Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siswa Iran Demo Protes Kebijakan Pendidikan
ilustrasi demo (unsplash.com/Clay Banks)
  • Ribuan siswa dan mahasiswa di 20 kota Iran menggelar demo menentang kebijakan pendidikan baru, terutama perubahan sistem ujian masuk universitas negeri.
  • Sebanyak 75 mahasiswa Shahid Sadoughi Technical University dilaporkan keracunan akibat program makan bergizi gratis yang dinilai buruk pelaksanaannya oleh pemerintah.
  • Mahasiswa juga memprotes aturan kampus yang menghukum aktivitas digital, sementara pemerintah tetap fokus pada negosiasi perdamaian dengan Amerika Serikat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Siswa sekolah dan siswa universitas di Iran dilaporkan ramai-ramai menggelar demo untuk memprotes kebijakan pendidikan pemerintah. Demo tersebut sudah terjadi selama beberapa hari terakhir, termasuk pada Sabtu (6/6/2026). Namun, tidak disebutkan berapa jumlah siswa yang terlibat demo tersebut.

Aksi demo dikabarkan terjadi di 20 kota di Iran, termasuk Teheran, Kermanshah, Rasht, Shiraz, Khorramabad, Arak, Mashhad, Tabriz, Sari, Qom, Ahvaz, Dorud, Borujerd, dan Birjand. Salah satu kebijakan pendidikan yang diprotes dalam demo ini adalah perubahan sistem ujian masuk universitas negeri.

1. Siswa sekolah Iran minta pemerintah membatalkan perubahan sistem tes masuk kampus

ilustrasi tes masuk universitas (pexels.com/Andy Barbour)

Siswa sekolah di Iran mendesak pemerintah untuk membatalkan kebijakan di mana nilai kelas 11 SMA menjadi tolok ukur utama dalam penilaian masuk kampus negeri. Sebab, mereka menilai sistem itu tidak adil dan berpotensi merugikan banyak siswa. 

Kebijakan pendidikan lain yang menuai protes adalah makan bergizi gratis (MBG) untuk mahasiswa. Salah satu protes datang dari para mahasiswa di Shahid Sadoughi Technical University. Mereka menilai kebijakan MBG untuk mahasiswa dari pemerintah Iran tidak dijalankan dengan benar. Sebab, ada banyak mahasiswa yang keracunan usai memakan makanan subsidi yang diberikan pemerintah. 

2. Ada 75 mahasiswa yang masuk rumah sakit gara-gara keracunan MBG

ilustrasi dirawat di rumah sakit (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Mahasiswa Shahid Sadoughi Technical University menjelaskan, ada 75 rekan mereka yang masuk rumah sakit karena keracunan MBG. Oleh karena itu, mereka mendesak Pemerintah Iran untuk memperhatikan kualitas bahan makanan yang diberikan kepada mahasiswa. Langkah ini bertujuan agar kasus keracunan makanan tidak terulang kembali di kemudian hari. 

Namun, alih-alih mendengarkan, protes tersebut justru mendapat respons kurang baik dari pihak universitas. Rektor Shahid Sadoughi Technical University yang tidak disebut namanya malah menyarankan mahasiswa untuk makan saja di restoran mewah jika tidak suka makanan gratis yang diberikan pemerintah. Sebab, pemerintah sudah menggelontorkan dana jumbo untuk menjalankan program tersebut.

3. Mahasiswa memprotes kebijakan pendidikan soal dunia digital

ilustrasi media sosial (pexels.com/Bastian Riccardi)

Selain kebijakan MBG, mahasiswa Iran juga memprotes kebijakan pendidikan yang berkaitan dengan dunia digital. Jadi, Iran menerapkan kebijakan di mana mahasiswa yang kedapatan melakukan aktivitas di dunia maya akan diskors atau dikeluarkan dari kampus. Menurut mahasiswa Iran, kebijakan ini tidak masuk akal. Sebab, belum tentu semua mahasiswa yang beraktivitas di dunia maya melakukan hal-hal di luar koridor kebaikan.

Kendati sudah banyak menuai protes, Pemerintah Iran dikabarkan tetap tidak bergeming. Sebab, mereka kini sedang fokus menyelesaikan upaya perdamaian dengan Amerika Serikat. Negosiasi damai kedua negara kini juga sedang berlangsung. Iran saat ini sedang meninjau proposal perdamaian baru yang dikirim oleh AS. Presiden AS, Donald Trump, mengatakan, kesepakatan damai dengan Iran kian dekat usai proposal tersebut dikirim.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article