Banjir Bandang Nepal, Paus Leo XIV Doakan Korban dan Tim SAR

- Paus Leo XIV menyampaikan duka dan doa bagi korban banjir bandang Nepal melalui telegram yang ditandatangani Kardinal Pietro Parolin.
- Sekitar 788 orang dilaporkan meninggal di Nepal, sementara hampir 1.500 orang di kawasan terdampak masih belum diketahui keberadaannya.
- Ribuan personel dikerahkan untuk pencarian dan evakuasi, meski jalan rusak, medan terjal, longsor, dan banjir susulan menghambat operasi.
Jakarta, IDN Times - Paus Leo XIV menyampaikan duka mendalam atas bencana banjir bandang yang melanda Nepal dan menyebabkan ratusan orang tewas serta ratusan lainnya masih belum ditemukan. Bencana tersebut menerjang sejumlah wilayah dekat perbatasan Nepal dan China setelah aliran air, lumpur, serta material longsoran menyapu permukiman.
Ungkapan belasungkawa Paus Leo XIV disampaikan melalui telegram yang dikirim pada Kamis (27/8/2026). Pesan tersebut ditandatangani Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin atas nama Paus.
Dalam pesannya, Paus Leo XIV menyerahkan jiwa para korban kepada Tuhan dan menyampaikan simpati kepada keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih. Ia juga menyatakan, kedekatannya secara spiritual dengan seluruh masyarakat yang terdampak bencana.
Paus turut mendoakan para personel darurat yang hingga kini masih terlibat dalam operasi pencarian dan penyelamatan korban. Ia berharap Tuhan memberikan bantuan dan perlindungan kepada masyarakat Nepal yang tengah menghadapi dampak bencana.
1. Paus Leo XIV doakan korban banjir Nepal

Banjir dan longsor di Nepal, ratusan orang masih hilang. (AFP/Prakash Mathema) Dalam telegram tersebut, dikutip dari Vatican News, Senin (31/8/2026), Paus Leo XIV menyampaikan kesedihan atas banyaknya korban jiwa serta kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir bandang. Ia meminta agar jiwa mereka yang meninggal diserahkan kepada kemurahan Tuhan Yang Maha Esa.
Paus juga menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga korban yang tengah berduka. Ia memberikan perhatian khusus kepada masyarakat yang kehilangan anggota keluarga maupun tempat tinggal akibat bencana tersebut.
Selain keluarga korban, Paus Leo XIV menyatakan dukungan kepada seluruh masyarakat yang terdampak. Ia memastikan bahwa mereka berada dalam doanya dan menyampaikan kedekatan spiritual di tengah situasi darurat.
Paus juga mendoakan para petugas yang masih bekerja di lapangan. Ribuan personel keamanan dan penyelamat dikerahkan untuk mencari korban yang masih hilang serta mengevakuasi masyarakat dari wilayah yang terisolasi.
Telegram tersebut ditutup dengan doa agar Tuhan memberikan pertolongan dan perlindungan kepada masyarakat Nepal yang terdampak bencana.
2. Ratusan orang tewas, hampir 1.500 masih hilang

Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang di Devighat, Bidur Municipality, distrik Nuwakot, Nepal pada 27 August 2026 (AFP/ (AFP/PRABIN RANABHAT) Bencana terjadi setelah aliran air bercampur lumpur dan material debris dalam jumlah besar menerjang sejumlah komunitas di dekat perbatasan Nepal-China. Sekitar 788 orang dilaporkan meninggal dunia di Nepal, sementara lebih dari 900 lainnya masih belum ditemukan.
Korban hilang juga tercatat di wilayah Tibet yang berada di sisi China. Jika digabungkan, jumlah orang yang masih belum diketahui keberadaannya di seluruh kawasan terdampak mencapai hampir 1.500 orang.
Bencana tersebut diduga dipicu oleh runtuhnya sebagian gletser di kawasan Himalaya. Material es dan batu yang runtuh kemudian menyebabkan lonjakan air secara tiba-tiba ke dalam sistem sungai yang berada di sepanjang perbatasan Nepal dan China.
Besarnya kekuatan peristiwa tersebut membuat getaran yang ditimbulkan sempat disangka sebagai gempa bumi. Air, lumpur, batu, dan material lainnya kemudian menerjang kawasan di sepanjang aliran sungai.
Sejumlah permukiman dilaporkan terendam dan mengalami kerusakan parah. Infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, instalasi listrik, serta fasilitas lainnya ikut hancur atau mengalami kerusakan akibat terjangan banjir.
Salah satu jalur penyeberangan perbatasan juga terdampak bencana. Kerusakan tersebut mengganggu akses transportasi dan jalur perdagangan antara kedua wilayah.
Sebagian korban yang masih hilang merupakan warga asing yang berada di kawasan tersebut untuk melakukan perjalanan ziarah ke Gunung Kailash dan Danau Mansarovar. Kedua lokasi tersebut dianggap sakral oleh umat Hindu, Buddha, Jain, serta penganut agama Bon.
3. Tim SAR berpacu cari korban di tengah ancaman banjir susulan

Personel Angkatan Darat Nepal membawa jenazah para korban tewas banjir bandang (Prabin Ranabhat / AFP Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak. Ribuan tentara, polisi, serta petugas tanggap darurat telah dikerahkan untuk mencari korban, mengevakuasi warga, dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terisolasi.
Helikopter digunakan untuk menjangkau daerah yang sulit diakses melalui jalur darat. Selain melakukan evakuasi, helikopter membawa makanan, perlengkapan medis, serta bantuan darurat lainnya kepada masyarakat yang terdampak.
Upaya penyelamatan menghadapi sejumlah kendala. Kerusakan jalan dan jembatan membuat akses menuju lokasi bencana menjadi sulit, sementara kondisi geografis wilayah Himalaya yang berbukit dan terjal turut memperlambat proses pencarian.
Ancaman longsor dan kemungkinan terjadinya banjir susulan juga membuat operasi SAR harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petugas yang berusaha menemukan korban yang masih hilang di bawah material lumpur dan debris.
Bantuan internasional mulai berdatangan untuk mendukung penanganan bencana. Sejumlah negara tetangga, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan organisasi kemanusiaan menawarkan bantuan berupa personel, kebutuhan darurat, serta dukungan finansial.
Bencana tersebut sekaligus kembali meningkatkan perhatian terhadap ancaman ketidakstabilan gletser di kawasan Himalaya. Para ilmuwan menilai kenaikan suhu global mempercepat pencairan dan penyusutan gletser, yang pada kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko bencana seperti banjir bandang dan longsor.
Di tengah proses pencarian korban yang masih berlangsung, Paus Leo XIV menyampaikan doa bagi masyarakat Nepal. Dukungan tersebut diberikan ketika keluarga korban masih menunggu kepastian mengenai nasib orang-orang yang belum ditemukan dan tim penyelamat terus bekerja di tengah kondisi medan yang berat.


















