Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemerintahan Trump Setujui Penjualan 500 Rudal ke Ukraina
ilustrasi peluncuran rudal (pexels.com/Forest Katsch)
  • AS menyetujui penjualan 500 rudal pencegat Patriot PAC-3 senilai 2,1 miliar dolar AS kepada Ukraina, didanai donasi Kanada, Jerman, Norwegia, serta pinjaman Uni Eropa.
  • Ukraina membutuhkan Patriot untuk menghadapi serangan Rusia dan menipisnya stok, tetapi rudal belum diproduksi sehingga pengiriman diperkirakan baru tiba pada awal 2030-an.
  • Lockheed Martin akan meningkatkan produksi PAC-3 di Arkansas, sementara pengadaan berlangsung di tengah ketegangan politik Zelenskyy-Trump terkait kebijakan AS terhadap Rusia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) menyetujui penjualan 500 rudal pencegat Patriot PAC-3 ke Ukraina senilai 2,1 miliar dolar AS (setara Rp38 triliun) pada Jumat (30/10/2026). Langkah ini dinilai menjadi salah satu pasokan senjata bertahan paling signifikan ke Kyiv sejak pemerintahan kedua Presiden AS Donald Trump.

Pembelian tersebut tidak memakai dana dari AS. Australian Broadcasting Corporation News melaporkan bahwa Ukraina membayarnya lewat donasi Kanada, Jerman, dan Norwegia melalui program Pentagon bernama US JUMPSTART, ditambah dana dari Pinjaman Dukungan Ukraina Uni Eropa. Program itu sebelumnya dipakai pada Agustus untuk membeli 3.350 rudal jelajah udara senilai 825 juta dolar AS (setara Rp14,9 triliun) buatan Zone 5 Technologies dan CoAspire.

1. Desakan waktu dan ancaman lapangan

Pada tanggal 7-8 Oktober 2020, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengadakan perjalanan kenegaraan resmi ke Britania Raya. (Presidential Office of Ukraine, This file is licensed under the Creative Commons Attribution 4.0 International license, via Wikimedia Commons)

Kebutuhan Ukraina mendesak karena Patriot merupakan senjata paling efektif melawan rudal balistik cepat, sementara stoknya menipis. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memuji keputusan itu, berterima kasih kepada Trump, dan memperingatkan pengiriman bisa memakan waktu bertahun-tahun karena rudal belum diproduksi serta baru diperkirakan tiba di awal dekade 2030-an.

Zelenskyy meminta mitra AS menemukan solusi untuk masa ketika bahaya nyata terjadi, mengingat lebih dari 30 serangan Rusia menghantam prasarana energi dalam dua pekan terakhir. Ia juga meminta Washington dan sekutu Eropa mengirimkan sistem Patriot dari stok mereka sendiri sekarang dan menggantinya nanti dengan 500 rudal yang baru dibeli, di tengah tekanan lapangan pada Kamis (29/10/2026) ketika serangan pesawat nirawak Rusia menewaskan sedikitnya 14 orang di peron kereta padat di Dnipro serta menewaskan lainnya di Kyiv dan dua kota provinsi, dengan dokumentasi gambar yang disorot AP.

Serangan yang mengintensif terhadap Kyiv dan prasarana sipil dalam beberapa pekan terakhir juga terekam dalam gambar oleh Reuters.

"Kami meminta keputusan yang dapat menjamin perlindungan nyawa bukan lusa atau kapan-kapan nanti, tetapi pada saat ancaman itu ada," kata Zelenskyy, dikutip CBS News.

2. Langkah strategis Lockheed Martin di Arkansas

ilustrasi rudal (pexels.com/Aseem Borkar)

Departemen Luar Negeri (Deplu) AS menyatakan Lockheed Martin adalah kontraktor utamanya. Deplu menegaskan bahwa penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan negara mitra yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan ekonomi di Eropa, serta memastikan tidak ada dampak buruk pada kesiapan pertahanan AS.

Kapasitas produksi menjadi kendala karena AS juga memasok sekutu dan memakai amunisi di operasinya di Iran. Pada Juli, Angkatan Darat AS memberi kontrak hingga 58,6 miliar dolar AS (setara Rp1.062 triliun) kepada Lockheed, yang akan melipatgandakan tiga kali kapasitas PAC-3 MSE menjadi 2 ribu unit per tahun pada akhir 2030. Pabrik di Camden, Arkansas akan menambah pekerja dari 1.200 menjadi sekitar 1.850, sementara negosiator Pentagon mendesak kontraktor bergerak lebih cepat.

3. Gejolak politik di balik pengadaan senjata

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bertatap muka dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dalam pertemuan bilateral yang digelar di Hotel InterContinental New York Barclay, New York City, pada Rabu, 25 September 2019. Pertemuan tersebut didokumentasikan dalam foto resmi Gedung Putih oleh Shealah Craighead. (The White House from Washington, DC, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Perkembangan ini terjadi di tengah ketegangan antara Zelenskyy dan Trump. Trump dikritik karena membatalkan sanksi baru ke Rusia beberapa hari sebelum berlaku.

Selain itu, ia juga mengumumkan kesepakatan solar dengan Rusia dan mengecam keengganan Kyiv menghentikan serangan ke kilang minyak Rusia. Kritik tersebut menambah ketegangan di saat Ukraina menunggu kepastian jadwal pengiriman rudal bertahan yang sangat dibutuhkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article