ilustrasi DNA (pixabay.com/Miroslaw Miras)
Pemerintah Nepal memastikan bahwa prosedur pemakaman tetap memperhatikan hak-hak keluarga korban di masa mendatang. Sebelum proses penguburan dilakukan, petugas medis mengumpulkan sampel DNA dan memberikan nomor identifikasi unik pada setiap jenazah. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyampaikan keterangan resmi mengenai kebijakan penanganan jenazah tersebut.
"Hanya jenazah yang tidak dapat diidentifikasi yang akan dikelola oleh pemerintah setelah mengamankan DNA dan bukti lain yang dapat membantu menentukan identitas mereka," kata Balendra Shah melalui unggahan di media sosial pada Sabtu (29/8/2026) malam, sebagaimana dilansir The Kathmandu Post. Dia menegaskan bahwa jenazah yang sudah dikenali oleh keluarga telah diserahkan langsung kepada kerabat mereka. Balendra Shah juga menambahkan, "Menyelamatkan nyawa setiap warga negara yang terdampak tetap menjadi prioritas utama pemerintah."
Proses pemakaman ini diatur sesuai dengan Pedoman Manajemen Jenazah Tidak Dikenal dan Tidak Diklaim (Amandemen Pertama) 2026. Pejabat terkait menyampaikan bahwa analisis profil DNA terhadap lebih dari 100 jenazah telah diselesaikan hingga Sabtu (29/8/2026) siang. Setiap jenazah dimasukkan ke dalam kantong kedap udara yang diberi label nomor referensi khusus.
Guna mempermudah proses pembongkaran makam kelak, lubang kubur digali sedalam 1,5 meter dengan jarak sekitar 40 sentimeter antar bagian jenazah. Tempat pemakaman juga dilengkapi landasan beton, papan penanda nomor identifikasi, serta dokumentasi berupa foto dan video. Otoritas setempat memetakan lokasi kuburan menggunakan geo-tagging agar koordinat presisi makam tersimpan dalam rekaman permanen.