Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kisah Bocah Selamat dari Banjir Bandang Nepal dengan Memanjat Pohon

Kisah Bocah Selamat dari Banjir Bandang Nepal dengan Memanjat Pohon
Banjir dan longsor di Nepal, ratusan orang masih hilang. (AFP/Prakash Mathema)
  • Bocah delapan tahun, Zoyal Ghale, selamat dari banjir bandang di Rasuwa dengan memanjat pohon dan akhirnya bertemu ibunya berkat bantuan jurnalis Reuters.
  • Runtuhnya bagian bawah gletser dekat Langtang Lirung memicu longsor besar yang menghancurkan permukiman; sedikitnya 580 orang tewas dan sekitar 2.500 lainnya hilang di Nepal serta Tibet.
  • Sebanyak 69 sekolah rusak atau hancur, mengancam pendidikan hampir 19.000 anak; Save the Children menyalurkan bantuan bagi 1.000 rumah tangga terdampak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun di Nepal berhasil berkumpul kembali dengan ibunya pada Jumat (28/8/2026), setelah sang ibu sempat didera keputusasaan mengira anak-anaknya telah tewas. Anak bernama Zoyal Ghale tersebut bertahan hidup dari terjangan air bah dengan berlari ke hutan dan memanjat pohon saat bencana melanda sekolahnya di Distrik Rasuwa.

Bencana alam dahsyat ini dipicu oleh runtuhnya bagian bawah gletser di dekat puncak Gunung Langtang Lirung pada Rabu (26/8/2026). Longsoran es dan batu menerjang dasar lembah hingga memicu tanah longsor besar yang meratakan permukiman, menghancurkan fasilitas publik, serta memisahkan ribuan anak dari keluarga mereka di wilayah utara negara tersebut.

  1. 1. Perjuangan Zoyal dan bantuan jurnalis mempertemukan keluarga

    tampilan CCTV saat banjir bandang Nepal terjadi, pada Agustus 2026.
    tampilan CCTV saat banjir bandang Nepal terjadi, pada Agustus 2026. (Unknown author, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Zoyal Ghale dievakuasi sendirian menggunakan helikopter dari lokasi bencana di Distrik Rasuwa dengan kondisi patah tulang kaki kanan dan luka gores di wajahnya. Saat diselamatkan kepolisian setempat, bocah tersebut menggenggam erat dua lembar uang 10 rupee Nepal atau sekitar Rp1.100 yang diberikan petugas agar dia mau dibawa ke rumah sakit.

    Ibunya, Matti Maya Tamang (28), sempat mengira kedua anaknya telah meninggal dunia setelah mencari di empat lokasi penampungan tanpa hasil. Dilansir Reuters, keputusasaan Tamang perlahan sirna setelah ia berhasil memperoleh nomor telepon jurnalis Reuters, Sahana Bajracharya. Jurnalis tersebut sebelumnya sempat meliput Zoyal di Rumah Sakit Chakra Dev, Nuwakot, dan sengaja meninggalkan nomor kontak di rumah sakit tersebut demi membantu melacak keluarga sang bocah.

    Jurnalis tersebut mengambil gambar Zoyal atas persetujuan sang bocah demi membantu pencarian keluarganya sebelum dia dirujuk ke rumah sakit di Kathmandu. Tamang kemudian berhasil menyusul anak sulungnya itu ke rumah sakit di ibu kota setelah sebelumnya juga menemukan anak bungsunya dalam keadaan selamat.

    Tamang mengaku sempat merasa kabar tersebut tidak nyata saat pertama kali mendengar informasi dari jurnalis mengenai keberadaan anaknya. "Saat Anda memberi tahu bahwa Anda tahu di mana Zoyal berada, rasanya seperti tidak nyata. Saya sudah hampir menyerah untuk menemukan mereka," tutur Tamang sebagaimana dilaporkan Reuters.

  2. 2. Kerusakan parah akibat runtuhan gletser di Langtang Lirung

    Jembatan Larcha pada Sungai Bhotekoshi, Nepal
    Jembatan Larcha pada Sungai Bhotekoshi, Nepal (Saddam19, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Longsoran es dan batu tersebut memicu tanah longsor besar, sebagaimana terkonfirmasi melalui video media sosial yang diverifikasi oleh Reuters. Terjangan air dan lumpur ini merusak kawasan permukiman di Nepal utara hingga menjangkau wilayah Tibet, China.

    Terjangan air dan lumpur meluluhlantakkan bangunan dalam hitungan menit serta mengubah lanskap wilayah hingga sulit dikenali. Gedung sekolah tempat Zoyal belajar runtuh diterjang banjir, menyisakan hamparan air, batu, dan lumpur pekat di area yang sebelumnya merupakan kawasan pasar dan permukiman.

    Setidaknya 580 orang dikonfirmasi tewas dan sekitar 2.500 orang lainnya masih dinyatakan hilang di Nepal serta Tibet. Sebagian warga yang selamat kini terpaksa mendirikan tenda di depan rumah mereka yang rusak, sementara lainnya mengungsi ke rumah kerabat atau pusat komunitas.

  3. 3. Puluhan sekolah hancur dan ribuan anak kehilangan akses pendidikan

    Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang dan longsor Nepal pada 27 Agustus 2026 (AFP/PRABIN RANABHAT)
    Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang dan longsor Nepal pada 27 Agustus 2026 (AFP/PRABIN RANABHAT)

    Dilansir ReliefWeb dari laporan organisasi kemanusiaan Save the Children, setidaknya 69 sekolah di distrik yang terdampak banjir telah hancur atau mengalami kerusakan parah. Kondisi ini mengancam keberlangsungan pendidikan bagi hampir 19 ribu anak di wilayah utara Nepal.

    Dalam peristiwa terpisah di Nepal utara, rilis kemanusiaan Save the Children mencatat sembilan anak sekolah lainnya berhasil berjalan kaki dari sekolah mereka dan berkumpul kembali dengan keluarga di titik distribusi bantuan setelah sempat terisolasi selama dua hari di gedung sekolah. Berdasarkan data UNICEF yang dikutip Reuters, total anak yang terdampak bencana banjir di Distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading diperkirakan mencapai sedikitnya 17.000 jiwa.

    Direktur Save the Children di Nepal, Tara Chettry, menegaskan pentingnya pemulihan akses pendidikan sejak hari pertama tanggap darurat bencana. Organisasi kemanusiaan tersebut kini menyalurkan bantuan mendesak berupa perlengkapan rumah tangga, kelambu, dan selimut kepada 1.000 rumah tangga di area bencana.

    Chettry menekankan bahwa fasilitas belajar merupakan hal mendasar bagi pemulihan psikologis anak-anak pascabencana. "Bagi anak-anak yang kehilangan rumah, barang-barang, dan rasa aman, tempat belajar yang aman bisa menjadi penopang hidup," ujar Chettry dilansir ReliefWeb.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More