Qatar Tolak Tuduhan Netanyahu soal Kampanye Opini Publik di PBB

- Qatar menolak tuduhan Benjamin Netanyahu di PBB bahwa Doha menjalankan kampanye memengaruhi opini global terhadap Israel, menyebutnya sebagai pengalihan perhatian dari krisis Palestina.
- Juru bicara Qatar Majed al-Ansari menilai kritik internasional, terutama dari generasi muda, terbentuk dari informasi yang mereka saksikan langsung, bukan kampanye pengaruh terorganisasi.
- Wakil Duta Besar Qatar Hamad al-Muftah membantah tudingan pendanaan universitas AS untuk indoktrinasi dan menegaskan peran Doha sebagai mediator komunikasi regional.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Qatar menolak tuduhan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut negara itu mengoperasikan kampanye untuk memengaruhi opini publik global melawan Israel. Netanyahu melontarkan tudingan tersebut saat berpidato di hadapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Doha menilai tuduhan pemimpin Israel tersebut sebagai upaya mengalihkan perhatian internasional dari kejahatan dan krisis kemanusiaan di wilayah pendudukan Palestina. Selain membantah klaim manipulasi opini, diplomat Qatar juga meluruskan peran mediasi Qatar dalam perundingan regional.
1. Bantahan kementerian luar negeri Qatar atas tuduhan Israel

bendera Qatar (unsplash.com/Nesnin Shamsheer) Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari membantah tuduhan kampanye opini publik yang dilontarkan Netanyahu di podium PBB. Dia menegaskan bahwa retorika Israel yang terus menyerang Qatar merupakan upaya mengalihkan perhatian dari kejahatan di wilayah pendudukan Palestina.
Sebagaimana dilansir TRT World, al-Ansari menyatakan serangan verbal tersebut murni bertujuan menutupi kondisi nyata di Palestina. "Kami dengan tegas menolak tuduhan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Negara Qatar sedang menjalankan kampanye untuk memengaruhi opini publik terhadap Israel," tegas al-Ansari dalam pernyataan resminya pada Kamis (24/9/2026).
Al-Ansari menambahkan bahwa Israel harus bertanggung jawab atas tindakannya sendiri di wilayah pendudukan. Dia mendesak pemerintah Israel untuk mengubah kebijakan mereka serta menghormati ketentuan hukum internasional daripada terus melemparkan kesalahan kepada pihak luar.
2. Respons terkait pergeseran opini generasi muda dunia

ilustrasi generasi muda (unsplash.com/Vullnet Ademaj) Qatar turut menepis anggapan bahwa kritik global terhadap Israel timbul akibat kampanye pengaruh terorganisasi. Al-Ansari menilai pandangan kritis masyarakat internasional, terutama dari kalangan generasi muda, terbentuk dari apa yang mereka saksikan sendiri di lapangan.
Menurut al-Ansari, meremehkan perubahan pandangan anak muda merupakan bentuk penghinaan terhadap kesadaran generasi saat ini. "Mereduksi pergeseran yang terus tumbuh dalam opini publik global, terutama di kalangan generasi muda, menjadi tuduhan 'kampanye pengaruh' adalah penghinaan terhadap kesadaran dan pertimbangan generasi yang menyaksikan, secara real time dan di depan seluruh dunia, apa yang terjadi di lapangan dan membentuk pandangan mereka berdasarkan hal itu," ujar al-Ansari.
Dia juga menggarisbawahi bahwa upaya menyalahkan aktor luar sudah tidak lagi dapat meyakinkan masyarakat internasional. Jika para politisi Israel ingin memperbaiki citra negara mereka di mata global, fokus utama harus diarahkan pada perubahan kebijakan pemerintah, bukan pada pihak lain.
3. Klarifikasi dana universitas dan peran mediasi Doha

ilustrasi universitas (unsplash.com/Dom Fou) Wakil Duta Besar Qatar untuk Amerika Serikat Hamad al-Muftah turut memberikan tanggapan melalui akun X-nya setelah Netanyahu menuding Doha mendanai universitas AS untuk mencuci otak anak-anak muda agar membenci Israel. Al-Muftah menjelaskan bahwa dana yang dilaporkan itu dipakai guna mendukung operasional kampus cabang universitas AS di Education City yang berada di Doha.
Dilansir The Times of Israel, al-Muftah menegaskan bahwa universitas-universitas tersebut tetap bertanggung jawab secara akademik atas program mereka; Qatar tidak mendikte apa yang terjadi di kampus AS mereka. "Menyalahkan Qatar atas kegagalan politik tidak akan mengubah fakta," tulis al-Muftah dalam unggahannya.
Al-Muftah juga menjawab tudingan terkait keberadaan perwakilan Hamas di Doha dengan mengingatkan posisi strategis negaranya sebagai saluran komunikasi dan mediator dalam perundingan yang melibatkan Israel, Hamas, AS, dan Mesir. Dia mengingatkan bahwa para pejabat AS telah berulang kali menyebut fungsi mediasi Qatar penting atau tidak tergantikan.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















