Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Drone Hantam Pasar dan RS di Sudan, 31 Orang Tewas

pengungsi Sudan di Chad. (Foreign, Commonwealth & Development Office, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
pengungsi Sudan di Chad. (Foreign, Commonwealth & Development Office, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Serangan udara menghancurkan Pasar Al-Safiya di Kordofan Utara
  • Ledakan menewaskan 28 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan lansia
  • Kelompok advokasi hukum mengecam serangan ini
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gelombang serangan drone atau pesawat nirawak kembali menargetkan warga sipil di dua wilayah terpisah di Sudan pada Minggu (15/2/2026). Insiden mematikan tersebut menghantam sebuah pasar yang ramai di Kordofan Utara dan fasilitas medis di negara bagian Sennar. Total korban jiwa dari kedua lokasi kejadian dilaporkan mencapai 31 orang.

Kelompok pemantau hak asasi manusia dan jaringan medis memverifikasi serangan yang terjadi di tengah memanasnya pertempuran antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Eskalasi penggunaan teknologi udara di zona padat penduduk ini menandai babak baru yang berbahaya bagi keselamatan warga sipil.

1. Tragedi berdarah di Pasar Al-Safiya

tentara Sudan. (pixabay.com/smahel)
tentara Sudan. (pixabay.com/smahel)

Sebuah serangan udara menghancurkan ketenangan di Pasar Al-Safiya, yang terletak di luar kota Sodari, Kordofan Utara. Ledakan terjadi tepat saat aktivitas perdagangan sedang berada di puncaknya pada Minggu. Laporan awal mencatat sebanyak 28 orang tewas di lokasi kejadian akibat hantaman proyektil tersebut.

Wanita, anak-anak, dan lansia menjadi korban utama dalam insiden yang mengguncang wilayah gurun tersebut. Sodari sendiri merupakan titik strategis pertemuan jalur perdagangan yang berjarak sekitar 230 kilometer dari ibu kota negara bagian, El-Obeid.

Kelompok advokasi hukum setempat mengecam keras insiden ini dan menuduh militer Sudan bertanggung jawab atas serangan. Namun, pihak militer membantah tuduhan dan mengklaim pihaknya tidak menargetkan warga sipil.

"Serangan terjadi ketika pasar sedang dipadati warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia. Penggunaan drone berulang kali terhadap area berpenduduk mencerminkan eskalasi yang mengancam keselamatan," tegas kelompok Emergency Lawyers dalam pernyataannya, dilansir Al Jazeera.

2. RSF dituduh serang fasilitas medis di Sennar

pengungsi Sudan di Chad. (Foreign, Commonwealth & Development Office, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)
pengungsi Sudan di Chad. (Foreign, Commonwealth & Development Office, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

Teror udara juga melanda sektor kesehatan di negara bagian Sennar, wilayah tenggara Sudan. Sebuah drone dilaporkan menghantam Rumah Sakit Al-Mazmoum pada Minggu malam waktu setempat. Serangan terhadap fasilitas vital ini menewaskan tiga orang dan melukai tujuh lainnya yang sedang berada di area rumah sakit.

Jaringan Dokter Sudan menuding paramiliter Rapid Support Forces (RSF) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan ini. Salah satu korban luka teridentifikasi sebagai staf medis yang tengah bertugas melayani pasien.

Insiden di Sennar memicu kecaman luas karena melanggar prinsip dasar perlindungan medis dalam zona perang. WHO sebelumnya memperingatkan bahwa sistem kesehatan Sudan kembali terancam akibat serangan ke fasilitas medis.

"Menargetkan fasilitas kesehatan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional yang melarang serangan pada pusat medis," ungkap Jaringan Dokter Sudan, dilansir Anadolu Agency.

3. Perebutan jalur strategis picu krisis

Intensitas serangan drone di wilayah Kordofan berkaitan dengan perebutan jalur logistik utama. Kedua pihak yang bertikai berusaha menguasai koridor timur-barat yang menghubungkan basis RSF di Darfur menuju Khartoum. Kota-kota di sepanjang rute ini menjadi sasaran empuk artileri udara karena nilai strategisnya bagi suplai militer.

Konflik yang meletus sejak April 2023 ini telah membelah negara menjadi dua zona kontrol militer yang terpisah. Puluhan ribu nyawa telah melayang akibat pertempuran darat maupun serangan udara. PBB mencatat perang ini telah memicu krisis pengungsian terbesar di dunia saat ini.

Sekitar 13 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan di wilayah yang lebih aman atau melintasi perbatasan negara. Konflik juga memicu krisis kelaparan massal bagi jutaan warga Sudan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Gabon Blokir Media Sosial akibat Hoaks dan Konten Negatif

19 Feb 2026, 09:09 WIBNews