Korsel Peringkat Kedua Paspor Terkuat di Dunia, Bebas Visa ke 188 Destinasi

- Paspor Korea Selatan menempati peringkat kedua Henley Passport Index 2026 bersama Jepang dan UEA, dengan akses bebas visa atau visa saat kedatangan ke 188 destinasi.
- Singapura berada di posisi pertama dengan akses ke 192 destinasi, sedangkan AS turun ke peringkat ke-10 dengan 180 destinasi; Afghanistan terakhir dengan 22 destinasi.
- Korea Selatan menerima 10,7 juta wisatawan internasional pada Januari-Juni 2026, naik 21,3 persen tahunan, dengan China sebagai pasar terbesar berjumlah 3,21 juta pengunjung.
Jakarta, IDN Times - Paspor Korea Selatan (Korsel) kembali membuktikan kekuatan dan pengaruhnya dalam mobilitas global. Menurut laporan The Henley Passport Index edisi peringatan 20 tahun yang dirilis pada 21 Januari 2026, warga negara Korsel kini dapat memasuki 188 destinasi tanpa visa atau dengan fasilitas visa saat kedatangan (visa-on-arrival/VoA).
Capaian dalam kemudahan perjalanan internasional tersebut menempatkan Korsel di peringkat kedua dunia dalam hal kekuatan paspor. Negara ini berbagi posisi dengan Jepang dan Uni Emirat Arab (UEA) yang juga mencatatkan skor serupa, dilansir Korea JoongAng Daily.
1. Paspor AS tidak lagi termasuk yang paling kuat

Peringkat pertama global diduduki oleh Singapura. Warga negara mereka menikmati akses bebas visa atau visa saat kedatangan ke 192 destinasi di seluruh dunia. Sejak indeks pertama kali diterbitkan pada 2006, jumlah destinasi bebas visa bagi pemegang Korsel bertambah 73 destinasi. Dalam periode yang sama, Jepang menambah 60 destinasi, sementara UEA mencatat peningkatan terbesar dengan tambahan 153 destinasi.
Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) terus mengalami penurunan peringkat, setelah sempat menduduki peringkat pertama saat indeks pertama kali diluncurkan pada 2006. Kini, AS harus puas turun peringkat ke-10 dengan akses ke 180 destinasi.
Henley & Partners menilai penurunan tersebut antara lain dipengaruhi belum adanya akses bebas visa bagi warga AS ke China, berbeda dengan sejumlah negara maju lainnya. Dengan memperhitungkan negara-negara yang berbagi peringkat, posisi efektif Washington kini berada di urutan ke-37.
Media internasional, termasuk CNN, menyebut hasil indeks ini mencerminkan melemahnya kekuatan paspor AS dibandingkan dua dekade lalu. Indeks tersebut mengukur kebebasan perjalanan berdasarkan jumlah destinasi yang dapat diakses tanpa visa atau melalui VoA, Chosun Biz melaporkan.
2. Afghanistan berada di peringkat terakhir

Afghanistan berada di peringkat terakhir dengan akses hanya ke 22 destinasi. Korea Utara berada di peringkat ke-97 dengan akses ke 35 destinasi. Pyongyang dikelompokkan bersama Nepal, Somalia, Yaman, dan Suriah sebagai negara dengan kekuatan paspor terlemah di dunia.
Laporan tersebut juga menemukan adanya hubungan antara kekuatan paspor dan tingkat perdamaian suatu negara berdasarkan Global Peace Index. Meski demikian, hubungan tersebut tidak selalu bersifat mutlak. Beberapa negara, seperti AS dan Israel, tetap memiliki paspor yang relatif kuat meskipun mencatat peringkat perdamaian yang rendah akibat konflik yang sedang berlangsung.
3. Lonjakan turis asing ke Korsel tembus 10,7 juta pengunjung pada semester pertama 2026

Tidak hanya menjadi negara dengan paspor terkuat kedua di dunia, kini sektor pariwisata Korsel pun mencatat lonjakan turis asing. Ini setelah Organisasi Pariwisata Korea (KTO) melaporkan kunjungan 10,7 juta wisatawan internasional sepanjang Januari-Juni 2026. Angka tersebut melonjak 21,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (8,8 juta kunjungan), sekaligus melampaui level pra-pandemik COVID-19 paruh pertama 2019 sebesar 26,9 persen. Hal ini menandai pemulihan penuh dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
China tetap menjadi sumber wisatawan terbesar dengan 3,21 juta pengunjung, disusul Jepang (1,95 juta), Taiwan (1,15 juta), AS (810 ribu), dan Filipina (360 ribu). Lonjakan paling signifikan dicatatkan oleh pasar Taiwan dan AS, yang masing-masing meningkat 188,4 persen dan 168,6 persen, jika dibandingkan dengan pencapaian pada paruh pertama tahun 2019.
Jumlah tersebut memperkuat optimisme pemerintah Negeri Ginseng untuk menanggapi target ambisius menarik 22-23 juta turis asing tahun ini. Para pejabat berharap tren positif akan berlanjut pada paruh kedua. Pencapaian ini didorong oleh perpanjangan kebijkaan bebas visa bagi grup turis China, musim liburan musim panas, serta ekspansi penerbangan internasional langsung ke berbagai bandara regional, dilansir Korea Herald.





















