Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang Berkobar Lagi, Sekitar 86 Ribu Warga Yaman Mengungsi

Perang Berkobar Lagi, Sekitar 86 Ribu Warga Yaman Mengungsi
bendera Yaman (pixabay.com/Chickenonline)
  • Eskalasi pertempuran pemerintah Yaman dan Houthi memaksa 85.818 warga mengungsi hingga 13 September 2026, meningkat sekitar 10 ribu orang dalam sehari.
  • Pengungsian terkonsentrasi di Taiz, Lahj, Al Hodeidah, dan Aden; lebih dari 2.000 warga menyeberang ke Djibouti, sementara bantuan terhambat akses jalan serta komunikasi terputus.
  • Serangan kilat Houthi merebut pelabuhan Mokha dan pulau-pulau strategis, memicu serangan balasan pemerintah Yaman serta memperkuat kendali milisi di jalur Bab al-Mandab.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Eskalasi pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan milisi Houthi telah memaksa puluhan ribu warga mengungsi dari tempat tinggal mereka. Data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat angka pengungsi kini menembus 85.818 orang per Minggu (13/9/2026). Jumlah tersebut naik sekitar 10 ribu orang hanya dalam kurun waktu satu hari.

Sebagian besar warga menyelamatkan diri menyusul serangan kilat kelompok Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah sejak awal September. Eksodus massal ini menandai gelombang perpindahan penduduk terparah sejak gencatan senjata disepakati pada 2022.

  1. 1. Gelombang pengungsian meningkat di wilayah pesisir dan Taiz

    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman
    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman (Public domain, via Wikimedia Commons)

    IOM mencatat lebih dari 82 ribu orang terpaksa melarikan diri sejak milisi bersenjata memulai operasi tempur pada awal bulan ini. Perpindahan penduduk terpusat di kawasan pesisir barat dan front pertempuran Provinsi Taiz bagian selatan.

    Sebanyak 9.280 kepala keluarga atau hampir 56 ribu jiwa telah meninggalkan kediaman mereka di distrik Jabal Habashy, Al Ma'afer, hingga Maqbanah. Sejumlah desa di distrik-distrik tersebut bahkan dilaporkan kosong setelah warganya pergi menyelamatkan diri.

    Gelombang pengungsian juga meluas ke Provinsi Lahj dengan catatan 3.225 keluarga atau lebih dari 19 ribu orang. Selain itu, distrik Hays di Al Hodeidah menyumbang lebih dari 8 ribu pengungsi serta kota Aden menampung sekitar 2.500 warga.

    Sebagian warga terdampak bahkan mulai meninggalkan daratan Yaman demi mencari tempat aman di luar negeri. Lebih dari dua ribu pengungsi telah menyeberangi perairan Selat Bab al-Mandab untuk mencapai pantai utara Djibouti.

  2. 2. Pengungsi hadapi keterbatasan logistik

    Ilustrasi kamp pengungsi
    Ilustrasi kamp pengungsi (unsplash.com/Julie Ricard)

    Para pengungsi yang mendarat di pesisir Djibouti diarahkan ke lokasi penampungan Markazi di kota Obock. Otoritas Djibouti bersama tim medis darurat memberikan air minum, biskuit nutrisi tinggi, serta makanan kepada para pengungsi yang mayoritas perempuan dan anak-anak.

    "Di balik setiap angka, ada sebuah keluarga yang telah kehilangan segalanya. Orang-orang menyeberangi lautan tanpa membawa apa pun karena mereka tidak punya pilihan lain," kata Amy Pope, Direktur Jenderal IOM, dilansir Middle East Eye.

    Kondisi pengungsi di dalam wilayah Yaman sendiri tidak kalah memprihatinkan. Di kota Aden, ribuan keluarga terpaksa tidur berjejal di atas kasur tipis dalam ruangan sempit dengan suhu udara mencapai 30 derajat Celsius lebih.

    Penyaluran bantuan kemanusiaan semakin terhambat karena pertempuran memutus akses jalan utama serta melumpuhkan jaringan telekomunikasi. Kelompok pemerhati hak asasi manusia (HAM) mendokumentasikan lebih dari 950 pelanggaran terhadap warga sipil di wilayah yang direbut milisi.

  3. 3. Houthi berhasil merebut wilayah pesisir penting

    Hadramaut, Yaman
    Hadramaut, Yaman (Moataz Kaity, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

    Gelombang pengungsian massal ini dipicu oleh serangan kilat milisi Houthi yang berhasil merebut kota pelabuhan utama Mokha dan sejumlah pulau penting. Penguasaan wilayah pesisir tersebut memperkuat kendali milisi atas jalur pelayaran Selat Bab al-Mandab yang vital bagi perdagangan internasional.

    "Perang yang kembali berkobar ini semestinya menjadi peringatan serius bagi kita semua. Hal ini secara efektif menandai berakhirnya masa relatif tenang yang telah dialami Yaman selama lebih dari empat tahun sejak gencatan senjata yang ditengahi PBB," tutur Hans Grundberg, Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman, dilansir The Guardian.

    Pasukan pemerintah Yaman yang didukung aliansi Arab Saudi melancarkan serangan udara balasan ke basis-basis milisi di sekitar Mokha. Serangan tersebut dilaporkan menghancurkan persenjataan musuh dan menewaskan puluhan militan di garis depan.

    Pihak militer pemerintah menegaskan bahwa pasukan mereka tengah mengatur barisan untuk merebut kembali wilayah yang diduduki Houthi. Di sisi lain, milisi Houthi terus meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas sipil serta pangkalan militer di wilayah selatan Arab Saudi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More