Jakarta, IDN Times - Iran dan Israel kembali saling serang. Aksi ini mengancam proses gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang kini masih berlangsung. Padahal, Iran dan AS kini sedang melanjutkan negosiasi agar gencatan senjata bisa berubah menjadi kesepakatan damai jangka panjang.
Iran-Israel Saling Serang Lagi, Gencatan Senjata Terancam

- Iran meluncurkan rudal ke Israel utara sebagai balasan atas serangan Israel ke Beirut, yang sebelumnya ditujukan kepada Hizbullah.
- Israel membalas dengan serangan rudal balistik ke wilayah barat dan tengah Iran, menegaskan siap menyerang kapan pun jika diserang kembali.
- Presiden AS Donald Trump sempat memperingatkan Netanyahu agar tidak membalas Iran demi menjaga gencatan senjata, namun peringatan itu diabaikan.
Serangan perdana dimulai oleh Iran pada Minggu (7/6/2026) malam waktu setempat. Kala itu, Iran menghujani wilayah Israel utara dengan rudal. Alarm bahaya meraung di seluruh penjuru kota saat serangan terjadi. Otoritas setempat langsung meminta warga waspada terhadap serangan lanjutan.
1. Serangan Iran merupakan balasan karena Israel menyerang Beirut

Iran menjelaskan, serangan tadi merupakan balasan terhadap Israel. Sebab, beberapa jam sebelumnya, Israel telah lebih dulu menyerang Kota Beirut, Lebanon. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan, serangan itu merupakan balasan terhadap Hizbullah karena mereka telah menyerang pasukan Israel.
Sebetulnya, Netanyahu sudah memberi peringatan soal serangan ke Beirut. Dalam sebuah unggahan di X pada Selasa (2/6/2026) pekan lalu, ia mengancam akan menyerang Beirut jika Hizbullah menyerang Israel. "Jika Hizbullah tidak berhenti menyerang kota-kota dan warga negara kita, Israel akan menyerang target teror di Beirut," kata Netanyahu.
2. Israel membalas serangan yang dilakukan Iran

Menanggapi serangan Iran, Israel tentu tidak mau tinggal diam. Israel melakukan serangan balasan ke wilayah Iran bagian barat dan tengah pada Senin (8/6/2026) pagi waktu setempat. Menurut keterangan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Israel melakukan serangan menggunakan rudal balistik.
Pasukan militer Israel (IDF) menegaskan tidak akan segan-segan membalas serangan Iran kapan pun dan di mana pun. Sebab, IDF mengatakan tidak akan membiarkan warga Israel jadi korban serangan yang dilakukan Iran.
3. Donald Trump sudah mewanti-wanti Netanyahu jangan balas serangan Iran

Presiden AS, Donald Trump, sebetulnya sudah mewanti-wanti Netanyahu untuk jangan membalas serangan Iran. Sebab, aksi tersebut bisa mengganggu proses gencatan senjata yang sedang berlangsung. Namun, Netanyahu tidak menggubris peringatan tersebut. Ia langsung meminta IDF untuk meluncurkan serangan balasan terhadap Iran.
"Saya rasa, tidak ada ancaman serangan Israel yang akan segera terjadi. Israel sudah memberikan respons yang cukup, tidak perlu lebih banyak lagi. Saya tidak ingin hal ini menjadi besar karena apa yang terjadi sekarang. Jika Netanyahu membalas, itu hanya akan terus berlanjut seperti 47 tahun terakhir atau 3.000 tahun terakhir," jelas Trump.

















