Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Populasi Uni Eropa Diproyeksikan Menyusut Mulai Tahun 2029
Ilustrasi populasi manusia (Unsplash.com/Oleg Gherlac)
  • Populasi Uni Eropa diproyeksikan mencapai puncak 453,3 juta jiwa pada 2029 sebelum menurun hingga 398,8 juta jiwa pada 2100 akibat rendahnya angka kelahiran dan penuaan warga.
  • Peningkatan usia harapan hidup mendorong lonjakan populasi lansia yang memperbesar beban anggaran kesehatan serta mengancam keberlanjutan sistem pensiun di negara-negara anggota.
  • Komisi Eropa menyoroti pentingnya optimalisasi tenaga kerja lokal melalui peningkatan partisipasi perempuan, pemanfaatan AI, dan pengelolaan migrasi untuk mengatasi kekurangan pekerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Komisi Eropa resmi merilis laporan terbaru mengenai transformasi demografi yang memproyeksikan penyusutan jumlah penduduk di kawasan Uni Eropa pada Selasa (14/7/2026). Laporan yang disusun oleh Pusat Penelitian Bersama ini menggarisbawahi tantangan besar yang akan dihadapi Uni Eropa dalam beberapa dekade mendatang.

Secara umum, populasi di kawasan dengan 27 negara anggota tersebut diperkirakan akan mencapai puncaknya terlebih dahulu sebelum mengalami penurunan jangka panjang. Fenomena penuaan warga serta penurunan angka kelahiran menjadi pendorong utama dari pergeseran struktur sosial yang terjadi.

1. Proyeksi penurunan populasi Uni Eropa jangka panjang

Bendera Uni Eropa. (unsplash.com/waldemarbrandt67w)

Berdasarkan data terkini, Uni Eropa memiliki jumlah penduduk sekitar 450,6 juta jiwa yang tercatat pada awal tahun 2025. Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah hingga mencapai puncaknya sebesar 453,3 juta jiwa pada tahun 2029. Setelah melampaui masa tersebut, kawasan ini akan memasuki tren penurunan populasi secara bertahap dalam jangka panjang.

Pada tahun 2100, jumlah penduduk di blok tersebut diproyeksikan merosot tajam hingga menyentuh angka 398,8 juta jiwa. Hal ini merepresentasikan penurunan keseluruhan sebesar 11,7 persen, sebuah tingkat populasi yang terakhir kali dialami oleh Eropa pada 1970-an.

"Kita hidup dalam usia yang lebih panjang dan lebih sehat daripada sebelumnya, yang merupakan salah satu pencapaian terbesar kita. Namun, perubahan demografis sedang membentuk kembali masyarakat, ekonomi, dan pasar tenaga kerja kita," kata Komisioner Eropa untuk Mediterania dan Urusan Demografi, Dubravka Šuica, dilansir dari Channel News Asia.

2. Tantangan penuaan warga terhadap ketenagakerjaan dan anggaran

potret warga Eropa (pexels.com/Son Tung Tran)

Laporan demografi terbaru menunjukkan bahwa peningkatan usia harapan hidup warga Eropa yang mencapai 81,5 tahun pada 2024 mendorong penuaan populasi yang sangat cepat. Pada pertengahan abad ini, proporsi penduduk yang berusia 65 tahun ke atas diperkirakan melonjak hingga mencapai hampir sepertiga dari total populasi. Bahkan, jumlah penduduk berusia 80 tahun ke atas diproyeksikan berlipat ganda menjadi sekitar 13,3 persen pada tahun 2070.

Peningkatan jumlah lansia ini dipastikan akan memicu lonjakan permintaan terhadap layanan kesehatan dan perawatan jangka panjang. Anggaran belanja publik untuk pemeliharaan lansia diproyeksikan merangkak naik dari 1,7 persen produk domestik bruto pada 2025 menjadi 2,5 persen pada 2070. Selain membebani anggaran belanja negara, fenomena ini juga mengancam keberlanjutan sistem dana pensiun di berbagai negara anggota.

"Demografi bukan lagi masalah yang berdiri sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari setiap keputusan kebijakan utama kita," ujar Dubravka Šuica.

3. Optimalisasi tenaga kerja lokal

ilustrasi Spanyol, Eropa (pexels.com/TBD Traveller)

Penurunan angka kelahiran yang konsisten sejak era 1960-an telah menyebabkan penyusutan drastis pada jumlah angkatan kerja aktif di Eropa. Tingkat kesuburan di Uni Eropa tercatat hanya sebesar 1,34 anak per perempuan pada tahun 2024, jauh di bawah batas pergantian stabil sebesar 2,1 anak. Kondisi ini memicu kelangkaan tenaga kerja yang masif di berbagai sektor industri penting seperti logistik, manufaktur, dan kesehatan.

Sebagai langkah taktis, Komisi Eropa menyarankan optimalisasi tenaga kerja lokal dengan menarik kembali kelompok masyarakat yang berada di luar pasar kerja. Saat ini terdapat sekitar 20 persen penduduk usia produktif yang belum aktif bekerja, ditambah dengan 8 juta pemuda yang tidak menempuh pendidikan ataupun pelatihan. Peningkatan partisipasi pekerja perempuan dan pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi instrumen utama untuk mendongkrak produktivitas kawasan.

"Migrasi yang dikelola dengan baik dapat menjadi bagian penting dari solusi, dengan membawa pekerja ke tempat yang paling mereka butuhkan," kata Dubravka Šuica, dilansir dari EU News.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article