Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Militer Thailand Bangun Tembok 8,4 Km di Perbatasan Kamboja
Bendera Thailand (unsplash.com/Markus Winkler)
  • Militer Thailand membangun tembok perbatasan sepanjang 8,4 kilometer di Chanthaburi untuk mencegah penyelundupan orang dan barang; tahap awal satu kilometer telah selesai.

  • Tembok setinggi 3,6 meter membelah perkebunan warga desa, mengurangi lahan produktif dan membatasi mobilitas lintas batas, meski sebagian warga menerimanya demi keamanan.

  • Kamboja meminta penetapan koordinat perbatasan disepakati Komisi Bersama terlebih dahulu, setelah sengketa sebelumnya memicu bentrokan 2025 dan pengungsian warga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Thailand melalui angkatan bersenjatanya mulai mendirikan tembok pembatas sepanjang 8,4 kilometer di garis perbatasan timur dengan Kamboja. Langkah strategis ini diambil guna memperketat pengawasan teritorial sekaligus mencegah potensi ancaman terhadap stabilitas kawasan.

Pembangunan barikade pengaman tersebut direalisasikan menyusul dinamika konflik yang sempat memanas di antara kedua negara bertetangga. Keberadaan proyek pertahanan darat ini diharapkan mampu meminimalkan gesekan dan menjaga keamanan wilayah perbatasan dalam jangka panjang.

1. Pembangunan tembok untuk cegah kejahatan lintas batas

Wilayah pelintasan perbatasan Kamboja dan Thailand. (commons.wikimedia.org/Jorge Láscar)

Tembok pembatas setinggi 3,6 meter ini dibangun menggunakan material beton bertulang, jaring baja galvanis, dan kawat berduri di Distrik Pong Nam Ron, Provinsi Chanthaburi. Saat ini, proyek perbatasan tersebut telah merampungkan pembangunan tahap awal sepanjang satu kilometer dari total target 8,4 kilometer.

Militer Thailand memfokuskan pemasangan barikade ini untuk memutus pergerakan ilegal yang kerap memanfaatkan celah perbatasan darat.

"Kami membangun pagar ini untuk mencegah aktivitas terlarang, khususnya penyelundupan orang dan barang," tegas Komandan Satuan Tugas Marinir Angkatan Laut Kerajaan Thailand di Chanthaburi, Kapten Prachya Hantiem.

Pihak militer juga menggarisbawahi bahwa seluruh fondasi bangunan didirikan sepenuhnya di dalam wilayah teritorial mereka tanpa melanggar kedaulatan Kamboja. Untuk menjamin transparansi, pengerjaan proyek ini dipantau langsung oleh personel militer Kamboja di setiap tahapannya.

2. Warga lokal pasrah lahan perkebunannya terbelah tembok

ilustrasi Chiang Rai, Thailand (pexels.com/icon0 com)

Pembangunan tembok ini membelah area perkebunan milik warga di sebuah desa berpenduduk kurang dari 200 jiwa di Provinsi Chanthaburi. Sebagian besar penduduk setempat sangat menggantungkan hidupnya pada budi daya jagung serta buah-buahan seperti durian dan kelengkeng.

Berdirinya barikade beton ini secara otomatis memangkas luas lahan produktif milik warga. Selain memakan lahan, tembok permanen ini juga membatasi mobilitas warga yang sebelumnya terbiasa saling berkunjung melintasi batas negara.

"Kami menerimanya dan kami rela kehilangan sebagian tanah demi mendapatkan keamanan," tutur Suwin Muangmeung, seorang pemilik toko kelontong di kawasan tersebut.

3. Kamboja dorong penyelesaian tapal batas lewat komisi bilateral

Gambar ilustrasi kerja sama bilateral antara Indonesia dan Uni Eropa dalam kesepakatan IEU-CEPA

Garis batas darat sepanjang 800 kilometer antara kedua negara ditetapkan berdasarkan perjanjian era Siam dengan kolonial Prancis pada kurun 1863 hingga pertengahan 1950-an. Guna menjaga nilai historisnya, militer merancang gerbang perlintasan khusus pada dinding beton agar posisi pilar batu berukir tulisan Siam dan tanda batas Prancis tidak terganggu.

Perselisihan tapal batas ini sebelumnya sempat memicu bentrokan bersenjata yang mematikan pada Juli dan Desember 2025, yang menelan korban jiwa dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada akhir Desember 2025, sekitar 20.000 warga Kamboja dilaporkan masih telantar di tenda-tenda pengungsian.

Otoritas Kamboja pun mendesak agar penentuan titik koordinat perbatasan disepakati terlebih dahulu melalui Komisi Bersama Perbatasan guna mencegah sengketa tapal batas di kemudian hari.

"Hal yang kami inginkan adalah komisi bersama dari kedua negara mencapai kesepakatan tapal batas terlebih dahulu sebelum pagar itu didirikan," tegas Direktur Jenderal Departemen Urusan Teknis Sekretariat Negara Urusan Perbatasan Kamboja, Sreu Bora.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article