbaiki kembali situs-situs produksi senjata mereka yang rusak usai digempur AS dan Israel.





















