Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kolombia Kerahkan 1.200 Pasukan Lawan Gerilya di Perbatasan Venezuela

2 min read
Kolombia Kerahkan 1.200 Pasukan Lawan Gerilya di Perbatasan Venezuela
ilustrasi bendera Kolombia (unsplash.com/gustavo0351)
  • Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengerahkan 1.200 tentara dan polisi serta teknologi anti-drone ke perbatasan Venezuela setelah insiden kekerasan di Cucuta.
  • Operasi Esparta di Cucuta melibatkan militer dan polisi untuk menghadapi organisasi kriminal di Norte de Santander, wilayah strategis yang menjadi basis ELN, Front 33, dan kelompok bersenjata lain.
  • Militer Venezuela menyerang markas ELN dekat perbatasan Kolombia, menewaskan 19 orang; serangan tersebut diduga didukung drone dan intelijen AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella mengumumkan penerjunan 1.200 tentara dan polisi, beserta teknologi anti-drone ke perbatasan Venezuela pada Kamis (5/11/2026). Penerjunan militer untuk meningkatkan pengamanan usai serangkaian insiden kekerasan di Cucuta. 

Pekan lalu, Amerika Serikat (AS) sudah mengirimkan 300 personel militer ke Kolombia untuk ikut dalam latihan militer gabungan. Ratusan tentara AS itu akan ditempatkan di pangkalan militer Tolemaida yang berlokasi 100 km dari ibu kota Bogota. 

  1. 1. De la Espriella umumkan Operasi Esparta di Cucuta

    Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella.
    Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella. (Abelardo de la Espriella, CC0, via Wikimedia Commons)

    Dalam kunjungannya ke Cucuta, De la Espriella mengumumkan dimulainya Operasi Esparta di Cucuta. Operasi gabungan antara militer dan polisi ini disebut berfungsi untuk meningkatkan keamanan melawan organisasi kriminal di Provinsi Norte de Santander. 

    Pada saat yang sama, Menteri Pertahanan Kolombia, Jorge Eduardo Mora menyampaikan bahwa pasukan itu nantinya akan dilengkapi peralatan anti-drone. Sebab, gerilya ELN dan kelompok afiliasinya sudah menggunakan drone sebagai alat serangan.  

    Dilansir The Latin Times, Provinsi Norte de Santander menjadi operasi utama karena letaknya yang strategi di perbatasan Kolombia-Venezuela. Alhasil, area tersebut menjadi lokasi operasi utama gerilya, seperti ELN, Front 33, dan sejumlah organisasi bersenjata lainnya. 

  2. 2. Venezuela luncurkan serangan pertama ke markas ELN

    ilustrasi bendera Venezuela
    ilustrasi bendera Venezuela (unsplash.com/pikadzu)

    Pada akhir pekan lalu, militer Venezuela meluncurkan serangan ke markas ELN di Buena Vista del Meta, dekat perbatasan Kolombia. Serangan ini menjadi operasi besar pertama yang Venezuela kepada mantan sekutunya, ELN yang menyebabkan tewasnya 19 orang dan sejumlah orang terluka. 

    Dilansir El Mundo, selama 2 dekade, rezim kiri Venezuela diduga sudah bekerja sama dengan ELN yang mengontrol rute penyelundupan narkoba di area tersebut. Bahkan, ELN disebut terlibat mengontrol kehidupan sosial dan politik warga lokal. 

  3. 3. AS diduga bantu Venezuela membom markas ELN

    ilustrasi bendera kelompok gerilya ELN.
    ilustrasi bendera kelompok gerilya ELN. (Julián Ortega Martínez, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

    Menurut keterangan dalam The New York Times dikutip Colombia One, serangan yang menargetkan ELN di Apure ini dilakukan oleh militer Venezuela. Namun, serangan ini diduga mendapatkan bantuan dari AS berupa drone dan informasi intelijen. 

    Sementara itu, jika partisipasi AS dalam pemboman di markas ELN ini dikonfirmasi kebenarannya, maka ini akan menjadi operasi militer kedua AS di teritori Venezuela. Pada Juni, AS mengumumkan serangan udara yang menewaskan Hector Guerrero Flores alias Nino Guerrero yang dikenal sebagai bos geng Tren de Aragua. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More