Di Markas ASEAN Jakarta, PM Thailand Ajak Kamboja Pulihkan Hubungan

- PM Thailand Anutin Charnvirakul mengajak Kamboja memulihkan kepercayaan lewat dialog bilateral dan penyelesaian damai sesuai hukum internasional dalam pidatonya di Jakarta.
- Anutin menyebut kesepakatan dialog lebih intensif dengan PM Kamboja di Cebu, namun menilai langkah compulsory conciliation yang diajukan Kamboja bertentangan dengan kesepakatan itu.
- Thailand menyatakan siap membuka lembaran baru sambil menjaga persatuan ASEAN; kedua negara masih memegang gencatan senjata, meski ketegangan perbatasan tetap terasa.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengajak Kamboja membangun kembali kepercayaan melalui dialog bilateral serta penyelesaian perbedaan secara damai sesuai hukum internasional demi menjaga persatuan ASEAN.
Dalam policy speech mengenai masa depan ASEAN di Markas Besar ASEAN, Jakarta, Selasa (4/8/2026), Anutin mengatakan, setiap perselisihan di antara negara anggota ASEAN harus diselesaikan dengan itikad baik dan mengedepankan kerja sama.
Menurut dia, sebagai negara tetangga, Thailand dan Kamboja akan selalu saling membutuhkan sampai kapan pun.
1. Singgung hubungan dengan Kamboja

Anutin mengatakan, dirinya telah bertemu dengan Perdana Menteri Kamboja di Cebu. Bahkan, kata dia, kedua pemimpin sepakat memulihkan kepercayaan melalui dialog bilateral yang lebih intensif.
Namun, menurut dia, langkah compulsory conciliation yang kemudian ditempuh Kamboja tidak sejalan dengan kesepakatan tersebut.
“Saat saya bertemu dengan mitra saya dari Kamboja di Cebu, kami sepakat memulihkan kepercayaan melalui dialog bilateral yang lebih mendalam. Compulsory conciliation yang kemudian diajukan Kamboja bertentangan dengan apa yang telah kami sepakati,” kata dia.
2. Thailand siap buka lembaran baru

Meski demikian, Anutin menegaskan Thailand tetap membuka ruang untuk memperbaiki hubungan dengan negara tetangganya.
“Thailand siap membuka lembaran baru dengan negara tetangga kami. Kami tetap berkomitmen menyelesaikan perbedaan secara damai dan sesuai hukum internasional,” ujar dia.
Dia mengatakan, penyelesaian sengketa harus tetap mengedepankan kepentingan kawasan dan tidak mengganggu kerja sama ASEAN.
3. Persatuan ASEAN harus terus dijaga

Anutin menilai ASEAN memerlukan persatuan yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persaingan geopolitik hingga ancaman keamanan lintas negara.
Karena itu, menurut dia, seluruh negara anggota perlu menjaga komunikasi dan menyelesaikan setiap perbedaan melalui mekanisme damai.
“Kami tetap berkomitmen menjaga persatuan ASEAN dan agenda bersama kawasan,” kata Anutin.
Kedua negara kembali berseteru di perbatasan tahun lalu. Namun, gencatan senjata sudah disepakati saat KTT ASEAN di Malaysia 2025.
Kini, keduanya masih memegang gencatan senjata, namun ketegangan di perbatasan masih terasa.



















