Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi bendera Yaman (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • PBB mengecam pengepungan Taiz oleh Houthi yang memutus makanan, air, dan obat-obatan bagi sekitar satu juta warga, serta mendesak pembukaan jalan untuk bantuan kemanusiaan.
  • Blokade membuat produksi air turun setengah, harga pangan meningkat hingga lima kali lipat, layanan sampah terhenti, dan rumah sakit kekurangan bahan bakar, oksigen, obat, serta persediaan bedah.
  • Sejak eskalasi Agustus 2026, hampir 310 ribu orang mengungsi di Yaman; konflik juga merusak fasilitas kesehatan dan memperparah ancaman penyakit, termasuk campak dan difteri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam pengepungan Kota Taiz di Yaman oleh kelompok Houthi dan menyamakannya dengan situasi pengepungan abad pertengahan. Tindakan blokade tersebut menutup akses terhadap pasokan makanan, air, dan obat-obatan bagi sekitar satu juta orang di kota itu.

Kondisi ini terjadi setelah seluruh akses jalan masuk menuju Taiz ditutup dan pasokan kebutuhan pokok mulai menipis. PBB melalui juru bicaranya menyatakan para pekerja kemanusiaan tidak dapat menerobos blokade tersebut dengan senjata di tengah ancaman terhadap keselamatan banyak nyawa.

1. Pernyataan juru bicara dan koordinator bantuan PBB

ilustrasi bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (Makaristos, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, menanggapi pertanyaan dari Arab News terkait situasi pengepungan di Taiz pada Selasa (3/11/2026). Dujarric mengatakan, "Kita berada di abad ke-21 dan kita melihat pengepungan kota-kota seperti di abad pertengahan." Dia juga menambahkan, "Pekerja kemanusiaan PBB dan mitra kami tidak bisa menerobos pengepungan dengan senjata. Ketidakmanusiawian dari apa yang sedang terjadi harus diakui."

Sehari sebelumnya, Koordinator Bantuan Darurat PBB Tom Fletcher pada Senin (2/11/2026) memperingatkan bahwa semua jalan menuju Taiz ditutup dan pasokan penting kian habis. Menurut Fletcher, produksi air di kota tersebut berkurang hingga setengahnya, harga pangan melonjak setidaknya 50 persen, serta rumah sakit kekurangan bahan bakar dan obat-obatan. Fletcher menyatakan, "Kami memiliki makanan dan obat-obatan yang siap disalurkan, tetapi jalan-jalan harus dibuka oleh pihak-pihak terkait dan pasokan tersebut harus diizinkan masuk sesegera mungkin."

2. Kendala akses dan lonjakan harga barang di Taiz

ilustrasi label harga barang (pexels.com/Erik Mclean)

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Rabu (4/11/2026) memperingatkan bahwa Kota Taiz kehabisan barang-barang pokok akibat pembatasan akses. Dilansir Xinhua, truk pengangkut tepung dan makanan pokok lainnya menarik kendaraan mereka kembali ke area Al-Farsha dan terdampar di sana. OCHA menyebutkan bahwa harga barang-barang penting di dalam kota tersebut telah naik hingga lima kali lipat.

Pengangkutan sampah di kota itu juga terhenti karena truk dilarang menjangkau tempat pembuangan. Sampah menumpuk di penjuru kota sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit. OCHA kembali mengulangi seruannya untuk melindungi warga sipil dan memberikan akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, serta tanpa hambatan.

3. Dampak terhadap layanan kesehatan dan temuan penyakit

ilustrasi rumah sakit (pexels.com/Pixabay)

Rumah sakit di Kota Taiz mengandalkan persediaan darurat sementara kekurangan bahan bakar, oksigen, air, obat-obatan, produk darah, dan pasokan bedah semakin memburuk di seluruh provinsi. Dujarric menyatakan bahwa fasilitas layanan kesehatan terus menjadi sasaran selama konflik berlangsung, yang melanggar hukum humaniter internasional. Mengutip data World Health Organization (WHO), sebanyak 27 fasilitas kesehatan dan tujuh ambulans rusak atau hancur, serta enam pekerja kesehatan tewas sejak eskalasi pertempuran dimulai pada Agustus 2026.

Dujarric juga memaparkan situasi kesehatan di Yaman yang mencatat penurunan kasus kolera selama tiga pekan berturut-turut. Namun, lebih dari 22.500 dugaan kasus campak tercatat dengan hampir 130 kematian, di mana empat dari setiap lima korban adalah anak di bawah usia lima tahun. Penyakit difteri juga dilaporkan memiliki tingkat kematian tertinggi di antara penyakit lainnya di Yaman.

4. Perkembangan konflik dan data penyaluran bantuan

Taiz, Yaman (Rod Waddington, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Hampir 310 ribu orang telah mengungsi di Yaman sejak eskalasi permusuhan putaran terbaru pada awal Agustus 2026. Sejak bulan tersebut, hampir 190 ribu orang menerima bantuan makanan dan hampir 140 ribu menerima bantuan uang tunai darurat. UNHCR mencatat hampir 5.400 keluarga yang baru mengungsi terdaftar untuk bantuan tunai, 4.200 di antaranya telah menerima bantuan tersebut, serta lebih dari 2.100 keluarga di Aden, Abyan, dan Lahj menerima bantuan tunai untuk tempat tinggal, dengan 3.000 paket bantuan sedang dalam perjalanan ke Aden.

Perang saudara di Yaman bermula pada September 2014, dan Houthi pertama kali memblokir jalan utama ke Taiz pada 2015 sebelum beberapa rute dibuka kembali pada 2024. Houthi memperbarui pengepungan pada September 2026 setelah merebut wilayah selatan kota dan menutup jalan utama ke daerah yang dikuasai pemerintah. Pada 18 Oktober 2026, pasukan Houthi merusak jalan Hayjat Al-Abd menggunakan bahan peledak menurut Human Rights Watch, sementara pejabat perencanaan lokal menyebut blokade saat ini lebih menyeluruh hingga mencakup jalan sekunder ke distrik pedesaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article