Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Parlemen Mesir Restui Dukungan Militer untuk Arab Saudi
ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri)
  • Parlemen Mesir menyetujui mandat bagi Presiden Abdel Fattah el-Sisi untuk memberi dukungan militer kepada Arab Saudi menghadapi serangan Houthi, dengan fokus melindungi wilayah dan kedaulatan Riyadh.
  • Dukungan Mesir dapat berupa sistem pertahanan udara dan pesawat untuk menghadapi rudal serta drone, tanpa pengerahan pasukan darat ke Yaman; keamanan Selat Bab al-Mandab juga menjadi perhatian.
  • Kairo tetap mengutamakan diplomasi bersama PBB untuk mencegah eskalasi, sementara sebagian oposisi abstain karena rincian operasi belum jelas dan pengalaman intervensi Yaman pada 1960-an menjadi pertimbangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Parlemen Mesir memberikan wewenang kepada Presiden Abdel Fattah el-Sisi untuk mengerahkan dukungan militer bagi Arab Saudi di tengah serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Persetujuan tersebut disahkan dalam sidang yang dipimpin Ketua Parlemen Hisham Badawi pada Senin (26/10/2026).

Mandat itu ditujukan untuk membantu Riyadh melindungi wilayah dan kedaulatannya dari agresi eksternal. Konstitusi Mesir mewajibkan persetujuan dua pertiga anggota parlemen untuk mengerahkan pasukan ke luar negeri, sedangkan sidang pengesahan tersebut didominasi legislator pendukung pemerintah.

1. Mesir siapkan sistem pertahanan udara untuk Arab Saudi

ilustrasi jet tempur (pexels.com/pexels.com/Emrah Aslantepe)

Melalui pernyataan parlemen yang dikutip Reuters, el-Sisi mendapat kewenangan mengambil langkah yang diperlukan apabila Arab Saudi meminta bantuan setelah serangan Houthi menyasar Bandar Udara Internasional Riyadh dan fasilitas Aramco. Serangan itu dilaporkan sempat mengganggu penerbangan dan ekspor minyak di kawasan tersebut.

Seorang pejabat regional yang mendapat pengarahan menyebut dukungan Mesir akan dipusatkan pada sistem pertahanan udara dan pesawat untuk menghadapi rudal serta drone. Bantuan tersebut tidak mencakup pengerahan pasukan darat ke Yaman, sementara el-Sisi menyatakan bahwa tujuannya terbatas pada perlindungan wilayah Arab Saudi dan perbatasannya.

Dilansir Al Jazeera, Nawaf Obaid, visiting senior research fellow di King’s College London, menilai pejabat Arab Saudi menginginkan kepastian bahwa bantuan Mesir tersedia jika sewaktu-waktu diperlukan. Mesir juga berkepentingan menjaga keamanan kawasan karena serangan Houthi di sekitar Selat Bab al-Mandab berpotensi mengganggu jalur pelayaran menuju Terusan Suez dan mengurangi pendapatan kanal tersebut.

2. Mesir utamakan diplomasi di tengah ketegangan Yaman

ilustrasi ruang pertemuan pejabat tinggi negara (pexels.com/Jan van der Wolf)

Berdasarkan keterangan kepresidenan Mesir, el-Sisi bertemu dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres di Kairo untuk membahas langkah pencegahan eskalasi konflik. Menteri Luar Negeri Badr Abdelatty juga menyampaikan bahwa pemerintah Mesir tetap memprioritaskan penyelesaian diplomatik, terlebih Arab Saudi merupakan salah satu penyokong keuangan utama Kairo yang telah menyalurkan bantuan miliaran dolar sejak el-Sisi berkuasa pada 2013.

El-Sisi menanggapi spekulasi mengenai kemungkinan Mesir terlibat dalam serangan ke Yaman dengan menyampaikan keberatannya terhadap pembicaraan tersebut.

“Saya telah mendengar banyak pembicaraan yang menunjukkan bahwa kami sedang bersiap untuk melancarkan serangan ke Yaman, atau sesuatu yang berkenaan dengan itu,” ujar el-Sisi, dikutip ABC News.

Proses pemungutan suara di parlemen sempat tertunda karena muncul kekhawatiran dari masyarakat. Sementara itu, 11 anggota blok oposisi Egyptian Social Democratic Party memilih abstain karena menilai informasi mengenai tujuan, cakupan, durasi, dan biaya operasi belum dijelaskan secara memadai.

Melalui unggahan di platform X, Guterres menyerukan agar semua pihak menahan diri semaksimal mungkin demi mencegah konflik meluas.

3. Mesir hindari pengerahan pasukan darat ke Yaman

Bendera Mesir (pexels.com/aboodi vesakaran)

Mengutip laporan harian Al-Ahram, pembahasan mengenai keterlibatan militer Mesir di Yaman juga berkaitan dengan pengalaman pada 1960-an. Saat itu, Presiden Gamal Abdel Nasser mengirim puluhan ribu pasukan untuk mendukung Jenderal Abdullah al-Sallal dalam menghadapi Raja Muhammad al-Badr.

Intervensi tersebut dianggap sebagai titik terendah dalam masa kepresidenan Nasser dan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kekalahan Mesir dalam Perang Enam Hari 1967. Pengalaman itu menjadi bagian dari sejarah keterlibatan militer Mesir di Yaman.

Pada 2015, Mesir hanya membantu mengamankan jalur laut melalui pengerahan angkatan laut tanpa mengirim pasukan darat. Mesir juga tidak pernah kembali melakukan pengerahan pasukan darat dalam skala besar sejak Perang Teluk 1991.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article