Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Qatar Bantah Tuduhan Campur Tangan dalam Pemilu Parlemen Israel
bendera Qatar (unsplash.com/monk333)
  • Qatar membantah tuduhan mendanai atau mencampuri pemilu Israel, menyebutnya disinformasi dan menegaskan tidak terlibat dalam perselisihan politik domestik Israel.
  • Likud dan sejumlah pejabat sayap kanan menuduh dana Qatar memengaruhi suara partai Arab, tetapi polisi Israel tidak menemukan bukti intelijen atau investigasi pendukung.
  • Koalisi Netanyahu hanya meraih 53 kursi, sementara 19 kursi partai Arab menjadi penentu negosiasi; oposisi menilai tudingan itu upaya mendiskreditkan hasil pemilu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri Qatar membantah tuduhan campur tangan atau pendanaan untuk memengaruhi hasil pemilu parlemen Israel pada Kamis (29/10/2026). Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, menilai sejumlah politisi dan media Israel sengaja menyeret Doha ke dalam perselisihan politik domestik mereka. Tudingan ini mencuat setelah pemungutan suara pada Selasa tidak menghasilkan pemenang mayoritas di parlemen Israel (Knesset).

Partai Likud pimpinan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bersama media afiliasinya menuduh Qatar mengalirkan dana kepada partai-partai Arab di Israel tanpa bukti. Dana tersebut diklaim untuk membiayai penggalangan suara pemilih Arab pada hari pemungutan suara. Tuduhan ini menyusul keberhasilan aliansi partai Palestina-Arab meraih rekor 19 kursi dari total 120 kursi Knesset.

1. Qatar menolak dijadikan kambing hitam kegagalan politisi Israel

PM Israel Benjamin Netanyahu (U.S. Department of State from United States, Public domain, via Wikimedia Commons)

Al-Ansari menyebut tudingan intervensi tersebut sebagai kampanye disinformasi baru yang konyol dan berbahaya. Ia menyoroti kontradiksi klaim politisi Israel yang menuduh Doha membeli loyalitas Netanyahu, mendanai sayap kiri Israel, hingga memengaruhi pemilih Arab. Tuduhan berlapis itu seolah menggambarkan Qatar mengendalikan seluruh lanskap politik Israel.

Kalangan politik dan media Israel dinilai menunjukkan obsesi berlebihan terhadap Qatar. Al-Ansari menyarankan para politisi Israel fokus pada pemilih mereka sendiri, meningkatkan taraf hidup warga, dan memperbaiki kerusakan yang mereka ciptakan di kawasan. Ia menegaskan Doha sama sekali tidak terlibat atau tertarik pada persaingan pemilu Israel.

"Qatar bukanlah kambing hitam atas kegagalan politik sejumlah politisi Israel. Ini adalah urusan internal Israel yang tidak kami campuri, dan kami tidak akan menerima upaya apa pun untuk menyeret Qatar ke dalam perselisihan politik domestik ini," ujar Al-Ansari, dilansir Al Jazeera.

Tuduhan ini menambah daftar perselisihan Israel dengan Qatar sejak serangan 7 Oktober 2023. Sebelumnya, Netanyahu juga pernah menyombongkan serangan terhadap Qatar pada September 2025 di tengah perang Gaza. Meski terus diserang tuduhan, Al-Ansari memastikan komitmen Qatar sebagai mediator konflik kawasan, pendukung rakyat Palestina, dan penyalur bantuan kemanusiaan tidak akan terganggu.

2. Sayap kanan Israel tuntut penangkapan pemimpin partai Arab

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. (DedaSasha, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons)

Sejumlah pejabat sayap kanan Israel mendesak penyelidikan atas lonjakan perolehan kursi aliansi Joint List dan United Arab List (Ra'am). Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, meminta badan intelijen domestik Shin Bet menangkap para pemimpin partai Palestina atas dugaan aliran dana Qatar. Hal senada juga digaungkan Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang menilai adanya upaya manipulasi hasil pemilu.

Partai Likud menjuluki dugaan skandal ini sebagai "Ra'am-gate" dan menyebutnya guncangan politik besar. Mereka mengklaim pemilu telah dicuri melalui suap kepada pemilih demi mengislamkan Israel dan menjatuhkan pemerintahan sayap kanan. Ketua Komite Pemilihan Pusat (CEC), Hakim Noam Sohlberg, sempat meminta Shin Bet menyelidiki dugaan intervensi asing dari Qatar dan Turki tersebut.

Namun, Kepolisian Israel menyatakan tidak memiliki informasi intelijen maupun temuan investigasi yang mendukung tuduhan Likud. Sementara itu, Shin Bet menegaskan bahwa penyelidikan mereka tidak menyasar komunitas pemilih sah.

"Pemilu Knesset telah dilaksanakan sesuai hukum. Integritas pemilu di tempat pemungutan suara dijaga dengan ketat," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal CEC, Dean Livne.

3. Oposisi tuding Netanyahu berupaya batalkan legitimasi hasil pemilu

mantan kepala militer Israel, Gadi Eisenkot (Chairman of the Joint Chiefs of Staff from Washington D.C, United States, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Hasil akhir pemilu menempatkan masa depan koalisi Netanyahu dalam ketidakpastian karena hanya meraih 53 kursi, kurang delapan kursi dari syarat mayoritas parlemen. Blok oposisi pimpinan mantan panglima militer Gadi Eisenkot mengantongi 48 kursi di Knesset. Perolehan rekor 19 kursi oleh partai-partai Arab menempatkan mereka sebagai penentu utama dalam negosiasi pembentukan koalisi pemerintahan baru.

Eisenkot beserta para pemimpin partai Arab mengecam tudingan intervensi asing yang dilontarkan kubu Netanyahu. Kritikus menilai manuver Likud bertujuan mendiskreditkan partai Arab agar Eisenkot tidak bisa berkoalisi dengan mereka untuk merebut kekuasaan. Padahal, jajak pendapat Universitas Ibrani menunjukkan mayoritas pemilih oposisi mendukung Eisenkot membentuk pemerintahan minoritas bersama partai Arab.

"Pihak yang kalah sedang merangkai fitnah keji yang rasis dan mendesak aparat keamanan menggunakan kekerasan guna membatalkan hasil pemilu," tutur Ketua Partai Balad yang tergabung dalam Joint List, Sami Abu Shehadeh, dilansir BBC.

Serangan Netanyahu terhadap pemilih Arab telah berlangsung berhari-hari hingga hari pemungutan suara. Ia mengunggah gambar buatan akal imitasi (AI) yang menampilkan pemilih Arab di tempat pemungutan suara dan menyebut tingginya partisipasi mereka sebagai kondisi darurat bagi sayap kanan. Warga Arab-Israel yang mencakup seperlima populasi negara itu selama bertahun-tahun memboikot pemilu, tetapi kini berbondong-bondong memilih demi mendepak koalisi sayap kanan Netanyahu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article