Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PM Qatar Sebut Netanyahu Penjahat Perang dan Kecam Genosida di Gaza
PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani (Chatham House, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyebut Netanyahu penjahat perang, menuduh Israel melakukan genosida di Gaza, serta mengecam serangan terhadap rumah sakit, sekolah, dan pengungsian.
  • Qatar membantah bantuan kemanusiaannya membiayai Hamas. Dana 30 juta dolar AS per bulan, menurut Sheikh Mohammed, disalurkan dengan persetujuan Israel serta koordinasi AS dan PBB.
  • Qatar mengajukan penyelesaian nuklir Iran, kebebasan pelayaran Selat Hormuz, dan pembaruan keamanan GCC-Iran. Konflik disebut mengganggu ekonomi Qatar, termasuk kontraksi delapan persen dan anjloknya pariwisata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani melontarkan kritik kepada PM Israel Benjamin Netanyahu dan menyebutnya sebagai penjahat perang. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara di program Piers Morgan Uncensored pada Selasa (29/9/2026).

Sheikh Mohammed menilai militer Israel di Jalur Gaza telah melakukan kejahatan perang dan genosida terhadap warga sipil. Ia juga menuduh pemerintah Israel sengaja merusak berbagai kesepakatan damai sejak awal pertempuran meletus. Langkah Israel dianggap terus memicu kekacauan baru di kawasan Timur Tengah.

1. Kecam kehancuran di Gaza dan bantah tudingan Netanyahu

pemandangan Jalur Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Sheikh Mohammed menyoroti serangan militer Israel yang terus menghantam berbagai fasilitas umum di Gaza. Serangan bom menyasar tempat pengungsian, sekolah, hingga rumah sakit yang menampung warga sipil.

"Rumah sakit diserang, sekolah-sekolah diserang. Apa pun alasannya, tidak ada yang bisa membenarkan tindakan ini," kata Sheikh Mohammed yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Qatar, dilansir Al Jazeera.

Sheikh Mohammed juga membalas pidato Netanyahu di Sidang Majelis Umum PBB yang menuduh Qatar mendanai universitas di Amerika Serikat (AS) untuk memengaruhi opini publik. Ia menilai tuduhan Netanyahu bertujuan memanipulasi publik demi menutupi tindakan kejam Israel di Gaza. Ia mengungkap bahwa sekitar 95 persen dana pendidikan Qatar di AS disalurkan untuk operasional kampus-kampus cabang yang berdiri di Doha.

2. Klarifikasi penyaluran bantuan dana dan kantor Hamas di Doha

bendera Qatar (unsplash.com/monk333)

Sheikh Mohammed membantah tuduhan bahwa bantuan kemanusiaan dari Qatar dipakai untuk membiayai operasi militer Hamas. Ia menyatakan penyaluran dana bantuan ke Jalur Gaza dilakukan atas persetujuan Israel serta berkoordinasi dengan AS dan PBB.

Qatar mengirimkan bantuan senilai 30 juta dolar AS (sekitar Rp536 miliar) per bulan untuk membantu warga Gaza. Dana itu dialokasikan sebesar 15 juta dolar AS (Rp268 miliar) untuk membeli bahan bakar pembangkit listrik langsung dari Israel, 10 juta dolar AS (sekitar Rp178 miliar) untuk 100 ribu keluarga miskin, dan 5 juta dolar AS untuk gaji pegawai sipil (sekitar Rp89 miliar). Semua daftar penerima dana tersebut diperiksa dan disetujui lebih dulu oleh badan intelijen Israel.

Keberadaan kantor biro politik Hamas di Doha juga dijelaskan memiliki alasan diplomatik. Sheikh Mohammed menegaskan pembukaan kantor itu dilakukan atas permintaan pemerintah AS guna menjaga jalur komunikasi.

Sebelumnya, mantan PM Israel Naftali Bennett menuduh Qatar ikut mendanai pembunuhan warga Yahudi dan menuntut pengusiran seluruh perwakilan Doha. Sheikh Mohammed menegaskan Qatar tidak pernah menjadi musuh dan seluruh bantuan kemanusiaan selalu diawasi secara ketat.

3. Tiga usulan damai yang diajukan Qatar

kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Terkait konflik yang melibatkan Iran, Sheikh Mohammed menawarkan tiga poin penting untuk mengakhiri perang. Poin pertama adalah penyelesaian sengketa program nuklir Iran agar negara tersebut memiliki hak nuklir sipil, sembari mencabut sanksi ekonomi dengan pengawasan ketat dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Poin kedua menuntut pemulihan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz sesuai hukum internasional. Poin ketiga mengharuskan pembaruan sistem keamanan bersama antara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan Iran berdasarkan prinsip nonagresi dan nonintervensi.

"Diplomasi tertutup adalah cara paling efektif menurut pandangan kami untuk mencapai kemajuan," ujar Sheikh Mohammed, dilansir The Jerusalem Post.

Perang ini juga memberi dampak ekonomi yang nyata bagi Qatar akibat terganggunya jalur kapal tanker di Selat Hormuz. Pertumbuhan ekonomi Qatar terkontraksi hingga delapan persen dan sektor pariwisata anjlok hingga 80 persen. Selain membuat 60 persen kamar hotel kosong, konflik regional ini diperkirakan memicu kerugian pendapatan negara sekitar 24 miliar dolar AS (sekitar Rp428 triliun).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article