Qatar Sebut Netanyahu Sengaja Hambat Perdamaian di Gaza demi Politik

- PM Qatar Sheikh Mohammed Al-Thani menuduh Benjamin Netanyahu sengaja menghambat perdamaian Gaza demi keuntungan politik dan peluang terpilih kembali pada pemilu Israel Oktober.
- Al-Thani menilai gencatan senjata Israel-Hamas yang dicapai Oktober 2025 tidak efektif karena Israel tetap menyerang Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.
- Menurut Al-Thani, IDF telah menguasai lebih dari 70 persen Gaza; serangan berlanjut dengan total korban sejak Oktober 2023 hampir 74 ribu tewas dan 175 ribu luka.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Qatar menyebut Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, sengaja menghambat upaya perdamaian di Gaza demi keuntungan politik. Sebab, agresi Israel di Gaza akan membuat para pejabat Israel percaya terhadap kinerja Netanyahu sehingga ia bisa terpilih lagi menjadi PM di pemilihan umum pada Oktober.
“Ini semua hanya untuk keuntungan satu orang, yakni Perdana Menteri (Israel) dan pemerintah sayap kanannya. Hanya itu intinya,” kata PM Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, dalam wawancara bersama jurnalis CNN, Christiane Amanpour, Sabtu (26/9/2026), seperti dikutip Jerusalem Post.
1. Al-Thani menyebut gencatan senjata di Gaza sia-sia

ilustrasi gencatan senjata Israel di Gaza (unsplash.com/Brett Wharton) Al-Thani lantas menyebut upaya gencatan senjata di Gaza antara Israel dan Hamas yang sudah dicapai pada Oktober 2025 lalu sia-sia. Sebab, meski sudah gencatan senjata, Israel hingga kini masih menyerang Gaza dan wilayah Palestina lainnya, seperti Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Al-Thani menyebut Netanyahu memang tidak mau berkomitmen terhadap gencatan senjata. Padahal, Qatar yang berperan sebagai mediator selama ini sudah susah payah mendorong Israel untuk mencapai gencatan senjata dengan Hamas agar perang bisa mereda.
2. Al-Thani menyoroti gempuran Israel di Gaza

Sebuah bangunan di Jalur Gaza hancur akibat serangan Israel. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim) Al-Thani juga menyoroti aksi Israel yang terus menggempur Gaza. Ia mengatakan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kini sudah menguasai 70 persen wilayah Gaza. Menurutnya, IDF tidak akan berhenti menggempur Gaza sampai mereka berhasil menguasai wilayah tersebut 100 persen. Sebab, itu memang sudah menjadi misi utama Netanyahu.
“Mereka (Israel) sekarang menduduki lebih dari 70 persen wilayah tersebut (Gaza). Alih-alih mundur, mereka terus melakukan pembunuhan dan menargetkan penduduk di sana sementara perjanjian ini menyerukan gencatan senjata,” lanjut Al-Thani.
3. Israel masih terus menyerang Gaza

potret Gaza yang hancur diserang Israel (unsplash.com/Emad El Byed) Hingga saat ini, Israel masih terus menyerang Gaza. Pada Jumat (25/9/2026) lalu, misalnya, IDF menyerang Gaza hingga menewaskan 2 orang dan melukai 4 lainnya.
Berdasarkan data terbaru dari Anadolu Agency, sejauh ini, korban tewas imbas serangan Israel di Gaza sejak Oktober 2023 lalu sudah tembus hampir 74 ribu orang. Sementara itu, korban luka kini sudah mencapai 175 ribu.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















