Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Situasi Memanas, Chad Tutup Wilayah Perbatasan dengan Sudan
ilustrasi wilayah perbatasan Chad dan Sudan (pexels.com/Lara Jameson)
  • Pemerintah Chad resmi menutup perbatasan dengan Sudan setelah bentrokan di Kota Tina yang menewaskan lima pasukan Chad dan tiga warga sipil Sudan.
  • Penutupan dilakukan tanpa batas waktu untuk mencegah penyebaran konflik Sudan ke wilayah Chad serta menjaga keamanan dan stabilitas nasional.
  • Konflik di Sudan sendiri telah berlangsung sejak 2023 antara SAF dan RSF, dengan eskalasi brutal termasuk serangan genosida di El-Fasher pada Oktober 2025.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Chad memutuskan untuk menutup wilayah perbatasan dengan Sudan pada Senin (23/2/2026). Langkah ini diambil menyusul bentrokan yang terjadi di wilayah tersebut pada Sabtu (21/2/2026).

Menurut seorang pejabat Chad yang tidak disebut namanya, bentrokan tersebut terjadi antara pasukan Rapid Support Forces (RSF) dan kelompok milisi pro-Pemerintah Sudan di Kota Tina. Tina sendiri adalah sebuah kota di Sudan yang berbatasan langsung dengan Chad. 

Bentrokan tersebut dikabarkan menewaskan lima pasukan Chad yang sedang berjaga di wilayah perbatasan. Selain itu, bentrokan tersebut juga menewaskan 3 warga sipil Sudan dan melukai 12 warga lainnya.

1. Penutupan akan dilakukan sampai pemberitahuan selanjutnya

ilustrasi wilayah perbatasan (pexels.com/Ali Alcantara)

Dalam pernyataannya, Pemerintah Chad mengatakan, penutupan wilayah perbatasan dengan Sudan akan dilakukan sampai pemberitahuan berikutnya. Langkah ini bertujuan untuk mencegah agar konflik yang sedang terjadi di Sudan tidak menyebar ke wilayah Chad.

Jika sudah dinyatakan aman, Chad akan membuka kembali wilayah tersebut. Namun, jika belum, Chad akan tetap menutup wilayah perbatasan dengan Sudan sampai situasi kembali normal. 

“Langkah ini bertujuan untuk mencegah risiko penyebaran konflik ke wilayah kita, untuk melindungi warga negara dan pengungsi kita, serta untuk menjamin stabilitas dan integritas wilayah negara kita,” demikian pernyataan Pemerintah Chad, seperti dilansir Al Jazeera.

2. Konflik di Sudan sudah terjadi sejak 2023

ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Duncan Kidd)

Sebagai informasi, Sudan saat ini memang sedang mengalami konflik internal. Konflik tersebut disebabkan oleh perang saudara antara pasukan Pemerintah Sudah (SAF) dan kelompok milisi Rapid Support Forces (RSF). 

Perang saudara antara SAF dan RSF ini pecah di Negara Bagian Darfur pada April 2023 karena perebutan kekuasaan. Saat itu, SAF mendesak RSF untuk bergabung dengan mereka agar menjadi kekuatan militer yang utuh. Namun, RSF menolak dan bersikukuh ingin mengambil alih kekuasaan di Sudan. 

Perang antara SAF dan RSF ini akhirnya menjadi konflik yang mengkhawatirkan di Sudan. Sebab, RSF jadi kerap melakukan serangan brutal kepada warga-warga Sudan yang dianggap pro-pemerintah, terutama yang tinggal di Negara Bagian Darfur. 

3. RSF menyerang Sudan secara brutal pada Oktober 2025

potret bendera RSF (commons.wikimedia.org/MartinKassemJ120)

Perang saudara yang terjadi antara SAF dan RSF di Sudan kini makin memanas. Pada Oktober 2025 lalu, RSF menyerang Kota El-Fasher di Negara Bagian Darfur secara brutal. Tindakan itu dilakukan untuk merebut El-Fasher dari tangan SAF.

Saat itu, RSF menyerang El-Fasher selama tiga hari. Di sana, RSF menembak mati dan memperkosa banyak warga tanpa ampun. Selain itu, mereka juga menghancurkan berbagai fasilitas publik yang ada di kota tersebut.

Menurut laporan NPR, serangan RSF di El-Fasher pada Oktober tahun lalu telah menewaskan lebih dari 6.000 orang. Oleh karena itu, PBB beberapa waktu lalu menetapkan serangan tersebut telah memenuhi ciri-ciri genosida.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team