Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PBB Perpanjang Embargo Senjata Sudan di Darfur Selama 1 Bulan
bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (Makaristos, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • Dewan Keamanan PBB bulat memperpanjang embargo senjata dan sanksi terarah di Darfur hingga 9 Oktober 2026, serta mandat Panel Ahli hingga 9 November 2026.
  • Amerika Serikat mendorong embargo senjata mencakup seluruh Sudan dan penguatan sanksi, namun Sudan menolak dengan alasan hak membela diri, sementara Rusia berjanji menghalanginya.
  • China meminta diplomasi diutamakan agar sanksi tidak memperburuk krisis; konflik Sudan sejak April 2023 telah menewaskan sedikitnya 59.000 orang dan mengungsikan sekitar 13 juta warga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menyetujui perpanjangan teknis atas embargo senjata dan sanksi terarah di wilayah Darfur, Sudan, selama satu bulan. Kesepakatan tersebut disahkan secara bulat oleh 15 negara anggota melalui Resolusi 2828 (2026) dalam pertemuan ke-10.220 pada Jumat (11/9/2026).

Langkah perpanjangan teknis hingga 9 Oktober 2026 ini diberlakukan untuk memberi ruang perundingan di tengah perdebatan usulan perluasan embargo ke seluruh wilayah Sudan. Bertindak di bawah Bab VII Piagam PBB, dewan juga memperpanjang mandat Panel Ahli yang bertugas membantu Komite Sanksi 1591 hingga 9 November 2026.

1. Usulan Amerika Serikat untuk perluas embargo senjata

ilustrasi senjata api (pixabay.com/Piotr Zakrzewski)

Duta Besar Amerika Serikat untuk Manajemen dan Reformasi PBB, Jeffrey Bartos, menyatakan perpanjangan singkat ini diajukan guna mengamankan waktu untuk melakukan reformasi substantif. Bartos menilai rezim sanksi yang telah berusia 20 tahun tersebut sudah usang dan tidak memadai dalam mengatasi situasi perang saat ini.

"Rezim sanksi saat ini sudah ketinggalan zaman lebih dari 20 tahun, dan tidak memadai untuk mengatasi kenyataan perang hari ini," kata Bartos.

Pemerintah Amerika Serikat mengusulkan perluasan embargo senjata ke seluruh penjuru Sudan guna mendesak pihak-pihak yang bertikai mengakhiri perang. Bartos juga meminta penguatan panel ahli serta penambahan kriteria sanksi untuk kekerasan seksual terkait konflik, penculikan tebusan, dan serangan terhadap personel kemanusiaan. Washington menegaskan penolakannya terhadap status quo setelah serangan udara baru-baru ini menghancurkan lebih dari 50 metrik ton bantuan Program Pangan Dunia di Kordofan Selatan.

2. Penolakan Sudan dan keberatan keras Rusia

bendera Sudan (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via WIkimedia Commons)

Duta Besar Sudan untuk PBB, Al-Harith Idriss al-Harith Mohamed, menolak pembatasan tersebut dan menilai embargo total bertentangan dengan Pasal 51 Piagam PBB mengenai hak membela diri. Dilansir Sudan Tribune, Mohamed menegaskan bahwa militer Sudan memiliki hak untuk memproduksi, memperoleh, dan mempertahankan senjata konvensional demi melindungi kedaulatan negara. Dia juga menyatakan bahwa sanksi PBB selama dua dekade justru menghambat penegakan hukum dan membiarkan kelompok bersenjata menjarah sumber daya.

Rusia yang memiliki hak veto secara terbuka menyatakan komitmennya untuk mencegah perluasan embargo senjata ke seluruh wilayah Sudan. Deputi Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB, Anna Evstigneeva, menegaskan Moskwa telah menetapkan batasan tegas selama perundingan tertutup. "Kami tidak akan membiarkan bahkan sedikit pun perluasan pembatasan oleh dewan terhadap Sudan," ujar Evstigneeva.

Evstigneeva mempertanyakan dorongan perluasan embargo di saat pasukan pemerintah tengah memegang keunggulan militer di lapangan. Dia menyatakan bahwa pemerintah di Khartoum bertindak sebagai penjamin perlindungan warga sipil dan institusi negara. Rusia pun mendesak perancang resolusi untuk mempertimbangkan usulan perpanjangan langsung selama satu tahun tanpa pembatasan baru.

3. Peringatan China dan situasi krisis kemanusiaan

bendera China (pexels.com/Hao Liang)

Duta Besar China untuk PBB, Sun Lei, memperingatkan dewan agar tidak memaksakan pengesahan naskah resolusi yang masih memicu perselisihan. Sun menjelaskan bahwa Beijing mendukung perpanjangan teknis demi memberikan kesempatan tambahan bagi kelanjutan konsultasi diplomasi. Dia menegaskan bahwa sanksi tidak boleh menggantikan jalur diplomatik, serta mengingatkan bahwa perluasan langkah pemaksaan secara sewenang-wenang dapat memperburuk krisis kemanusiaan dan memicu perpecahan Sudan.

Dilansir Al Jazeera, konflik bersenjata antara tentara nasional Sudan dan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) sejak April 2023 telah menewaskan sedikitnya 59.000 jiwa. Pertempuran tersebut juga memaksa sekitar 13 juta orang mengungsi dan mendorong sebagian wilayah Sudan jatuh ke dalam bencana kelaparan. Dewan Keamanan PBB kembali menegaskan komitmennya terhadap kedaulatan, persatuan, dan keutuhan wilayah Sudan di tengah situasi yang dinilai terus mengancam perdamaian kawasan.

sumber:

https://sudantribune.com/article/318628

https://www.aljazeera.com/news/2026/9/11/un-extends-partial-sudan-arms-embargo-for-a-month

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article