Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Curhat Warga Usai Harga BBM Naik: Terpaksa Potong Biaya Kebutuhan Dapur

Curhat Warga Usai Harga BBM Naik: Terpaksa Potong Biaya Kebutuhan Dapur
Pantauan Kenaikan Harga BBM di salah satu SPBU di Kota Bogor. IDN Times/Linna Susanti
Intinya Sih

  • Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter membuat warga Bogor mengeluh karena pengeluaran harian meningkat dan daya beli masyarakat menurun.
  • Pengemudi ojek online merasakan dampak langsung dengan biaya operasional membengkak hingga Rp60.000 per hari, sementara pendapatan tidak ikut naik.
  • Pertamina Patra Niaga menjelaskan kenaikan harga BBM non-subsidi disebabkan oleh lonjakan harga minyak dunia dan memastikan pasokan energi tetap aman di seluruh SPBU.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bogor, IDN Times – Masyarakat mulai mengeluh setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik. Beberapa warga di Kota Bogor mengaku terpukul karena pengeluaran harian mereka membengkak.

IDN Times mewawancara sejumlah warga yang mengisi BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor pada Rabu siang (11/6/2026). Masyarakat menengah ke bawah dan pekerja sektor informal merasakan dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi ini. Mereka menilai, kenaikan harga BBM di tengah mahalnya harga bahan pokok membuat kondisi makin sulit.

​1. Konsumen khawatir picu kelangkaan BBM

Warga mengantre untuk mengisi Pertamax di SPBU Kota Bogor setelah kenaikan harga bahan bakar, dengan beberapa pengendara motor menunggu giliran.
Warga antri Pertamax di SPBU Kota Bogor pasca kenaiakn hargaIDN Times/Linna Susanti

Seorang warga yang mengantre isi BBM, Rosita (38), mengaku menggunakan BBM jenis Pertamax atau Ron 92 sebagai bahan bakar kendaraan. Kenaikan harga BBM yang mendadak ini membuatnya terkejut.

Selain harus merogoh kocek lebih dalam buat bensin, Rosita yang mengaku sebagai pekerja biasa harus memutar otak. Apalagi, pendapatannya pas-pasan. Ia terpaksa mengakali pengeluaran lainnya demi membeli bahan bakar.

​"Jujur, saya pasti kaget dengan adanya kenaikan harga BBM ini. Pekerja biasa dengan penghasilan pas-pasan pasti langsung merasakan dampaknya, karena pengeluaran yang kita belanjakan untuk bensin menjadi terasa semakin berat dan mau tidak mau harus memotong biaya untuk kebutuhan dapur." ungkap dia.

​2. Biaya operasional membengkak, pengemudi ojol mengaku tekor

Pengendara motor mengantre untuk mengisi bahan bakar di SPBU Kota Bogor setelah harga pertamax mengalami kenaikan.
Antrian BBM di salah satu SPBU Kota Bogor pasca kenaikan pertamax. IDN Times/Linna Susantu

Kenaikan harga BBM juga menghantam sektor jasa transportasi online. Meski sebagian pengemudi ojek online (ojol) menggunakan BBM subsidi jenis Pertalite, beberapa pengemudi ojol kerap mengisi tangki mereka dengan Pertamax untuk menjaga performa mesin kendaraan.

Kini, BBM jenis Pertamax dibanderol Rp16.250 per liter. Kenaikan harga BBM jenis ini cukup terasa karena sebelumnya dibanderol sekitar Rp12.300 per liter. Alhasil, hal ini mempengaruhi pendapatan bersih pengemudi ojol.

Salah seorang pengemudi, Tajudin (35), mengeluh harga Pertamax naik. Meski sering menggunakan BBM jenis Pertalite, Tajudin sesekali mengisi tangki motornya dengan Pertamax. Alasannya, Tajudin menilai upaya itu bisa menjaga performa dan ketahanan mesin.

​"Sesekali saya beli Pertamax, Kenaikan harga ini jelas menjadi beban tambahan yang cukup berat buat kami di lapangan. Terlebih lagi, pendapatan kami kadang tidak menentu dan sering kali tekor di biaya bensin jika terus-menerus mengandalkan Pertamax untuk operasional harian," ucap dia.

Sebelumnya harga BBM nonsubsidi naik, Tajudin mengeluarkan biaya sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu untuk membeli bensin setiap hari. Kini, ia terpaksa merogoh kocek sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari buat membeli bahan bakar.

"Jika pengeluaran bensin terus naik sementara pendapatan harian tidak ikut menyesuaikan, tentu alokasi untuk kebutuhan sehari-hari menjadi semakin menipis," jelas Tajudin.

​3. Alasan resmi penyesuaian harga non-subsidi

Papan informasi harga BBM di SPBU Pertamina menampilkan harga terbaru Pertamax, Pertalite, dan Pertamina Dex setelah kenaikan BBM non-subsidi.
Papan informasi harga BBM Pasca Kenaian BBM non-subsidi Pertamax. IDN Times/Linna Susanti

Sebelumnya, ​Pertamina Patra Niaga resmi mengumumkan kenaikan harga BBM non-subsidi ini pada Selasa (09/06/2026) malam, di mana Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter, dan Pertamax Green 95 (RON 95) melonjak dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun,​ mengungkap formula penetapan regulasi serta komitmen jaminan ketersediaan stok pasokan energi di seluruh daerah.

​"Kebijakan kenaikan harga BBM itu sudah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator. Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green karena perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian. (Pertamina) berjanji untuk memastikan bahwa pasokan kedua jenis BBM tersebut tetap tersedia di seluruh jaringan SPBU Pertamina, " jelas dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta

Related Articles

See More