"Kami meminta akses ke materi yang menjadi dasar sekretariat (PBB) itu sendiri ketika melontarkan tuduhan serius terhadap Federasi Rusia. Sebagai negara anggota yang menjadi sasaran tuduhan tersebut, kami memiliki hak penuh untuk memverifikasi materi tersebut, menilai kredibilitasnya, dan menguji keabsahannya," kata Nebenzia dalam konferensi pers di kantor pusat PBB, New York, Amerika Serikat, Rabu (10/6/2026), seperti dilansir Anadolu Agency.
Rusia Tuduh PBB Bias soal Laporan Perang Ukraina

- Rusia menuduh PBB bersikap bias dalam laporan perang Rusia-Ukraina, karena dianggap selalu membela Ukraina dan menyalahkan Rusia tanpa memberikan akses verifikasi terhadap materi tuduhan.
- Utusan Rusia di PBB, Vassily Nebenzia, menilai PBB tidak berperan aktif dalam penyelesaian konflik dan meminta organisasi itu menjaga netralitas serta transparansi dalam setiap laporannya.
- Perang antara Rusia dan Ukraina masih berlanjut memasuki tahun keempat, dengan serangan terbaru terjadi di Krimea dan upaya perdamaian dari Presiden Zelenskyy ditolak oleh Presiden Putin.
1. Nebenzia menyebut PBB tidak berperan menyelesaikan perang Rusia-Ukraina

Dalam konferensi pers tersebut, Nebenzia juga menyebut PBB sama sekali tidak berperan dalam penyelesaian konflik antara Rusia dan Ukraina. Sebab, ia menilai organisasi tersebut selama ini hanya pasif dan cenderung enggan terlibat dalam upaya perdamaian kedua negara.
"Sekretariat PBB telah menjauhkan diri dari kemungkinan untuk berperan penting dalam menyelesaikan krisis di Ukraina dengan pada dasarnya memihak," jelas Nebenzia soal peran PBB dalam konflik Rusia-Ukraina.
2. Rusia meminta PBB kooperatif

Oleh karena itu, Nebenzia yang mewakili Pemerintah Rusia meminta PBB bersifat kooperatif dalam upaya perdamaian antara negaranya dengan Ukraina. Selain itu, ia juga meminta PBB untuk menjaga netralitas ketika membuat laporan soal perang Rusia-Ukraina. Sebab, bias yang ada di dalam laporan hanya akan menguntungkan salah satu pihak dan membuat situasi jadi makin runyam.
"Kerahasiaan diberlakukan bukan untuk melindungi keadilan, tetapi untuk mencegah pengawasan, dan ini sekali lagi bukanlah ketidakberpihakan. Ini bukan transparansi. Ini bukan administrasi keadilan yang semestinya. Ini adalah perlakuan selektif, ini adalah bias institusional, ini adalah diskriminasi (terhadap Rusia)," ungkap Nebenzia.
3. Perang Rusia dan Ukraina masih berlangsung

Saat ini, perang antara Rusia dan Ukraina masih berlanjut. Sebab, kedua negara masih saling serang. Padahal, pada Februari lalu, perang antara Moskow dan Kyiv sudah genap berjalan empat tahun. Serangan terbaru terjadi pada Rabu. Kala itu, Ukraina menyerang museum sejarah Rusia yang ada di Krimea. Krimea merupakan semenanjung milik Ukraina yang sudah dianeksasi Rusia sejak 2014.
Untuk mengakhiri perang, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, sebetulnya telah mengirim surat ke Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada 4 Mei lalu. Dalam surat itu, ia mengajak Putin bertemu secara langsung untuk membahas perdamaian. Sayangnya, ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Putin. Bahkan, Putin menyebut tindakan Zelenskyy yang mengirim surat secara langsung kepadanya tidak sopan.
“Saya rasa, tidak ada gunanya untuk saat ini. Kami melihat bahwa Amerika Serikat sepenuhnya fokus pada isu Iran dan akan salah jika hanya menunggu sampai perang di Eropa kembali menjadi pusat perhatiannya. Ukraina mengusulkan untuk mengakhiri perang ini melalui keterlibatan langsung antara kami dan Anda (Zelenskyy). Apakah itu cara untuk menciptakan kondisi bagi pertemuan tatap muka atau cara untuk menghindari pertemuan tatap muka? Saya pikir, itu adalah cara kedua,” kata Putin pada 5 Mei dilansir The Hill.


















